Petani Kopi Lahat Menghadapi Fluktuasi Harga dengan Strategi Menyimpan Stok
Di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, para petani kopi menghadapi tantangan besar akibat fluktuasi harga yang terus berubah. Hal ini memaksa mereka untuk memilih strategi menahan stok hasil panen agar tidak merugi.
Tantowi, salah satu petani kopi di wilayah tersebut, menjelaskan bahwa tahun lalu harga kopi sempat mencapai Rp 70.000 per kilogram. Pada saat itu, ia memutuskan untuk menjual seluruh hasil panennya karena dinilai sudah cukup menguntungkan. Namun, situasi berbeda terjadi pada tahun ini. Harga kopi robusta turun menjadi sekitar Rp 60.000 per kilogram. Akibatnya, Tantowi memilih untuk menyimpan stok kopi yang dimilikinya.
“Kalau harga lagi turun, kami jual seadanya untuk makan saja. Tapi kalau naik, baru kami lepas banyak,” ujarnya saat ditemui Selasa (5/11/2025). Ia mengatakan bahwa langkah ini dilakukan agar tidak rugi, mengingat harga pupuk dan biaya tenaga kerja juga terus meningkat. “Jika tidak seperti itu kami rugi,” tambahnya.
Peran Pengepul dalam Pasar Kopi
Sementara itu, Very, salah satu pengepul kopi di Lahat, menjelaskan bahwa pada masa puncak panen, produksi kopi yang masuk dan dikirim bisa mencapai 1.000 ton per bulan. Namun, ketika pasar lesu, jumlah pengiriman turun drastis menjadi sekitar 100 ton. Hal ini sangat bergantung pada kondisi pasar dunia.
“Untuk kirim ke eksportir di Lampung, kami ikut harga basis yang ditawarkan. Ada banyak eksportir di sana, kami menyesuaikan permintaan dan harga yang ditawarkan,” ujar Very, yang juga merupakan Mitra Usaha BRI. Ia menjelaskan bahwa laju ekspor kopi dari petani lokal bergantung pada akses permodalan, termasuk dari perbankan.
“Sejauh ini kami solid dengan BRI, mereka banyak membantu terutama untuk akses permodalan. Tanpa itu sulit jalan,” ujarnya. Menurut Very, pembelian kopi dari petani membutuhkan modal besar dan risiko tinggi. “Kami terpaksa menahan stok untuk dijual sampai harga membaik. Jika tidak, kerugian akan selalu ada,” tuturnya.
Pentingnya Hilirisasi dan Ekspor Kopi
Pemilik Kopi Bola Dunia, Rico Subiato atau yang akrab disapa Ko Cuncun, menilai bahwa hilirisasi dan ekspor kopi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga di Sumatera Selatan. “Bila pelabuhan Tanjung Carat di Banyuasin terwujud, harga kopi bisa stabil dan ekonomi daerah bergerak lebih baik,” kata Cuncun.
Ia menjelaskan bahwa pabrik Kopi Bola Dunia sudah berdiri sejak 1978 dan merambah pasar lokal serta nasional. Seluruh biji kopi berasal dari wilayah Sumatera Selatan. “Selain Bola Dunia, kini ada juga merek Bukit Serelo yang lebih premium dan mengangkat nama kopi lokal dari Lahat,” ujarnya.
Dengan adanya upaya-upaya seperti ini, diharapkan para petani kopi dapat lebih stabil dalam menjalankan usahanya meskipun menghadapi tantangan pasar yang tidak menentu.







