Strategi Astra International Menghadapi Persaingan di Sektor Otomotif
PT Astra International Tbk (ASII) telah mengungkapkan strategi mereka dalam menghadapi persaingan bisnis di sektor otomotif, terutama dengan masuknya produsen kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) asal Tiongkok yang semakin berkembang di Indonesia. Persaingan ini, menurut Direktur PT Astra International, Henry Tanoto, adalah hal yang wajar dan justru memberikan manfaat bagi konsumen serta industri otomotif secara keseluruhan.
“Persaingan selalu ada di industri otomotif, dan itu justru bagus untuk konsumen maupun industri itu sendiri,” ujarnya dalam acara Virtual Public Expose yang disaksikan dari Jakarta, Rabu (27/8). Ia menjelaskan bahwa Astra International selalu konsisten dalam menghadapi persaingan dengan terus menyesuaikan diri terhadap kebutuhan pelanggan yang beragam.
Hasilnya, selama hampir 20 tahun terakhir, Astra International mampu mempertahankan pangsa pasar di atas 50 persen. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam memberikan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kebutuhan Pelanggan yang Beragam
Strategi produk Astra International juga berfokus pada kebutuhan pelanggan yang bervariasi. Faktor daya beli yang berbeda antara kota besar, kota kecil, hingga daerah pedesaan menjadi pertimbangan utama. Selain itu, kebutuhan akan paket produk seperti mobil dengan kapasitas penumpang 5 atau 7 orang juga dipertimbangkan.
Henry Tanoto menjelaskan, “Kesiapan infrastruktur di setiap wilayah juga sangat berbeda. Misalnya, di Jakarta, infrastruktur jalan dan fasilitas pengisian daya (charging station) sudah sangat mendukung. Oleh karena itu, penetrasi BEV (Battery Electric Vehicle) di Jakarta mencapai sekitar 10 persen, dengan 90 persen dari angka tersebut terkonsentrasi di kota-kota besar.”
Menurutnya, alasan lainnya adalah daya beli masyarakat di kota besar yang lebih tinggi dan kurang sensitif terhadap harga. Hal ini membuat mereka lebih mudah menerima kendaraan listrik.
Pengembangan Produk yang Sesuai dengan Kebutuhan Pasar
Untuk menghadapi persaingan, Astra International juga terus memperluas lini produknya agar sesuai dengan kebutuhan konsumen. Salah satunya adalah new BZ4X local production, yang akan diperkenalkan tahun ini. Selain itu, pihaknya juga mengembangkan urban cruiser BEV sebagai alternatif lain.
Selain EV, Astra International juga meluncurkan model hybrid. Contohnya, hybrid vlogging yang harganya di bawah 300 juta rupiah. Sebelumnya, perusahaan telah merilis Innova Zenix hybrid dan Yaris Cross hybrid. Saat ini, mereka sedang menyiapkan produk hybrid lain yang ditujukan untuk segmen pasar massal.
Layanan Pascabeli dan Ekosistem yang Terbentuk
Selain fokus pada pengembangan produk, Astra International juga memperhatikan layanan pascabeli dan sistem trade-in. Dengan adanya ekosistem layanan ini, nilai tukar (resale value) dari produk Astra tetap terjaga.
“Kami yakin bahwa kami dapat menyelaraskan portofolio produk dan layanan kami sesuai dengan perubahan kebutuhan mobilitas masyarakat. Kami juga percaya bahwa kami bisa beradaptasi dengan cepat dan tumbuh di tengah transisi energi dalam industri otomotif,” tutup Henry Tanoto.