Kesaksian Pencari Suaka asal Afrika yang Direkrut Jadi Tentara ‘Israel’

InfoMalangRaya.com – Militer Zionis merekrut para pencari suaka dari Afrika untuk menjadi tentara dan bertempur di Gaza dengan iming-iming status penduduk tetap di ‘Israel’, menurut media berbahasa Ibrani.
Pada Kamis (12/09/2024) Haaretz, mengutip pejabat pertahanan yang tidak mau namanya disebutkan, menyebut “proyek perekrutan ini dilakukan secara terorganisir, dengan bimbingan dari penasihat hukum pembentukan pasukan.”
Setelah dimulainya serangan ‘Israel’ di Gaza pada tanggal 7 Oktober, “para pejabat pertahanan menyadari bahwa mereka dapat menggunakan bantuan para pencari suaka dan mengeksploitasi keinginan mereka untuk mendapatkan status penduduk tetap di Israel sebagai sebuah imbalan.”
Meskipun begitu hingga saat ini para pejabat ‘Israel’ belum memberikan status penduduk tetap kepada para pencari suaka yang menjadi tentara untuk berperang di Gaza.
Mereka juga menolak untuk mengungkapkan dengan rinci bagaimana rekrutan baru tersebut digunakan.
“Tidak ada pencari suaka yang berkontribusi dalam upaya perang yang diberikan status (penduduk) resmi,” lapor Haaretz. meskipun mempertaruhkan nyawa mereka, sementara cara tentara Israel mengerahkan para pencari suaka ”dilarang untuk dipublikasikan.”
Haaretz melaporkan kasus seorang pria Afrika yang meminta untuk diidentifikasi hanya dengan inisial A. Dia tiba di Israel pada usia 16 tahun. Dia harus memperbarui status kependudukan sementaranya secara berkala dengan Otoritas Kependudukan dan Imigrasi Kementerian Dalam Negeri untuk menghindari deportasi.
Setelah perang dimulai, A menerima telepon dari seseorang yang mengaku sebagai petugas polisi ‘Israel’.
“Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka sedang mencari orang-orang istimewa untuk bergabung dengan tentara. Mereka mengatakan kepada saya bahwa ini adalah perang hidup atau mati bagi Israel,” katanya kepada Haaretz.
Dia mengatakan kepada A bahwa ada periode pelatihan selama dua minggu jika dia direkrut dan bahwa dia akan menerima gaji yang sama dengan apa yang dia dapatkan di pekerjaannya saat ini.
“Saya bertanya, apa yang saya dapatkan? Padahal saya tidak benar-benar mencari apa pun. Tapi kemudian dia mengatakan kepada saya – Jika Anda melakukan cara ini, Anda bisa mendapatkan dokumen dari Negara Israel. Dia meminta saya untuk mengirimkan fotokopi kartu identitas saya dan mengatakan bahwa dia akan mengurusnya.”
Tak lama sebelum pelatihannya dimulai, A. berubah pikiran.
“Saya ingin bergabung (dengan militer), dan saya sangat serius tentang hal itu, tetapi kemudian saya berpikir – hanya dua minggu pelatihan dan kemudian menjadi bagian dari perang? Saya tidak pernah menyentuh senjata dalam hidup saya,” lanjutnya.
Menurut Lembaga Bantuan Imigran Ibrani (HIAS), sekitar 45.000 pencari suaka asal Afrika kini tinggal di ‘Israel’. Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda dengan pekerjaan berupah rendah yang tidak diinginkan pemukim Yahudi.
Sebagian besar berasal dari negara-negara yang dilanda konflik seperti Eritrea dan Sudan. Mereka menyeberangi gurun Sinai dan masuk ke ‘Israel’ secara bergelombang antara tahun 2005-2012.
Pada tahun 2012, ‘Israel’ membangun pagar perbatasan di sepanjang perbatasan dengan Mesir yang menstop arus masuk. Sejak saat itu, hanya sekitar 100 orang saja yang masuk ke ‘Israel’.
Pada awal 2018, ‘Israel’ mengadopsi sebuah kebijakan untuk mengusir puluhan ribu pencari suaka Afrika.
Perdana Menteri Netanyahu menyebutkan bahwa setelah membangun pagar di perbatasan Mesir dan mendeportasi sekitar 20.000 migran Afrika melalui berbagai kesepakatan, ‘Israel’ telah mencapai tahap ketiga dari upayanya – “pengusiran yang dipercepat.”
“Pengusiran ini terjadi berkat kesepakatan internasional yang saya capai yang memungkinkan kami untuk memindahkan 40.000 penyusup yang tersisa, memindahkan mereka tanpa persetujuan mereka,” katanya kepada para menteri.
Entitas Zionis juga menyebut warga Palestina yang ingin kembali ke rumah mereka di wilayah yang sekarang disebut ‘Israel’ setelah peristiwa Nakba pada tahun 1948 sebagai “penyusup”.
Pada tahun itu, milisi Zionis melakukan pembantaian dan pemerkosaan untuk membersihkan etnis sekitar 750.000 warga Palestina dari rumah mereka, membuat mereka menjadi pengungsi di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Libanon, dan Suriah, untuk memberi ruang bagi para pengungsi dan imigran Yahudi dari seluruh dunia.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *