Progres Pembangunan Pabrik Kendaraan Listrik di Indonesia
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah memberikan informasi terkini mengenai progres pembangunan pabrik kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang dilakukan oleh beberapa produsen otomotif ternama, seperti BYD dan VinFast. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono, menjelaskan bahwa hingga saat ini terdapat enam perusahaan yang terdaftar dalam program insentif impor mobil listrik. Keenam perusahaan tersebut antara lain BYD, VinFast, Geely, XPeng, GWM, dan PT National Assemblers.
Tunggul menyampaikan bahwa dari keenam perusahaan tersebut, terdapat penambahan investasi sebesar kurang lebih Rp15 triliun. Hal ini menunjukkan adanya minat besar dari para pelaku industri untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor kendaraan listrik di Indonesia.
Perluasan Kapasitas Produksi dan Pembangunan Pabrik Baru
PT National Assemblers, yang menaungi merek-merek seperti Citroen, Aion, Maxus, dan VW, melakukan perluasan kapasitas produksi dengan total nilai investasi sekitar Rp621,15 miliar. Fasilitas produksi tersebut sudah siap beroperasi, sehingga menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan industri kendaraan listrik.
Selain itu, ada dua perusahaan yang sedang membangun pabrik baru, yaitu BYD Indonesia dan VinFast Automobile. Kedua perusahaan ini memilih Subang, Jawa Barat sebagai lokasi pembangunan pabrik. Diperkirakan, proyek ini akan rampung pada akhir 2025 mendatang.
Progres Pembangunan Pabrik BYD dan VinFast
Pabrik PT BYD Auto Indonesia yang saat ini sedang dibangun mencapai 45% per Mei 2025. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi sebesar 150.000 unit per tahun dengan rencana investasi sekitar Rp11 triliun. Sementara itu, VinFast, merek asal Vietnam, juga sedang dalam proses pembangunan pabrik di Subang senilai Rp3,5 triliun. Kapasitas produksi pabrik ini adalah 50.000 unit per tahun, dan hingga 18 Agustus 2025, pembangunan sudah mencapai 77%.
Rencana Produksi Kendaraan Listrik dari Produsen Lain
Selain BYD dan VinFast, produsen lain seperti Geely dan XPeng juga memiliki rencana produksi kendaraan listrik sebesar 20.000 unit per tahun. Saat ini, perakitan mobil listrik dari kedua merek tersebut masih dilakukan di pabrik PT Handal Indonesia Motor (HIM).
Sementara itu, GWM juga berencana memproduksi mobil listrik Ora 03 secara lokal di pabriknya yang berlokasi di Wanaherang, Jawa Barat, pada akhir 2025. Rencana kapasitas produksinya sebesar 4.000 unit per tahun, dan kesiapan pembangunan sudah mencapai 83% per Agustus 2025.
Potensi Berakhirnya Insentif Impor pada 2026
Sebelumnya, pemerintah belum memberi sinyal bahwa insentif impor untuk mobil listrik (battery electric vehicle/BEV) akan dilanjutkan pada 2026. Tunggul menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada diskusi lebih lanjut terkait kelanjutan skema insentif untuk mobil listrik pada tahun depan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 juncto Nomor 1/2024, batas waktu importasi dan program insentif impor mobil listrik akan berakhir pada 31 Desember 2025. Oleh karena itu, diperkirakan insentif ini akan berakhir sesuai dengan regulasi yang ada.
Persyaratan Produksi Lokal Mulai 2026
Berdasarkan peta jalan TKDN, mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, pabrikan mobil listrik harus melakukan pelunasan komitmen produksi 1:1. Produksi harus memenuhi spesifikasi teknis yang mencakup daya motor listrik dan kapasitas baterai minimal sama atau lebih tinggi.
Jika pabrikan EV tidak mampu memenuhi syarat produksi lokal tersebut, pemerintah dapat mengklaim bank garansi yang gagal dibayar utang produksinya dari peserta program pada 2028 mendatang. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius dalam memastikan kualitas dan keberlanjutan industri kendaraan listrik di Indonesia.