Perkembangan Malang di Awal Abad ke-20
Di awal abad ke-20, Malang mengalami pertumbuhan yang pesat sebagai kota perkebunan, perdagangan, dan pendidikan. Pemerintah kolonial Belanda melihat potensi besar wilayah ini, terutama dalam sektor hasil bumi seperti kopi, tebu, tembakau, dan cengkih. Untuk mendukung distribusi komoditas tersebut serta menyediakan transportasi bagi masyarakat, dibangunlah jalur trem uap yang menjadi bagian dari jaringan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Trem pertama di Malang mulai beroperasi pada tahun 1908, seiring dengan pengembangan jaringan kereta api di Jawa Timur.
Keberadaan trem ini bukan hanya sebagai alat angkut hasil perkebunan menuju stasiun besar dan pelabuhan, tetapi juga menjadi simbol modernitas kota yang sedang berkembang pesat.
Jalur dan Rute Trem
Jaringan trem di Malang Raya terbagi ke dalam beberapa rute yang menghubungkan titik-titik vital. Secara umum, jalur trem melayani dua fungsi utama: angkutan perkebunan dan angkutan penumpang.
Rute dalam kota (urban line)
Trem melayani jalur dari Stasiun Malang Kotalama menuju kawasan pusat kota dan Pasar Besar. Dari sini, trem memudahkan mobilitas masyarakat, termasuk pribumi, Belanda, maupun kaum pedagang Tionghoa.
Rute menuju kawasan perkebunan (suburban line)
Trem menjangkau daerah Lawang, Singosari, hingga Bululawang yang dikenal sebagai kawasan perkebunan tebu dan tembakau. Hasil panen diangkut menggunakan gerbong barang trem menuju stasiun besar untuk kemudian diteruskan ke Surabaya dan pelabuhan ekspor.
Rute industri
Selain perkebunan, trem juga melayani kawasan industri gula di sekitar Malang Raya. Pabrik-pabrik gula seperti Krebet, Kebonagung, hingga Bululawang menggunakan trem sebagai sarana distribusi utama.
Secara keseluruhan, panjang jaringan trem Malang mencapai puluhan kilometer. Keberadaannya menjadikan Malang salah satu kota dengan sistem transportasi modern paling maju di Jawa Timur saat itu.
Kehidupan Sosial dan Budaya
Trem di Malang tidak hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial kota. Trem menjadi moda favorit masyarakat kota untuk bepergian ke pasar, sekolah, atau kantor. Bagi para pekerja kolonial, trem mempermudah mobilitas dari rumah ke perkebunan.
Dalam literatur dan cerita lisan masyarakat, trem sering muncul sebagai bagian dari kenangan masa lalu. Suara peluit, denting rel, dan kepulan asap uap trem menjadi ciri khas keseharian Malang di masa itu. Banyak fotografer dan pelukis kolonial yang mengabadikan pemandangan trem melintas di antara jalan-jalan rindang Malang, menjadikannya ikon kota yang tak terlupakan.
Masa Kejayaan dan Tantangan
Pada dekade 1920–1930-an, trem di Malang mencapai masa keemasannya. Mobilitas masyarakat meningkat, ekonomi perkebunan berjalan lancar, dan trem menjadi pilihan transportasi utama. Namun, seiring masuknya kendaraan bermotor seperti bus dan mobil pribadi, trem mulai menghadapi persaingan. Infrastruktur jalan raya yang semakin baik membuat masyarakat beralih ke moda transportasi yang lebih fleksibel. Trem, yang jalurnya terbatas pada rel, tidak mampu bersaing dalam hal kecepatan dan jangkauan. Selain itu, biaya perawatan jaringan rel dan lokomotif uap cukup tinggi. Perusahaan kereta api kolonial mulai mempertimbangkan efisiensi, sehingga jalur trem di beberapa kota, termasuk Malang, pelan-pelan ditutup.
Masa Pendudukan Jepang dan Kemerdekaan
Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, trem di Malang masih beroperasi, tetapi lebih difokuskan untuk kebutuhan logistik militer. Jalur perkebunan tetap digunakan, meskipun sebagian sarana dan prasarana rusak akibat perang. Pasca-kemerdekaan, trem sempat dikelola oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Namun, kondisinya semakin menurun karena kurangnya perawatan dan minimnya investasi. Akhirnya, pada tahun 1960-an, trem Malang secara bertahap dihentikan operasinya dan digantikan oleh angkutan jalan raya seperti bus kota dan angkot.
Warisan yang Tersisa
Meskipun trem di Malang sudah lama hilang, jejaknya masih dapat ditemukan. Beberapa bekas jalur rel kini berubah menjadi jalan raya atau kawasan pemukiman. Ada pula rel-rel yang ditemukan saat proyek pembangunan infrastruktur baru, menjadi bukti sejarah transportasi kota. Selain itu, dokumentasi foto lawas yang tersimpan di arsip Belanda maupun koleksi pribadi menunjukkan bagaimana trem pernah menjadi bagian penting dari wajah Malang. Di beberapa sudut kota, seperti kawasan Kotalama dan Pasar Besar, masyarakat tua masih mengingat masa ketika trem melintas setiap hari.
Trem sebagai Inspirasi Transportasi Modern
Meski hanya tinggal kenangan, keberadaan trem di masa lalu sering kali dijadikan inspirasi untuk mengembangkan transportasi modern di Malang Raya. Pemerintah kota dan daerah pernah menggagas ide pembangunan sistem light rail transit (LRT) atau trem modern untuk mengatasi kemacetan. Konsep ini seolah ingin menghidupkan kembali jejak sejarah trem, namun dalam bentuk yang lebih canggih, efisien, dan ramah lingkungan. Jika terwujud, maka Malang akan kembali memiliki moda transportasi berbasis rel dalam kota, sebuah warisan masa lalu yang dihidupkan kembali untuk kebutuhan masa depan.