Pemimpin Syiah Muqtada al-Sadr Umumkan Kelompoknya Tak Ikut Campur Masalah Suriah

InfoMalangRaya.com—Pemimpin Syiah Iraq berpengaruh, Muqtada al-Sadr mengumumkan posisi gerakan al-Sadr tidak ikut campur apa pun terkait masalah Suriah.

Al-Sadr menekankan dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di akunnya di situs X, hari Kamis, perlunya pemerintah Iraq, rakyat dan semua pihak untuk tidak mencampuri urusan Suriah. Sernyataannya ini memicu perdebatan internal Iraq tentang peran regional negara tersebut dan posisinya dalam masalah Suriah.

Manaf al-Musawi, pendukung al-Sadr,  mengatakan kepada Al Jazeera Net bahwa Al-Sadr dikenal karena posisinya dalam mendukung intervensi di Suriah dan tidak akan campur tangan dalam urusan negara lain. Ia menekankan bahwa krisis Suriah adalah masalah internal yang harus diselesaikan melalui dialog antara pihak-pihak Suriah.

Dia menambahkan bahwa Al-Sadr menyerukan agar masyarakat Suriah tidak berada dalam bahaya yang lebih besar,  mendesak semua pihak untuk menjauhi campur tangan asing dengan cara duduk di meja perundingan, dan menekankan bahwa hal ini sangat menentukan dalam memperjelas posisi gerakan tersebut, sebagaimana yang dia serukan pada pemerintah Iraq untuk mencegah pihak mana pun ikut campur secara langsung dalam konflik Suriah,  menjaga kepentingan Iraq dan keamanan regional.

Dalam penjelasan mengenai posisi Baghdad mengenai situasi di Suriah, juru bicara Perdana Menteri Iraq, Bassem Al-Awadi, menegaskan bahwa negaranya dengan tegas menolak segala upaya untuk merusak kesatuan wilayah Suriah dan memecah belahnya, serta menekankan bahwa setiap gagasan yang memecah belah menimbulkan bahaya bagi seluruh wilayah Arab, terutama mengingat kekhasan Suriah “Sebagai salah satu negara Arab terbesar yang menghadapi entitas Israel.”

Al-Awadi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera Net bahwa Iraq tidak mempertimbangkan atau mencari intervensi militer di Suriah, dan pada saat yang sama menekankan bahwa segala sesuatu yang terjadi di Suriah memiliki dampak langsung terhadap keamanan nasional Iraq, yang membuat Iraq masih belum memahami perkembangan dan mempelajari sejauh mana dampaknya terhadap hal tersebut, baik pada saat ini maupun di masa depan.

Al-Awadi menyatakan bahwa Iraq saat ini melakukan upaya politik dan diplomatik yang luar biasa dengan semua negara tetangga Suriah, dan dengan negara-negara yang aktif di arena Suriah, untuk mencapai kesepahaman yang memfasilitasi perumusan solusi politik yang disepakati untuk menemukan solusi atas krisis di Suriah.

Iran yang merupakan sekutu utama Bashar al-Assad, hari Ahad (8/12/2024) telah menyatakan bahwa masa depan Suriah harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri dan tanpa adanya campur tangan asing.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa pihaknya memantau dengan saksama perkembangan di Suriah, beberapa jam setelah Presiden Suriah Bashar al-Assad melarikan diri dari Damaskus menyusul penguasaan ibu kota oleh kelompok oposisi pada Ahad pagi.

Kejadian itu menandai runtuhnya rezim Partai Baath yang telah berkuasa di Suriah sejak 1963.

Iran menghormati “kesatuan, kedaulatan nasional, dan integritas wilayah Suriah,” dengan menekankan bahwa keputusan tentang masa depan negara itu harus dibuat oleh rakyat Suriah “tanpa campur tangan destruktif atau pemaksaan dari pihak luar.” *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *