Jakarta — Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat hingga 4,1% jika pemerintah lebih aktif dalam mengintegrasikan diri ke perdagangan global. Proyeksi ini diungkapkan dalam laporan Selected Issues Paper bertajuk Golden Vision 2045: Reaping the Gains from Trade yang diterbitkan pada awal Februari 2026.
Laporan tersebut menyoroti pentingnya pengurangan hambatan non-tarif (NTB) sebagai langkah kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ekonom IMF Ashique Habib, salah satu penyusun laporan, menjelaskan bahwa Indonesia sedang berupaya memperdalam integrasi perdagangan demi meningkatkan permintaan eksternal. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menuju Visi Indonesia Emas 2045, yaitu menjadi negara maju pada perayaan 100 tahun kemerdekaannya.
Menurut analisis IMF, meskipun Indonesia telah menurunkan tarif rata-rata manufaktur dalam beberapa tahun terakhir, tingkat hambatan non-tarif masih relatif tinggi dibandingkan rata-rata negara-negara di kawasan ASEAN maupun dunia seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa:
- Integrasi perdagangan yang lebih dalam, dengan fokus pada pengurangan hambatan non-tarif, serta reformasi struktural yang melengkapinya, dapat menghasilkan keuntungan PDB yang signifikan bagi Indonesia.
- Porsi terbesar dari proyeksi kenaikan PDB tambahan sebesar 4,1% ini berasal dari langkah sepihak Indonesia dalam melonggarkan hambatan perdagangannya (sekitar 1,9%).
Dalam skenario IMF, jika Indonesia menghilangkan hambatan non-tarif maka pelaku usaha dalam negeri akan memiliki akses yang lebih baik terhadap bahan baku perantara (intermediate inputs) yang lebih terjangkau. Skenario ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing industri, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Selain itu, pembukaan akses pasar lewat perjanjian perdagangan mendalam dengan mitra strategis juga diyakini akan memberikan peningkatan PDB riil sekitar 1,7%. Langkah ini diharapkan dapat memicu relokasi aktivitas ke sektor-sektor yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia.
Lebih jauh, IMF menekankan bahwa kebijakan dagang semata tidak cukup. Pemerintah dituntut untuk melakukan reformasi struktural yang komprehensif, terutama di sektor kualitas sumber daya manusia (SDM) dan logistik. Reformasi ini diproyeksikan dapat memberikan tambahan PDB riil sekitar 0,5%.
Perbaikan infrastruktur dan proses logistik diharapkan mampu menjadi pendorong ekspor barang. Sementara itu, investasi pada kualitas SDM diharapkan menjadi fondasi krusial bagi lonjakan ekspor jasa modern, seperti sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta keuangan.
Sebagai tambahan, IMF memproyeksikan bahwa keterbukaan dagang dan penguatan struktural akan membuat Indonesia semakin menarik di mata investor asing, terutama dalam konteks pergeseran rantai pasok global. Akibatnya, investasi asing langsung diprediksi akan semakin deras apabila Indonesia semakin terintegrasi dalam rantai nilai global.
“Seiring langkah Indonesia dalam mendorong liberalisasi perdagangan dan reformasi struktural, penting untuk memastikan tersedianya langkah-langkah dukungan yang tepat guna membantu para pekerja beralih ke peluang-peluang baru, sehingga membantu memastikan bahwa keuntungan dari perdagangan dapat terwujud sepenuhnya dan dinikmati secara luas,” tulis laporan IMF.







