Perang di Selat Hormuz: Ancaman, Tawaran AS, dan Dampak Global
Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia, kembali menjadi pusat perhatian akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Iran mengklaim memiliki kendali penuh atas wilayah ini, sementara Washington menawarkan pengawalan militer bagi kapal komersial yang melintasinya. Namun, langkah tersebut dinilai berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih besar.
Iran Mengklaim Kendali Penuh atas Selat Hormuz
Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa mereka memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz, jalur laut sempit yang lebarnya sekitar 24 mil pada titik terkecilnya. Jalur ini merupakan jantung perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah ini setiap hari. Wilayah ini menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi internasional, termasuk negara-negara produsen utama seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Iran sebelumnya telah memberikan ancaman keras terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Pemerintah Teheran bahkan bersumpah akan “membakar” kapal yang melintas jika konflik terus berlanjut. Ancaman rudal dan drone terhadap kapal komersial membuat jalur pelayaran tersebut praktis mengalami penutupan tidak resmi. Perusahaan asuransi maritim dilaporkan menaikkan premi hingga 100 persen, bahkan beberapa di antaranya mencabut perlindungan asuransi bagi kapal yang ingin melewati wilayah itu.
Akibatnya, lalu lintas tanker minyak dilaporkan turun drastis hingga sekitar 90 persen sejak serangan terhadap Iran dimulai.
Tawaran Pengawalan AS dan Risiko Eskalasi
Sebagai respons atas situasi ini, Presiden Donald Trump menawarkan skema perlindungan bagi kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Pemerintah Amerika Serikat bahkan berjanji menyediakan paket asuransi pemerintah serta pengawalan dari angkatan laut AS.
Namun langkah tersebut dinilai memiliki risiko besar. Pakar Timur Tengah dari University of St Gallen, Andreas Bohm, mengatakan bahwa pengawalan militer memang dapat mengurangi risiko serangan terhadap kapal dagang. Namun langkah itu juga bisa membuat pasukan Amerika menjadi target yang lebih mudah bagi Iran. Menurutnya, kapal perang AS yang berada lebih dekat dengan wilayah Iran akan lebih rentan diserang menggunakan rudal jarak pendek.
Bohm menilai, bahkan satu insiden kecil dapat menimbulkan dampak politik besar bagi Donald Trump. Misalnya jika sebuah kapal Amerika terkena serangan dan memerlukan operasi penyelamatan besar, hal itu dapat menjadi pukulan serius bagi citra politiknya di dalam negeri.
Ancaman Kapal Selam dan Proksi Iran
Meskipun pengeboman selama beberapa hari dilaporkan telah menghancurkan sebagian kekuatan laut Iran, ancaman militer dari negara tersebut belum sepenuhnya hilang. Iran diperkirakan masih memiliki sekitar 17 kapal selam yang bermarkas di kota pelabuhan Bandar Abbas yang berada di dekat Selat Hormuz.
Selain kapal selam, Iran juga masih menempatkan peluncur rudal jarak pendek serta drone di sepanjang garis pantai selatan negara itu. Ancaman tambahan juga datang dari kelompok bersenjata Houthi yang berbasis di Yaman. Kelompok tersebut dikenal sebagai salah satu proksi Iran yang paling aktif dalam konflik regional.
Menurut Andreas Bohm, Houthi kemungkinan tidak akan terlibat langsung di Selat Hormuz. Namun mereka dapat membuka front baru di wilayah Laut Merah untuk menambah tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Operasi Militer yang Mahal dan Rumit
Pakar Timur Tengah dari Royal United Services Institute, Dan Marks, menilai bahwa operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz bukanlah solusi yang mudah. Menurutnya, mengatur konvoi kapal membutuhkan banyak aset angkatan laut dan dapat mengikat sumber daya militer dalam jangka panjang. Selain itu, operasi tersebut juga memerlukan biaya yang sangat besar.
Marks menambahkan bahwa belum tentu perusahaan pelayaran bersedia mengambil risiko meskipun mendapat pengawalan militer. Ia mencontohkan pengalaman krisis di Laut Merah pada periode 2023–2024. Saat itu, koalisi militer Inggris dan Amerika Serikat memang mampu mencegah serangan terhadap kapal strategis, tetapi hal tersebut tetap tidak cukup untuk meyakinkan perusahaan pelayaran agar kembali menggunakan jalur tersebut secara normal.
Dampak Besar pada Pasar Energi Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz juga mulai berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak dari sekitar 70 dolar AS per barel menjadi 81 dolar AS. Di Inggris, harga bensin meningkat hampir 2,5 pence per liter sejak akhir pekan, sementara harga solar naik lebih dari 3 pence.
Pasar gas Eropa juga mengalami lonjakan signifikan. Harga gas melonjak lebih dari 50 persen, dari sekitar 31 euro per megawatt-jam menjadi 48 euro. Analis dari Cornwall Insights bahkan memperkirakan bahwa batas harga energi di Inggris dapat meningkat hingga 160 pound atau sekitar 10 persen pada bulan Juli mendatang.
Dampak lain juga mulai terlihat pada sektor energi di Timur Tengah. Qatar dilaporkan menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah adanya serangan Iran. Sementara itu, fasilitas minyak di kilang Ras Tanura di Arab Saudi disebut dua kali diserang drone Iran sehingga memaksa penghentian produksi sementara.
Di sisi lain, industri pelayaran internasional kini mempertimbangkan untuk menetapkan Selat Hormuz sebagai “area operasi militer”. Jika status tersebut diberlakukan, awak kapal berhak menolak berlayar melewati jalur tersebut, sementara perusahaan pelayaran wajib memberikan bonus besar kepada kru jika mereka tetap menjalankan pelayaran.







