Perjalanan Tak Terduga Menuju Gelar “Kiai”
KH Muhammad Cholil Nafis, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengungkapkan kisah unik tentang bagaimana ia akhirnya dipanggil dengan gelar “kiai” oleh masyarakat. Menurutnya, panggilan itu bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal, melainkan hasil dari perjalanan hidup yang tidak terduga dan sering disebut sebagai “kecelakaan”.
Perjalanan hidup Cholil dimulai dari masa kecilnya yang berbeda dari harapan awal. Ia tidak bermimpi menjadi ulama sejak dulu. Justru, ia memiliki minat pada bidang desain dan ingin menekuni pendidikan umum. Pada masa sekolah dasar, Cholil bahkan meminta orang tuanya untuk memindahkannya ke sekolah negeri agar bisa melanjutkan ke SMP umum. Namun, kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan. Akibatnya, ia harus tetap bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah.
Pada akhirnya, ia dipaksa untuk masuk ke pesantren karena biaya pendidikan di sana lebih murah. Peristiwa ini ia sebut sebagai titik balik dalam hidupnya. “Jadi kecelakaan di pesantren itu,” ujarnya.
Saat menempuh pendidikan tinggi di Jakarta, Cholil aktif dalam organisasi mahasiswa, yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia bercita-cita menjadi aktivis dan intelektual. “Saya inginnya itu menjadi aktivis, menjadi intelektual. Menurut saya itu yang hebat kalau dia ngisi seminar, kalau jadi dosen. Jadi berpikirnya itu lebih pada yang umum,” katanya.
Namun, lagi-lagi, nasib membawanya ke jalur yang tidak ia bayangkan. Saat itu, ia bertemu dengan almarhum Mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dan diminta mendampingi ceramah di salah satu stasiun televisi swasta.
“Satu saat saya ketemu dengan Ki Hasyim Muzadi, diminta menemani beliau ngisi ceramah di TV. Nah kebiasaan, itulah saya dipanggil kiai,” ujarnya.
Sebelumnya, Cholil sering tampil di televisi sebagai narasumber. Namun, ia hadir dalam kapasitas akademisi atau ilmuwan yang membahas isu-isu keislaman dan sosial. “Saya itu ngisi di beberapa stasiun TV memang ngisi, tetapi sebagai ilmuwan. Ada beberapa instansi itu berkenaan dengan keislaman, kesehatan, keluarga berencana, dan seterusnya. Tapi posisi sebagai agamawan, bukan kiai,” ujarnya.
Setelah mendampingi Hasyim Muzadi dalam ceramah di televisi, undangan ceramah datang silih berganti. Sejak saat itu pula, publik mulai menyematkan panggilan “kiai” kepada dirinya.
Bagi KH Cholil Nafis, perjalanan tersebut menjadi pelajaran bahwa jalan hidup sering kali tidak berjalan sesuai rencana. Ia mengatakan bahwa segala hal yang terjadi adalah bagian dari takdir dan pengalaman yang membentuk dirinya hingga saat ini.
Pengalaman Berharga yang Mengubah Jalur Hidup
Awal Karier yang Tidak Terduga
Cholil tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang kiai. Dari kecil, ia ingin menjadi desainer dan mengikuti jalur pendidikan umum. Namun, kondisi keluarga memaksa ia untuk bersekolah di madrasah dan akhirnya masuk pesantren.Kesempatan di Televisi
Pertemuan dengan Hasyim Muzadi memberinya kesempatan untuk tampil di televisi. Hal ini menjadi langkah awal yang membuat ia dikenal sebagai kiai.Perubahan Kepribadian dan Tujuan
Meski awalnya ingin menjadi aktivis dan intelektual, Cholil akhirnya terlibat dalam dunia keagamaan. Ini mengubah arah hidupnya secara signifikan.Pelajaran Hidup yang Mendalam
Cholil menyadari bahwa jalan hidup sering kali tidak seperti yang direncanakan. Ia mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang terjadi, baik itu kecelakaan maupun kesempatan yang datang tiba-tiba.







