Sejarah dan Keahlian Darsono dalam Memperbaiki Kaca Spion
Di tengah maraknya bengkel modern yang menawarkan solusi instan, Darsono tetap bertahan dengan keahliannya memperbaiki kaca spion tanpa harus mengganti unit baru. Pria berusia 65 tahun ini telah menjalani profesi ini selama lebih dari 30 tahun, sejak Pasar Tunggorono mulai berdiri pada 1994. Di antara tumpukan onderdil bekas dan peralatan lawas, ia memiliki sudut sederhana yang menjadi penyelamat bagi banyak pengendara.
Perbaikan bukanlah ganti baru. Bagi sebagian orang, spion pecah berarti harus membeli baru. Namun di tangan Darsono, kaca yang retak atau hilang bisa kembali berfungsi hanya dalam hitungan menit. Ia cukup mengganti bagian kaca yang rusak, menyesuaikannya dengan rangka lama, lalu memasangnya kembali dengan presisi. “Biasanya yang datang itu karena spion pecah. Di sini cukup ganti kacanya saja, jadi lebih hemat,” ujarnya kepada Infomalangraya.com disela-sela aktivitasnya membenarkan spion pecah.
Keahlian ini tidak didapat secara instan. Darsono pernah bekerja di pabrik sebelum akhirnya memutuskan keluar. Titik balik terjadi ketika seorang temannya, yang memiliki kemampuan serupa, datang dan mengajaknya berjualan di pasar. Dari situlah Darsono belajar hingga akhirnya membuka lapak sendiri.
Peralatan Sederhana, Hasil Maksimal
Peralatan yang digunakan pun terbilang sederhana, mulai dari pemotong kaca, tang, serta stok kaca berbagai jenis, dari datar hingga cembung. Namun dari tangan terlatihnya, alat-alat itu mampu ‘menghidupkan kembali’ spion kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil. Tarif yang ditawarkan relatif terjangkau. Untuk sepeda motor, biaya berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Sementara untuk kendaraan roda empat atau lebih, harganya bisa menembus Rp100 ribu, tergantung jenis dan tingkat kesulitan.
Dalam sehari, sekitar empat hingga tujuh pelanggan datang silih berganti. Meski tidak seramai masa awal pasar berdiri, pendapatan tersebut masih cukup menopang kebutuhan keluarga. Istrinya pun turut membantu ekonomi rumah tangga dengan berjualan makanan dan kopi di dekat tempat tinggal mereka.
Menghadapi Perubahan Zaman
Namun, perubahan zaman tak bisa dihindari. Darsono merasakan penurunan omzet sejak maraknya belanja daring. Banyak orang kini lebih memilih membeli suku cadang secara online, meski tak selalu sesuai harapan. “Kalau di sini bisa lihat langsung barangnya. Kalau online kadang tidak sesuai,” ujarnya melanjutkan.
Meski begitu, ia tak tinggal diam. Untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas, Darsono menyediakan layanan servis ke rumah. Sebuah nomor telepon terpampang di lapaknya, menjadi jembatan bagi pelanggan yang tak sempat datang langsung.
Harapan dan Prinsip Hidup
Lebih dari itu, ia juga berharap Pasar Tunggorono bisa kembali bergeliat. Sebagai salah satu sentra barang loak di Jombang, pasar ini pernah menjadi denyut ekonomi warga kecil. Di tengah perubahan zaman dan persaingan modern, Darsono memilih bertahan dengan cara yang sederhana: memperbaiki, bukan mengganti. Sebuah prinsip yang tak hanya berlaku pada kaca spion, tetapi juga pada semangat hidupnya.
“Semoga pasar ini bisa ramai lagi, dan pedagang kecil tetap bisa bertahan,” pungkasnya.







