Kehidupan Darsono, Tukang Servis Spion yang Bertahan Selama 32 Tahun
Di tengah kemajuan teknologi dan maraknya bengkel modern, masih ada seorang pria yang menjaga tradisi dengan keahlian khusus. Darsono (65), yang telah menggeluti bidang perbaikan kaca spion selama 32 tahun, menjadi salah satu tokoh yang memegang prinsip bahwa tidak semua hal perlu diganti, tetapi bisa diperbaiki.
Lokasi tempat servis kaca spion milik Darsono berada di Pasar Tunggorono, Kecamatan Jombang, Jawa Timur. Pasar ini dikenal sebagai pusat jual beli onderdil bekas dan peralatan lawas. Meski tidak sepopuler masa lalu, pasar ini masih menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh para pengendara yang membutuhkan layanan perbaikan spion.
Perjalanan Darsono dalam Bidang Perbaikan Spion
Darsono sudah menggeluti bidang perbaikan kaca spion sejak tiga dekade lalu, tepatnya saat Pasar Tunggorono mulai berdiri pada 1994 silam. Awalnya ia bekerja di pabrik, namun akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencoba berjualan di pasar. Dari sana, ia belajar hingga akhirnya membuka lapak sendiri.
Keahlian Darsono memperbaiki kaca spion tanpa harus mengganti seluruh unitnya membuatnya bertahan di tengah gempuran perkembangan teknologi. Bahkan ketika banyak bengkel modern menawarkan solusi instan, keahlian Darsono tetap dicari. Ia mampu memperbaiki kaca spion yang retak atau hilang hanya dalam hitungan menit.
Proses Perbaikan Kaca Spion yang Sederhana
Darsono hanya perlu menyesuaikan kaca dengan rangka lama, lalu memasangnya kembali dengan presisi. “Biasanya yang datang itu karena spion pecah. Di sini cukup ganti kacanya saja, jadi lebih hemat,” ujarnya.
Peralatan yang digunakan pun terbilang sederhana, mulai dari pemotong kaca, tang, serta stok kaca berbagai jenis, dari datar hingga cembung. Namun dari tangan terlatihnya, alat-alat itu mampu ‘menghidupkan kembali’ spion kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil.
Tarif yang ditawarkan relatif terjangkau. Untuk sepeda motor, biaya berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Sementara untuk kendaraan roda empat atau lebih, harganya bisa menembus Rp100 ribu, tergantung jenis dan tingkat kesulitan.
Tantangan di Zaman Digital
Meski pendapatan tersebut masih cukup menopang kebutuhan keluarga, Darsono merasakan penurunan omzet sejak maraknya belanja daring. Banyak orang kini lebih memilih membeli suku cadang secara online, meski tak selalu sesuai harapan.
“Kalau di sini bisa lihat langsung barangnya. Kalau online kadang tidak sesuai,” ujarnya melanjutkan.
Untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas, Darsono menyediakan layanan servis ke rumah. Sebuah nomor telepon terpampang di lapaknya, menjadi jembatan bagi pelanggan yang tak sempat datang langsung.
Harapan di Masa Depan
Lebih dari itu, ia juga berharap Pasar Tunggorono bisa kembali bergeliat. Sebagai salah satu sentra barang loak di Jombang, pasar ini pernah menjadi denyut ekonomi warga kecil.
Di balik kesederhanaannya, terselip harapan besar. Ia ingin tetap sehat agar bisa terus membantu pengendara mendapatkan spion yang layak dengan biaya terjangkau sebuah hal kecil yang berdampak besar pada keselamatan di jalan.
Menariknya, keahlian yang telah ia tekuni selama 32 tahun itu belum diwariskan kepada keluarga. Tak satu pun anak atau kerabatnya yang mengikuti jejaknya. Meski demikian, Darsono tidak menutup diri. Ia justru membuka peluang bagi siapa saja yang ingin belajar.
Di tengah perubahan zaman dan persaingan modern, Darsono memilih bertahan dengan cara yang sederhana memperbaiki, bukan mengganti. Sebuah prinsip yang tak hanya berlaku pada kaca spion, tetapi juga pada semangat hidupnya.
“Semoga pasar ini bisa ramai lagi, dan pedagang kecil tetap bisa bertahan,” pungkasnya.







