Peran Kolaborasi Internasional dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan di Indonesia
Ketahanan pangan menjadi salah satu isu utama dalam pencapaian agenda pembangunan global. Di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang mendekati 280 juta jiwa, masalah ini menjadi sangat krusial. Berdasarkan indeks ketahanan pangan global yang dikeluarkan oleh Economics Impact 2022, Indonesia berada pada peringkat 63 dari 113 negara yang diteliti. Namun, untuk aspek keberlanjutan dan ketersediaan pangan, posisi Indonesia berada pada peringkat 83 dan 84. Kondisi ini diperumit oleh perubahan iklim, volatilitas harga pangan, serta masih terhambatnya pemenuhan gizi masyarakat.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintahan Prabowo mencanangkan program ketahanan pangan yang fokus pada peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perikanan, pengamanan rantai pasok pangan, serta logistik. Hal ini memerlukan akselerasi riset dan teknologi dengan mitra dari berbagai entitas. Dalam konteks ini, kolaborasi internasional menjadi kata kunci. Salah satu mitra yang menawarkan aset penting adalah Taiwan, meskipun hubungan formal dengan Taiwan tidak mungkin dilakukan karena kebijakan Satu Tiongkok (One China Policy).
Kolaborasi dengan WorldVeg: Aset Global Taiwan
Salah satu institusi penting di Taiwan yang sering kali tidak diketahui publik adalah World Vegetable Center (WorldVeg) yang berlokasi di Kota Tainan. Sebagai salah satu genebank terbesar di dunia, WorldVeg menyimpan koleksi benih sayuran krusial dan memiliki keahlian dalam pemuliaan varietas yang tangguh terhadap iklim tropis dan penyakit. Pada tahun 2025, penulis berkesempatan melihat langsung bagaimana benih-benih tersebut disimpan dalam beberapa ruang pendingin khusus.
Indonesia, melalui Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memiliki potensi kolaborasi yang menjanjikan dengan WorldVeg. Kolaborasi ini dapat difokuskan dalam tiga klaster riset:
- Klaster riset akses varietas sayuran: Fokus pada varietas sayuran berdaya hasil tinggi, kaya nutrisi, dan tahan terhadap kekeringan maupun banjir. Contoh tanaman yang bisa dieksplorasi adalah kangkung yang populer di Indonesia.
- Transfer teknologi pemuliaan: Pemanfaatan teknologi WorldVeg dalam riset genetika dan pemulian tanaman diharapkan dapat mempercepat lahirnya varietas lokal Indonesia yang unggul.
- Peningkatan nutrisi pangan: Klaster ini bertanggung jawab pada kolaborasi mendukung aspek nutrisi dari ketahanan pangan, bukan hanya kuantitas sumber pangan tetapi juga kualitas gizi dari sayuran dan sumber pangan lainnya.
Selain itu, Taiwan Technical Meeting (TTM) telah hadir dan membangun kerja sama agrikultur di Karawang sejak 2018. TTM memberikan demonstrasi langsung mengenai praktik pertanian yang efisien dan modern, dengan hasil panen yang telah diserap pasar-pasar di Jakarta. Hal ini menunjukkan potensi Taiwan sebagai mitra kolaborasi Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan.
Strategi Kolaborasi yang Efektif
Kebijakan Satu Tiongkok (One China Policy) yang dipegang oleh Indonesia berimplikasi pada keterbatasan hubungan formal Indonesia dengan Taiwan, terutama di level pemerintah. Namun, di level non-pemerintah, kerja sama telah terjalin tanpa menjadikan persoalan politik sebagai penghalang seperti yang dilakukan oleh TTM pada tahun 2018.
Strategi kolaborasi dapat ditempatkan sebagai diplomasi jalur kedua (second-track diplomacy) yang berfokus pada kesejahteraan rakyat, alih-alih bicara masalah kedaulatan politik. Pandangan ini penting sebagai landasan dalam membentuk kerja sama yang mendukung kedaulatan pangan Indonesia.
Lebih jauh, terdapat empat kondisi yang harus dipenuhi dalam mewujudkan kolaborasi yang lebih intensif antara Indonesia dan Taiwan:
- Kerja sama diformulasikan melalui skema non-diplomatik: ORPP-BRIN dan WorldVeg harus dilembagakan melalui pengaturan teknis atau nota kerja sama yang berada di bawah payung hubungan antar masyarakat atau hubungan antar akademisi.
- Adanya pendanaan fleksibel: Pemerintah Indonesia harus menjamin alokasi dana yang tidak terhalang oleh status non-diplomatik Taiwan.
- Relasi timbal balik dan kode etik: Pertukaran sampel benih dari Indonesia perlu melewati mekanisme dan kode etik riset sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2019.
- Orientasi produk dan dampak: Kerja sama harus bermuara pada transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas SDM, dan hilirisasi benih yang cepat ke tingkat petani.
Penutup
Jika kita mampu mengelola sensitivitas politik dan memprioritaskan kepentingan fungsional, kolaborasi dengan WorldVeg dan institusi Taiwan lainnya akan menjadi investasi strategis yang mampu memberikan nutrisi bagi generasi penerus bangsa. Pengakuan politik terhadap kebijakan Satu Tiongkok bukan halangan menyediakan ketersediaan varietas pangan dari mitra lainnya. Indonesia harus berani menjemput inovasi dari mitra kompeten, meskipun secara diplomatik, hubungan tersebut harus berjalan di atas garis batas yang tipis.







