Spike Lee dan Film Biografi yang Membawa Perubahan
Spike Lee memperkuat posisinya sebagai sutradara ternama dengan membuat film biografi berjudul Malcolm X pada tahun 1992. Sebagai salah satu sutradara kulit hitam paling terkenal, Lee telah menghasilkan lima film penting dalam enam tahun. Ia juga memperkenalkan inovasi baru dalam menampilkan kehidupan warga Amerika kulit hitam melalui penggunaan kamera dan musik jaz yang kental di soundtrack filmnya. Karena itu, Malcolm X dibuat secara unik dan berbeda dari film-film lain.
Film ini menceritakan perjalanan Malcolm X (diperankan oleh Denzel Washington) dari seorang pemuda yang gigih menjadi aktivis hak-hak sipil. Lee menggunakan gaya sinematiknya sendiri untuk menciptakan produksi film yang tidak kaku. Ia memilih lokasi yang memiliki makna sejarah bagi film tersebut. Karena sebagian besar cerita berkaitan dengan perubahan Malcolm dari seorang kriminal menjadi pejuang Nation of Islam, film ini fokus pada perubahan tersebut. Salah satu momen penting adalah perjalanan haji ke Makkah yang mengubah cara berpikir Malcolm X. Lee ingin memasukkan adegan ini ke dalam film, sehingga ia memilih syuting di Makkah.
Film Malcom X Menceritakan Kehidupan Secara Gamblang
Mewujudkan film Malcolm X membutuhkan waktu bertahun-tahun karena skenario ditulis oleh James Baldwin, Arnold Perl, Charles Fuller, dan David Mamet berdasarkan buku The Autobiography of Malcolm X karya Malcolm X dan Alex Haley. Spike Lee akhirnya dipilih untuk menggarap skenario Baldwin dan Perl. Ia melakukan riset tambahan dan menulis ulang skenario agar sesuai dengan visinya.
Lee ingin menghidupkan kembali kisah Malcolm X bagi masyarakat yang sering mendapatkan informasi yang tidak akurat tentang sosok tersebut. Karena risetnya yang mendalam, film Malcolm X dinilai sangat akurat dengan kisah asli Malcolm. Saat diwawancarai LA Times, Lee mengatakan, “Malcolm X menjadi inspirasi yang kuat bagi semua kelompok kulit hitam karena ia berjuang untuk melawan penindasan.”

Syuting di Kota Suci Makkah
Film yang syuting di Makkah, tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan kota suci umat Islam, belum pernah dilakukan sebelumnya di luar film dokumenter. Lee menghadapi kesulitan saat meminta izin syuting kepada pemerintah Saudi. Warner Bros. Pictures awalnya tidak setuju dengan rencana syuting di Makkah karena masalah anggaran dan perizinan yang rumit. Lee nekat mendanai adegan tersebut sendiri.
Nonmuslim tidak diperbolehkan masuk ke Makkah. Oleh karena itu, Lee tidak bisa menggarap adegan di Makkah langsung. Ia mempekerjakan dua tim yang semuanya muslim untuk merekam adegan haji. Satu tim syuting pada Mei 1990 dan yang lainnya pada Juni 1991. Akibatnya, Lee tidak bisa mengawasi pengambilan gambar.

Keimanan Malcolm X dalam Film
Akhirnya, Lee diizinkan untuk syuting di Makkah karena status Malcolm X sebagai seorang mualaf. Kesepakatan ini disetujui oleh Raja Fahd dari Arab Saudi. Film ini mendokumentasikan ibadah haji Malcolm X dan membentuk gambaran impresionistik tentang perjalanan spiritualnya di kota suci tersebut. Hasilnya sangat mengharukan dan menjadikan film ini sebagai salah satu karya terbaik Spike Lee.
Film Malcolm X masih dianggap legendaris hingga saat ini. Berbeda dengan kebanyakan film biografi, film ini menjadi eksplorasi budaya, nilai-nilai, revolusi, dan agama. Film ini bisa dibilang sebagai studi tentang masalah rasial sepanjang sejarah dan bagaimana seorang laki-laki menggunakan imannya sebagai payung bagi seluruh umat manusia.
Adegan di Makkah dalam film ini dianggap sebagai momen yang manis dan mengharukan. Adegan tersebut menjadi titik balik spiritual dalam hidup Malcolm X. Ini jauh berbeda dari materi revolusioner Nation of Islam yang membentuk sebagian besar filmnya.
Film Malcolm X bisa menjadi pilihan jika kamu tertarik dengan biopik. Malcolm X adalah pahlawan revolusioner yang tak mudah dilupakan dalam sejarah. Apalagi, hidupnya semakin dipuji saat ia menjadi seorang mualaf dan menunaikan ibadah haji ke Makkah. Tertarik untuk menonton?







