Ketegangan di Teluk Arab Meningkat dengan Pernyataan Tegas Iran
Ketegangan di Teluk Arab kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas mengenai penguatan militer Amerika Serikat di kawasan. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut tidak membuat Teheran merasa takut.
Pernyataan ini disampaikan setelah kunjungan Steve Witkoff, utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Timur Tengah, ke kapal induk USS Abraham Lincoln yang beroperasi di perairan dekat Iran. Dalam sebuah forum di Teheran, Araghchi menyatakan bahwa pengembangan kekuatan militer AS di wilayah ini tidak membuat Iran takut. Ia menambahkan bahwa Iran tidak menginginkan perang, tetapi siap bertindak jika diperlukan.
“Kami bangsa yang diplomatis, tetapi juga bangsa yang mampu berperang. Itu tidak berarti kami mencari perang,” katanya. Kunjungan Witkoff dan Jared Kushner ke kapal induk tersebut dimaksudkan untuk menegaskan pesan Washington tentang “perdamaian melalui kekuatan.” Dari atas kapal, Witkoff menyatakan dukungan penuh terhadap sikap Trump, sembari menyinggung keberhasilan pasukan AS menembak jatuh drone Iran. Namun, nada keras ini berjalan beriringan dengan jalur lain yang lebih lunak: diplomasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Pembicaraan Diplomasi dan Kekuatan Militer
Pembicaraan tidak langsung yang difasilitasi Kesultanan Oman di Muscat, Jumat lalu, menjadi pertemuan pertama sejak Amerika Serikat melancarkan serangan ke situs nuklir Iran pada Juni 2025, dalam konflik 12 hari yang dipicu oleh Israel. Menariknya, kedua pihak sama-sama menggambarkan pertemuan itu secara positif. Presiden Trump menyebutnya “sangat baik,” sementara Araghchi menilai suasananya “sangat positif.”
Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Sabtu (7/2/2026), Araghchi menegaskan bahwa isu nuklir Iran hanya bisa diselesaikan melalui jalur negosiasi. Ia menyebut dialog dengan AS sebagai “titik awal yang baik,” meski mengakui jalan menuju pemulihan kepercayaan masih panjang. Iran, kata dia, siap mencapai “kesepakatan yang meyakinkan” terkait pengayaan uranium, namun menegaskan bahwa pengayaan nol berada di luar agenda perundingan.
“Pengayaan adalah hak yang dijamin dan harus terus berlanjut,” tegasnya. Bahkan, menurut Araghchi, pemboman pun gagal menghancurkan kemampuan Iran. Ia juga menegaskan bahwa program rudal Iran tidak akan menjadi bahan perundingan, karena merupakan bagian dari pertahanan nasional. Pembicaraan dengan AS, lanjutnya, bersifat tidak langsung dan terbatas secara eksklusif pada isu nuklir.

Rudal balistik Iran. – (EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENARE)
Strategi Pertahanan Baru Iran
Di sisi keamanan kawasan, Araghchi menekankan bahwa Iran tidak menargetkan negara-negara tetangga. “Kami tidak menyerang negara tetangga; kami menargetkan pangkalan AS di kawasan. Perbedaannya sangat besar,” ujarnya. Ia mengakui Iran tidak memiliki kemampuan menyerang wilayah Amerika Serikat, tetapi siap membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di kawasan jika diserang.
Sementara jalur diplomasi dibuka, Iran secara paralel memperkuat postur militernya. Ketegangan di Teluk Arab meningkat setelah Teheran mengungkap taktik pertahanan baru yang mengandalkan ranjau laut canggih dan sistem pertahanan terintegrasi. Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Angkatan Laut Iran kini mengoperasikan sistem peletakan ranjau yang terhubung dengan radar pantai, drone, sensor bawah laut, dan sistem peperangan elektronik.
Strategi ini dirancang untuk memanfaatkan geografi sempit Teluk Arab dan Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar sepertiga pengiriman minyak dunia. Iran tidak sekadar mengandalkan ranjau konvensional, tetapi juga ranjau pintar dengan sensor akustik, magnetik, dan hidrodinamik, yang diklaim mampu meningkatkan akurasi sekaligus meminimalkan risiko terhadap kapal sipil. Model-model seperti Sadaf-2, Nafez-2, dan Arvand disebut memiliki mobilitas dan daya kejut lebih tinggi, sebagaimana diberitakan Al Jazeera dan Asharq al Awsath.

Kapal cepat Garda Revolusi Iran mengelilingi kapal tanker minyak berbendera Inggris Stena Impero pada Ahad, 21 Juli 2019 di pelabuhan Iran di Bandar Abbas, setelah kapal itu ditangkap di Selat Hormuz dua hari sebelumnya. – (Morteza Akhoondi/Tasnim News Agency via AP)
Kekuatan Rudal dan Pengembangan Strategis
Analisis citra satelit yang dilaporkan New York Times menunjukkan prioritas strategis Iran pasca-serangan Israel dan AS tahun lalu. Dari sekitar 24 lokasi yang diserang pada Juni 2025, lebih dari separuh menunjukkan aktivitas pemulihan. Menariknya, fasilitas rudal, seperti pusat pengujian Shahroud, dipulihkan jauh lebih cepat dibanding fasilitas nuklir di Isfahan, Natanz, dan Fordow.
Para analis menilai hal ini mencerminkan kalkulasi Tehran bahwa dalam jangka pendek, kemampuan rudal balistik merupakan pencegah paling efektif. Penguatan arsenal rudal dipandang sebagai “perisai” bagi aset nuklir, bagian dari konsep pertahanan berlapis untuk mencegah serangan lanjutan.
Perhatian juga tertuju pada kompleks militer Parchin, tempat dibangunnya struktur silinder raksasa sepanjang sekitar 150 kaki. Meski tujuan pastinya belum jelas, keberadaannya memicu spekulasi tentang fungsi strategisnya, baik untuk pengembangan, perlindungan, maupun antisipasi serangan. Di lokasi lain, seperti Isfahan, aktivitas penimbunan pintu terowongan dengan tanah baru ditafsirkan sebagai langkah pengamanan aset bernilai tinggi.
Nada pencegahan ini ditegaskan Kepala Staf Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi. Ia menyatakan seluruh angkatan bersenjata siap merespons setiap agresi atau kesalahan perhitungan musuh secara tegas dan segera. “Kami tidak akan memulai perang, tetapi kami tidak akan ragu membela keamanan nasional kami,” ujarnya.







