JAKARTA — Persaingan dalam industri online travel agent (OTA) di masa depan diperkirakan akan semakin ketat. Hal ini disebabkan oleh langkah yang diambil oleh maskapai penerbangan untuk mengembangkan kanal distribusi sendiri, sehingga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada platform OTA.
Menurut Nailul Huda dari Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), arah kompetisi OTA kini tidak hanya terbatas pada persaingan antarplatform, tetapi juga langsung berhadapan dengan maskapai penerbangan. Ia menjelaskan bahwa maskapai saat ini sedang aktif membangun aplikasi atau website mereka sendiri sebagai saluran penjualan tiket pesawat.
“Saya rasa arah persaingan untuk OTA adalah persaingan dengan maskapai. Maskapai saat ini mengembangkan aplikasi atau website sendiri,” ujarnya.
Huda menilai bahwa OTA selama ini berperan sebagai middleman yang memperoleh keuntungan dari setiap transaksi. Namun, jika maskapai mampu menawarkan harga yang lebih murah melalui kanal distribusi mereka sendiri, maka OTA harus bersaing langsung dengan pihak yang memiliki armada pesawat.
Oleh karena itu, lanjut Huda, OTA biasanya melakukan bundling dengan layanan lain, seperti hotel, layanan aktivitas (activities), maupun layanan pendukung lainnya. “Jika tidak demikian, tidak ada nilai tambah dari OTA,” imbuhnya.
Ia menekankan bahwa inovasi menjadi kunci keberlangsungan bisnis OTA ke depan, terutama dalam hal mengemas produk secara matang agar tetap relevan dan memiliki daya saing. “Termasuk juga dengan AI untuk mengatur algoritma dari pengguna OTA. Data pencarian dan sebagainya pasti terekam dalam data mereka,” kata Huda.
Penggunaan artificial intelligence (AI) dalam penawaran produk kepada konsumen dinilai sangat membantu. Menurut Huda, pengguna seringkali bingung dalam memilih layanan aktivitas di daerah tujuan wisata. Dalam hal ini, AI dapat memberikan rekomendasi yang relevan sesuai kebutuhan dan preferensi pengguna.
Perluasan penggunaan AI dalam bisnis OTA ini menjadi salah satu strategi yang dilakukan oleh beberapa pemain utama di pasar. Salah satunya adalah Traveloka, sebuah startup OTA yang baru-baru ini melakukan penyesuaian organisasi yang berdampak pada sejumlah karyawan.
Manajemen Traveloka menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah dinamika industri. “Langkah ini kami ambil sebagai bagian dari penyesuaian organisasi agar perusahaan dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kapabilitas dan pemanfaatan teknologi ke depan,” ujar manajemen Traveloka.
Meskipun keputusan tersebut tidak mudah dan berdampak terhadap sejumlah karyawan, Traveloka menegaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan agar perusahaan tetap dapat berfokus pada pengguna dan investasi jangka panjang.
Kendati melakukan penyesuaian organisasi, Traveloka memastikan proses rekrutmen tetap berjalan, terutama untuk fungsi-fungsi strategis yang berkaitan dengan pengembangan teknologi, khususnya di bidang Artificial Intelligence (AI), data, produk, dan engineering di Indonesia, Singapura, dan China.
Traveloka juga menyampaikan apresiasi kepada karyawan yang terdampak serta memastikan dukungan selama masa transisi. “Kami menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kontribusi seluruh rekan yang terdampak, dan berkomitmen untuk memberikan dukungan yang diperlukan selama masa transisi ini,” tuturnya.







