Penyesuaian Organisasi Traveloka: Efisiensi dan Fokus pada Teknologi
Perusahaan online travel agent (OTA) Traveloka baru-baru ini melakukan penyesuaian organisasi yang berdampak pada sejumlah karyawan. Langkah tersebut menimbulkan berbagai tanggapan dari berbagai pihak, termasuk dari komunitas digital Indonesia. Salah satu lembaga yang memberikan pandangan adalah Indonesian Digital Empowering Community (Idiec), yang menilai bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh kondisi industri pariwisata.
Menurut Ketua Umum Idiec, Tesar Sandikapura, langkah yang diambil oleh Traveloka lebih terkait dengan optimalisasi internal perusahaan daripada faktor eksternal seperti kelesuan industri. Ia menegaskan bahwa kondisi pariwisata saat ini sudah mulai pulih, sehingga PHK yang dilakukan bukan disebabkan oleh kekurangan dana.
“Ini justru [Traveloka] ingin melakukan efisiensi, bukan karena kekurangan uang, tapi lebih ke efisiensi agar tidak jadi pemborosan atau kelebihan karyawan yang tidak produktif,” ujarnya.
Perubahan Strategi Bisnis dan Pemanfaatan Teknologi
Tesar menilai bahwa prospek OTA ke depan masih terbuka lebar, terutama dengan adanya perubahan strategi bisnis yang mengedepankan teknologi. Menurutnya, Traveloka menyadari perlunya melakukan perombakan dari sisi operasional, marketing, dan teknologi.
“Dan ketika melakukan perombakan inilah tentu ada PHK-PHK karena mereka yang melakukan optimasi di sisi operasionalnya dengan pemanfaatan teknologi AI,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa efisiensi ini bertujuan untuk membangun organisasi yang lebih ramping tetapi tetap agresif dalam pengembangan teknologi. Oleh karena itu, Traveloka kini fokus pada karyawan yang memiliki pengalaman di bidang teknologi, terutama teknologi berbasis AI.
Model Bisnis yang Lebih Efektif dan Regional
Tesar juga menilai bahwa model bisnis Traveloka ke depan berpotensi menjadi lebih efektif dan tersebar secara regional. Ia menyebutkan bahwa perusahaan bisa berkembang tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, atau Jepang.
“Tidak hanya di Indonesia. Jadi mungkin ada di Singapura, ada di Malaysia, atau ada di Jepang. Jadi mereka bisa tersebar di mana-mana, tapi timnya kecil, efektif, tapi juga isinya talenta yang sudah experience,” ujarnya.
Klarifikasi dari Manajemen Traveloka
Sebelumnya, Traveloka memberikan klarifikasi terkait langkah penyesuaian organisasi yang berdampak pada sejumlah karyawan. Manajemen perusahaan menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah dinamika industri.
“Langkah ini kami ambil sebagai bagian dari penyesuaian organisasi agar perusahaan dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kapabilitas dan pemanfaatan teknologi ke depan,” kata manajemen Traveloka.
Perusahaan mengakui bahwa keputusan tersebut tidak mudah dan berdampak terhadap sejumlah karyawan. Namun, mereka menegaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan agar perusahaan tetap dapat berfokus pada pengguna dan investasi jangka panjang.
Proses Rekrutmen Tetap Berjalan
Meskipun melakukan penyesuaian organisasi, Traveloka memastikan bahwa proses rekrutmen tetap berjalan, terutama untuk fungsi-fungsi strategis yang berkaitan dengan pengembangan teknologi. Fokus utama adalah di bidang artificial intelligence (AI), data, produk, dan engineering di Indonesia, Singapura, dan China.
Traveloka juga menyampaikan apresiasi kepada karyawan yang terdampak serta memastikan dukungan selama masa transisi. Mereka berkomitmen untuk memberikan dukungan yang diperlukan selama masa transisi ini.
“Kami menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kontribusi seluruh rekan yang terdampak dan berkomitmen untuk memberikan dukungan yang diperlukan selama masa transisi ini,” tuturnya.







