Penjelasan Teror yang Mengancam Ketua BEM UGM
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, bersama puluhan pengurusnya kini menghadapi ancaman teror yang semakin sistematis. Serangan ini diduga dipicu oleh kritik keras yang dilayangkan oleh mahasiswa terhadap alokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemerintahan saat ini. Teror kini merambah ke ranah personal dengan menyasar ibunda Tiyo Ardianto.
- Puluhan pengurus BEM UGM melaporkan bahwa mereka menjadi sasaran teror serupa.
- Aksi sistematis ini merupakan kelanjutan dari rangkaian ancaman penculikan, pesan gelap, hingga penguntitan yang sebelumnya mengincar ketua BEM UGM.
- Teror kini meluas hingga menyentuh ranah personal dengan menyasar sang ibunda.
Keheningan Tengah Malam yang Pecah
Keheningan tengah malam pecah saat ponsel ibunda Tiyo bergetar membawa pesan-pesan dari sosok misterius. Pesan tersebut berisi narasi jahat yang menuding putranya melakukan penggelapan dana selama menjabat sebagai pimpinan mahasiswa. Pasca-kritik tajam terhadap program MBG bergulir, Tiyo dan rekan-rekannya harus menghadapi kenyataan pahit bahwa serangan kini telah berpindah dari layar digital ke dunia nyata.
Diskusi Media Bersama KIKA
Dalam diskusi media bersama Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) pada Selasa (17/2/2026), Tiyo Ardianto membeberkan kronologi intimidasi ini sebagai bentuk nyata pembungkaman terhadap kebebasan akademik. Benang merah teror ini diduga kuat berhulu dari kritik pedas yang dilontarkan BEM UGM terkait tata kelola anggaran program unggulan pemerintah.
- Menurut pengakuan Tiyo, badai intimidasi mulai menerjang pada 9 Februari 2026, tepat setelah organisasinya melayangkan kritik terbuka terhadap arah kebijakan pemerintahan saat ini.
- Hal ini mencakup keberanian mereka dalam menggunakan diksi “Presiden Bodoh” serta sorotan tajam terhadap alokasi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG).
Narasi LGBT Hingga Fitnah Korupsi
Serangan awal berbentuk pembunuhan karakter melalui rekayasa digital dan penyebaran hoaks secara masif di media sosial. Upaya sistematis untuk menjatuhkan kredibilitasnya ini dilakukan dengan membanjiri ruang digital melalui narasi palsu.
- Ia difitnah dengan tuduhan asusila hingga korupsi dana kemahasiswaan.
- “Bahkan mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar ‘Awas LGBT di UGM’ dengan foto saya,” tutur Tiyo.
- Dalam keterangannya, Tiyo membeberkan bahwa wajahnya dieksploitasi melalui teknologi Artificial Intelligence (AI).
- “Bahkan ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu di-generate by Artificial Intelligence dengan tulisan bahwa Tio ini adalah langganan, Tiyo ini suka menyewa LC karaoke.”
Tuduhan Tak Berdasar Mengenai Manipulasi Data
Tidak hanya itu, di media-media juga muncul konten-konten sekaligus narasi yang luar biasa menghancurkan karakter. Yang pertama tadi, soal LGBT, yang bagi saya ini sangat menjijikkan.
- Ada yang menyebut bahwa Ketua BEM UGM punya relasi kuasa yang memungkinkan dari rekomendasi dia, itu ada orang-orang yang kemudian mendapatkan KIP. Dan dari orang-orang yang mendapatkan KIP itu, mereka punya kewajiban nyetor ke saya. Kira-kira gitu narasinya,” ungkapnya.
- Ia pun membantah tudingan tersebut.
- “Saya katakan ke beberapa orang bahwa kalau benar Tiyo Ardianto ini melakukan penggelapan dana, sudah barang pasti saya sudah diberhentikan dan tidak lagi menjadi Ketua BEM UGM,” tegasnya.

Terendus Rencana Operasi Pembunuhan
Eskalasi teror, menurut Tiyo, kini telah melampaui batas-batas dunia digital. Situasi yang semula hanya berupa serangan siber kini berubah menjadi ancaman keselamatan nyawa yang sangat nyata.
- Ia mengaku mendapat informasi tentang rencana operasi pembunuhan terhadap dirinya.
- “Selanjutnya ada juga teror dalam bentuk yang saya kira lebih canggih daripada nomor tidak dikenal, yaitu ada platform gerakan yang dihubungi oleh akun tidak dikenal yang mengaku sebagai dosen Unpad.”
- Orang yang mengaku dosen Unpad ini menceritakan bahwa dia mendapatkan bocoran dari satu lembaga negara—saya sebutkan di sini Badan Intelijen Negara (BIN). Nah, orang yang mengaku dosen Unpad ini menyampaikan bahwa BIN sudah menyiapkan operasi pembunuhan untuk Ketua BEM UGM.”
Ibunya Juga Jadi Sasaran Teror
Tiyo Ardianto mengakui bahwa tekanan paling berat yang ia rasakan adalah saat intimidasi mulai menyasar ibundanya. Baginya, serangan terhadap keluarga merupakan batas yang sangat menyakitkan untuk diterima.
- “Nah, selanjutnya yang terjadi pada ibu saya. Sebagai informasi, ibu saya ini bukan orang yang seperti saya,” kata Tiyo.
- “Jadi ibu saya adalah perempuan sederhana dari desa, yang sekolahnya saja bahkan tidak sampai pendidikan tinggi. Dalam kondisi kerentanan itu, ada pesan yang masuk ke ibu saya.”
- Isi pesan tersebut, lanjutnya, sangat menyudutkan.
- “Pesannya yang pertama adalah bahwa: ‘Anakmu Tiyo Ardianto itu sebagai Ketua BEM, dia nilap uang.’ Itu yang tadi. Yang kedua adalah bahwa ada berita: ‘Orang tua Ketua BEM kecewa karena anaknya nilap uang.’ Dua pesan itu yang sampai ke ibu saya. Dan ibu saya secara verbal, tanpa saya tanya, mengatakan bahwa ibu cukup takut. Ibu takut.”
Puluhan Pengurus BEM Ikut Menjadi Sasaran
Serangan ini nyatanya tidak hanya berhenti di lingkaran keluarga, karena sekitar 20 hingga 30 pengurus BEM UGM turut melaporkan adanya teror serupa.
- “Keesokan malamnya, itu kira-kira tanggal 15, sekitar 20-30 pengurus BEM—kami masih lakukan pendataan tentang berapa banyak yang menjadi korban dari teror ini, tapi sekitar 20-30—itu menerima teror juga dari nomor tidak dikenal. Yang pesannya juga sama dengan apa yang diterima oleh ibu: bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang,” tambahnya.
Kritik Terhadap Program MBG Terus Bergulir
Alih-alih mundur karena tekanan, Tiyo justru mempertegas sikap kritis BEM UGM terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam forum tersebut, ia kembali menyuarakan poin-poin keberatan organisasinya sebagai bentuk komitmen dalam mengawal kebijakan publik.
- “Ketika masalah kebangsaan kita adalah kebodohan dan akses pendidikan yang minim, justru direduksi solusinya pada MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sebenarnya tidak bergizi dan juga tidak gratis. Dan justru malah menjadi lahan korupsi yang luar biasa basah, sehingga lebih layak kita sebut sebagai ‘maling berkedok gizi’,” kritiknya.
- Ia juga menyoroti kontras anggaran.
- “Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun,” ujarnya.
Respons Pemerintah dan Sikap Tegas BEM UGM
Terkait polemik diksi “Presiden Bodoh”, ia pun angkat bicara.
- “Tentu kalau kita bicara presiden, ini bukan bicara soal personal, tapi bicara infrastruktur kekuasaan. Sehingga ketika kami menyebut bahwa ‘presiden bodoh’, kita tentu tidak bicara tentang kualitas IQ seorang yang bernama Prabowo Subianto, atau fungsi kognitif seorang Prabowo Subianto yang umumnya sudah sangat tua. Tidak. Kita fokus pada ada infrastruktur kekuasaan yang inkompeten, infrastruktur kekuasaan yang tidak menghargai ilmu pengetahuan. Itu yang ingin kami sampaikan melalui diksi ‘presiden bodoh’,” jelasnya.
- Ia juga menyinggung respons pemerintah, khususnya Menteri HAM Natalius Pigai.
- “Mohon maaf, Mas/Pak Natalius Pigai, saya ini enggak perlu tahu siapa yang melakukan teror. Yang dibutuhkan oleh publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara itu hadir di sana. Negara tidak boleh hadir sebagai teror itu sendiri. Tidak boleh sebagai orang yang mengklarifikasi bahwa mereka tidak melakukan teror. Kan yang terjadi justru semacam paranoia dari rezim, bahwa seolah-olah kita itu menduga mereka yang melakukannya,” tegasnya.
- Ia menutup dengan sikap tegas.
- “Saya fokus bahwa sampai hari ini negara, melalui seluruh lembaganya, tidak hadir di dalam teror yang dialami oleh tidak hanya saya, tetapi juga orang tua dan lebih dari 20 pengurus BEM UGM. Rangkaian teror yang kami terima ini bagi kami adalah bentuk dari kepengecutan rezim hari ini.”
- Meski demikian, ia memastikan langkah mereka tidak akan surut.
- “Pada prinsipnya, saya menyampaikan ke publik bahwa BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu untuk dikawal. Sehingga ke depan, tidak akan ada yang berbeda dari BEM UGM, siapa pun ketuanya nanti. Bahwa kemudian ada solidaritas yang lebih dan kewaspadaan yang lebih, itu adalah cara kami belajar. Tapi jangan bayangkan gara-gara teror ini kami kemudian berhenti,” pungkasnya.






