Peristiwa Tabrak Lari yang Mengubah Kehidupan Hartoyo
Pada dini hari tanggal 8 Februari 2026, sebuah peristiwa tabrak lari terjadi di depan Pasar Ngemplak Tulungagung. Peristiwa ini menimpa Hartoyo (62), seorang pengemudi becak motor (bentor) yang menjadi korban dari kecelakaan yang menyebabkan bentornya hancur dan terseret hingga sejauh 10 km ke wilayah Kediri. Akibat kejadian tersebut, Hartoyo harus berpisah dengan alat kerjanya yang telah menemani selama bertahun-tahun.
Peristiwa ini awalnya berjalan sangat cepat. Isuzu Panther yang dikemudikan oleh Mohammad Dimyati (62) menabrak bentor Hartoyo dari belakang saat sedang menata pindang dari kendaraan pengirim ke bentornya. Dalam kejadian tersebut, Hartoyo mengalami cedera di bagian pinggang dan beberapa luka lecet di tubuhnya. Selain itu, menantunya, Didik Purnomo (39), juga mengalami luka di kaki dan tangan.
Bentor Hartoyo tersangkut di bodi kiri Panther dan ikut terseret saat mobil melarikan diri ke arah Kabupaten Kediri. Bentor itu akhirnya lepas dari bodi Panther di sekitar Desa Pojok, Kecamatan Ngantru. Anggota Satlantas Polres Tulungagung mencoba mengejar dan menghentikan Panther, namun malah ditabrak. Akhirnya, Isuzu Panther berhenti setelah menabrak pom mini milik warga di Kras, Kabupaten Kediri.
Massa yang mengejar dari Tulungagung melampiaskan kemarahan mereka dengan mengeroyok Dimyati. Dalam aksi tersebut, Dimyati mengalami luka tusuk di tulang pipi kiri, sementara seorang anggota Satlantas Polres Tulungagung juga terkena pukulan massa hingga luka di kepala. Mobil Isuzu Panther juga dirusak dan digulingkan oleh massa.
Penggantian Bentor sebagai Bagian dari Proses Damai
Setelah kejadian tersebut, kasus tabrak lari ditangani oleh Polres Tulungagung, sedangkan laporan pengeroyokan terhadap pengemudi Panther diproses oleh Polres Kediri. Untuk memastikan proses damai antara kedua pihak, Satlantas Polres Tulungagung memberikan bantuan berupa penggantian bentor kepada Hartoyo.
Penggantian bentor dilakukan oleh Kasat Lantas Polres Tulungagung, AKP Mohammad Taufik Nabila, yang secara langsung menyerahkan unit baru kepada Hartoyo di kediamannya di Kelurahan Tertek, Kecamatan Tulungagung. Bentor pengganti menggunakan basis sepeda motor Suzuki Shogun 110R yang dikenal tangguh untuk aktivitas angkut barang.
Menurut Taufik, pemberian bantuan ini merupakan bagian dari upaya perdamaian antara Hartoyo dan Dimyati. Kedua pihak telah bertemu dan sepakat untuk damai. Namun, kondisi Dimyati masih dalam perawatan karena luka parah akibat pengeroyokan. Oleh karena itu, Satlantas Polres Tulungagung memutuskan untuk mengganti bentor agar proses damai bisa dilanjutkan.
Dimyati juga memberikan bantuan sukarela kepada Hartoyo, termasuk uang sebesar Rp 1,6 juta. Setelah gelar restorative justice (RJ), kedua pihak sepakat untuk menyelesaikan masalah secara damai.
Kenangan yang Tak Terlupakan
Hartoyo mengaku senang karena kini ia bisa kembali bekerja sebagai pengemudi bentor. Ia sempat menangis haru saat mengingat bentor lamanya yang hancur akibat kejadian tersebut. Bentor itu sudah lama ia gunakan untuk membesarkan anak-anaknya. Awalnya, ia membeli becak dengan cara diangsur sebesar Rp 15.000 per bulan selama 40 bulan. Beberapa tahun lalu, ia mengganti becak pancal menjadi bentor karena sakit lutut.
Bentor yang puluhan tahun menemani, dipasang mesin sepeda motor 2 tak jenis Suzuki RC 100 cc. Dengan bentor ini, Hartoyo tetap bisa bekerja, mengirimkan ikan pindang ke kios-kios pengecer di dalam Pasar Ngemplak. Sayangnya, bentor penuh kenangan itu kini remuk dan tidak bisa digunakan lagi. Hartoyo berencana menjualnya sebagai rongsokan.
Kini, bentor baru yang diberikan oleh Satlantas Polres Tulungagung lebih baik. Mesin Suzuki Shogun yang digunakan tidak membutuhkan oli samping. Hartoyo pun menyanggupi bahwa bentor ini hanya digunakan sebagai alat kerja untuk mengangkut barang di Pasar Ngemplak, bukan untuk mengangkut orang di jalan umum.
Keseharian Hartoyo
Setiap hari, Hartoyo menerima kiriman pindang dari pukul 00.00 WIB, dan selesai membagikan ke kios para pengecer sekitar pukul 05.00 WIB. Meskipun ada kesulitan awal, Hartoyo mengakui bahwa masalah ini sudah selesai. Ia bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh pihak lain.
Peristiwa tabrak lari ini sempat viral karena aksi pengejaran oleh massa dari Pasar Ngemplak hingga Kras, Kabupaten Kediri. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama dalam hal kesadaran berkendara dan pentingnya proses damai dalam menyelesaikan konflik.





