Kesempatan Langka untuk Magang di Jepang
Mahasiswa STIE Malangkucecwara, Mercidominick Fidelius Conrad Menachem Purba, mendapatkan kesempatan magang di Jepang. Kesempatan ini menjadi momen yang membanggakan sekaligus mengharukan bagi keluarga dan kampusnya.
Setelah sempat tertunda selama satu tahun, akhirnya Merci, sapaan akrabnya, dipastikan berangkat untuk menjalani program magang selama satu tahun di Negeri Sakura. Keberangkatan tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang yang dilalui oleh Merci dan keluarganya.
Perjalanan yang Tidak Instan
Sang ibu, Evita Liasari, mengungkapkan bahwa perjalanan Merci menuju Jepang tidak instan. Awalnya, Merci memiliki keinginan kuat untuk mencari pengalaman kerja di luar negeri. Ia pun mengikuti serangkaian seleksi hingga akhirnya dinyatakan lolos.
Namun, keberangkatan tersebut sempat tertunda karena belum tersedianya posisi magang, khususnya untuk peserta laki-laki. “Sudah dari setahun lalu sebenarnya ada kesempatan, tapi waktu itu belum ada posisi,” ujarnya. “Baru sekitar Januari kemarin ada kabar lagi dan akhirnya bisa berangkat.”
Rasa Bangga dan Haru
Sebagai orang tua, Evita mengaku bangga sekaligus terharu melihat perjuangan anaknya. Apalagi Merci merupakan anak tunggal yang selama ini selalu dekat dengan keluarga. “Ya pasti kangen, apalagi anak tunggal. Tapi kami melihat ini sebagai bagian dari proses pembelajaran.”
“Justru di sana dia bisa belajar mandiri, tidak bergantung pada orang tua,” tambahnya.
Manfaatkan Magang dengan Maksimal
Evita juga menilai kesempatan magang di luar negeri tidak datang kepada semua orang, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin. “Kesempatan seperti ini tidak banyak. Jadi kami sebagai orang tuanya ya harus mendukung penuh,” katanya.
Program Magang yang Berbeda
Sementara itu, Merci menjelaskan bahwa program magang yang akan dijalaninya berdurasi satu tahun dan membuat masa studinya mundur hingga semester delapan. Mahasiswa jurusan manajemen angkatan 2022 itu akan ditempatkan di bagian kitchen atau dapur, dengan jam kerja sekitar delapan jam per hari.
Meski tidak sepenuhnya sesuai dengan bidang studinya, Merci menilai pengalaman tersebut tetap memiliki keterkaitan, terutama dalam hal manajemen kehidupan. “Di sana kita belajar bukan hanya bekerja, tapi bagaimana mengelola kehidupan, keuangan, dan tanggung jawab.”
“Apalagi ini juga membawa nama kampus dan Indonesia,” jelasnya.
Persiapan yang Matang
Berbagai persiapan telah dilakukan, mulai dari mengikuti kursus bahasa hingga menyiapkan kebutuhan sesuai musim di Jepang. “Saya berangkat pas musim semi, jadi menyesuaikan barang bawaan. Selain itu yang penting juga persiapan mental,” ujarnya.
Kekhawatiran dan Keyakinan
Di balik semangat tersebut, Merci mengaku memiliki kekhawatiran, terutama dalam hal adaptasi di negara dengan empat musim. “Yang dikhawatirkan itu di awal, mungkin satu sampai satu setengah bulan pertama. Adaptasi bahasa, lingkungan, dan musim. Tapi saya yakin bisa dilewati,” tandasnya.







