Peredaran Uang Palsu Menjelang Idul Fitri Masih Mengkhawatirkan
Di tengah meningkatnya penggunaan transaksi digital, peredaran uang palsu menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H masih ditemui di berbagai daerah. Di Kota Malang, Polresta Malang Kota baru saja mengungkap kasus peredaran uang palsu dengan nilai hampir senilai Rp 100 juta. Kasus ini berhasil diungkap dan melibatkan tiga tersangka yang kini telah ditangkap. Meski demikian, polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengembangkan kasus tersebut.
Menanggapi hal ini, Bank Indonesia (BI) Malang mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan memahami ciri-ciri uang rupiah asli. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Siti Nurfalinda, menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat saat menerima uang tunai. Edukasi tentang cara membedakan uang asli dan palsu terus dilakukan agar masyarakat tidak mudah tertipu.
“Peredaran uang palsu kemungkinan masih ada. Karena itu masyarakat perlu tetap aware dan memahami ciri-ciri uang asli,” ujarnya.
Metode 3D untuk Memastikan Keaslian Uang
Cara paling sederhana untuk memastikan keaslian uang rupiah adalah dengan metode 3D, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang. Berikut penjelasannya:
Dilihat
Masyarakat bisa memperhatikan tampilan uang yang umumnya memiliki warna cerah serta gambar pahlawan dan ornamen yang terlihat jelas dan detail. Terdapat beberapa unsur pengaman seperti benang pengaman dan gambar tersembunyi yang dapat dilihat dari sisi tertentu.Diraba
Uang asli memiliki tekstur yang berbeda dengan kertas biasa. Beberapa bagian uang terasa timbul atau tidak rata, seperti pada gambar pahlawan, tulisan Bank Indonesia, serta angka nominal. “Biasanya kalau diraba ada bagian yang terasa tidak rata karena itu merupakan fitur pengamanan,” jelasnya.Diterawang
Masyarakat bisa mengarahkan uang ke cahaya untuk melihat tanda air (watermark) berupa gambar pahlawan dan angka nominal yang muncul samar pada bagian tertentu. Selain itu, bahan uang rupiah juga memiliki kualitas khusus sehingga lebih kuat dibandingkan kertas biasa dan tidak mudah rusak.
Laporan Tentang Uang Palsu yang Diterima BI
BI Malang mencatat adanya laporan terkait temuan uang palsu dalam beberapa waktu terakhir. Namun, sebagian besar data yang dimiliki berasal dari laporan resmi yang masuk melalui pihak kepolisian. “Kalau dari BI biasanya yang tercatat adalah yang sudah dilaporkan secara resmi ke kepolisian. Sementara yang ditemukan masyarakat belum tentu semuanya tercatat,” ungkap Linda.
Melalui edukasi tersebut, Linda berharap masyarakat semakin teliti ketika menerima uang tunai, terutama saat bertransaksi di pasar, toko, maupun tempat keramaian lainnya. “Dengan memahami ciri-ciri uang asli dan menerapkan metode 3D, masyarakat diharapkan dapat meminimalkan risiko menerima uang palsu dalam aktivitas sehari-hari,” tandasnya.







