Kolaborasi Internasional untuk Film Strange Root
PALARI Films akan menggelar ko-produksi internasional pada Mei 2027 melalui proyek film Strange Root (Keinginan), yang disutradarai sekaligus ditulis oleh Lam Li Shuen dari Singapura dan Mark Chua. Film ini merupakan kolaborasi dengan perusahaan produksi 13 Little Pictures, Singapura, serta partisipasi dari Indonesia, Jerman, Belanda, dan Filipina.
Film ini memiliki latar belakang di Singapura abad ke-11 dengan genre body horror mitologis. Dunia yang dibangun dalam film ini adalah semesta spekulatif di Kepulauan Singapura pada zaman Sriwijaya. Li Shuen menjelaskan bahwa karena Singapura sangat kecil, mereka tidak memiliki lokasi yang sesuai untuk syuting. Oleh karena itu, Indonesia menjadi pilihan terbaik bagi mereka.
Li Shuen dan Chua bisa bekerja sama dengan Palari Films karena mengenal produser Meiske Taurisia saat mengikuti program untuk penulis naskah, sutradara, dan produser MyLab Film di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada 2023 lalu. Saat itu, Meiske menjadi mentor mereka. “Dari sana, saya rasa kami menjadi teman baik. Itulah awal mula kolaborasi ini terjadi,” ujar Li Shuen.
Produser Meiske Taurisia menegaskan bahwa cerita Strange Root memiliki kaitan dengan Asia Tenggara secara menyeluruh meskipun keduanya berasal dari Singapura. Apalagi, kedua sutradara memilih untuk syuting di Indonesia, sehingga cocok bekerja sama dengan Palari Films. “Artinya otomatis ada pemain dari Indonesia, bahasa Indonesia, dan kru juga. Karena itu mereka menawarkan filmnya ke Palari Films untuk bisa syuting di Indonesia dan ditayangkan di Indonesia,” jelasnya.
Proses Pengembangan Film
Li Shuen menjelaskan bahwa film panjang ini akan mulai proses syuting pada Mei 2027, dengan persiapan yang sudah dimulai sejak sekarang. “Kami telah mengembangkan proyek ini selama lebih dari dua tahun. Saat ini kami banyak berfokus pada pembangunan dunia dari semesta cerita ini, yang merupakan hal yang sangat penting bagi kami,” ujarnya.
Cerita ini berangkat dari kisah seorang setengah dewa yang lahir dari umbi keladi. “Ia memiliki benjolan yang tumbuh di lehernya. Orang-orang di pulau tersebut dapat memakan bagian dari lehernya,” kata Li Shuen.
Chua menambahkan bahwa dalam proses pengembangan sejauh ini, mereka fokus pada pembangunan dunia dan membuat uji coba awal, karena ingin menciptakan sebuah semesta. “Jadi, kami membuat video game, pameran, untuk mengeksplorasi semesta ini. Kami berharap semesta ini bisa berkembang bersama filmnya. Jadi tidak hanya berhenti pada film, mungkin akan ada film berikutnya dan bisa jadi video game,” tambahnya.
Makna Genre Body Horror
Li Shuen menjelaskan alasan dirinya dan suaminya memilih genre body horror spekulatif karena semangat menciptakan mitologi baru yang terinspirasi dari mitologi Asia Tenggara. “Jadi, kami memadukan mitologi dan body horror untuk membayangkan ulang sejarah pra-kolonial pulau kami. Dengan begitu, kami bisa menggunakannya untuk memikirkan siklus kekuasaan dan obsesi di kawasan kami,” ujarnya.
Selain itu, Chua menyebut bahwa pasangan ini sering bercanda bahwa mereka bertemu secara sinematik di ruang operasi, karena keduanya punya banyak pengalaman berada di ruang operasi. “Hal itu menjadi inspirasi yang agak aneh tentang bagaimana kami mengeksplorasi diri sendiri, dan dari bawah kulit kami,” katanya.
Bagi Li Shuen, body horror juga merupakan cara mereka melihat realitas sekitar. “Dan untuk merefleksikan kengerian dalam kehidupan nyata melalui kengerian dalam sinema,” tuturnya.
Sinopsis Strange Root
Di Singapura abad ke-11, Akshat, seorang demi-dewa yang lahir dari umbi keladi, selama bertahun-tahun menjadi tubuh yang dipersembahkan, daging sucinya disantap secara ritual oleh para penghuni pulau. Namun ketika seekor makhluk asing yang misterius terdampar di pesisir, para warga meninggalkan Akshat sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah Bidu, seorang buangan licik yang tetap memakan tubuh Akshat, sembari mengaduk kekacauan di sekeliling mereka demi kepentingannya sendiri.
Terperangkap dalam pengkhianatan, rasa sepi, dan hasrat yang membusuk, Akshat perlahan tenggelam ke dalam kegilaan dan kecemburuan—meluncur menuju sebuah konfrontasi yang brutal sekaligus erotik, di mana batas antara dewa dan binatang luluh.







