Gencatan Senjata yang Tidak Pasti
Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel yang kini dilaporkan berada dalam fase gencatan senjata yang rapuh, masih menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang yang lebih besar. Kecemasan ini muncul setelah laporan dari kantor berita Fars, yang mengutip narasumber, menyebutkan bahwa delegasi dari Teheran tidak berniat untuk hadir dalam pembicaraan.
Salah satu alasan utama adalah ketidaktertarikan Israel untuk mematuhi kesepakatan awal seusai syarat yang diajukan Iran, yaitu menghentikan serangan terhadap Lebanon, khususnya terhadap gerakan Hizbullah. Sebagai informasi tambahan, setelah gencatan senjata diumumkan antara AS dan Iran, Israel tetap melanjutkan serangan terhadap Lebanon pada 8 April 2026.
Kini, Pakistan, sebagai mediator, telah menyiapkan ruang negosiasi di Islamabad pada Sabtu (11 April 2026). Namun, kabar ketidakbersediaan Iran untuk datang ke Pakistan ini muncul ketika laporan media internasional menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Bager Ghalibaf telah melakukan perjalanan ke Pakistan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
Wapres AS Berangkat ke Pakistan, Kedua Kubu Saling Curiga
Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance, pada Jumat (10 April 2026) dilaporkan sudah berangkat ke Pakistan untuk mengikuti pembicaraan yang sangat dinantikan antara Teheran dan Washington. Pembicaraan ini bertujuan untuk menegosiasikan perdamaian abadi di Asia Barat.
Diskusi tersebut menyusul gencatan senjata rapuh yang dicapai pada 7 April, yang berhasil meredakan sekitar 39 hari konflik intens yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Perang ini menyebabkan harga minyak melonjak melewati $100 per barel dan memberikan pukulan berat bagi perekonomian regional maupun prospek pertumbuhan global.
“Perundingan Islamabad” diadakan dalam lingkungan yang sangat tidak pasti, di mana kedua belah pihak semakin saling mencurigai. Aspek-aspek kunci dari gencatan senjata masih diperdebatkan, termasuk penghentian pengeboman Israel di Lebanon.
Beberapa laporan media menunjukkan bahwa Teheran telah mengancam akan menarik diri dari negosiasi jika serangan Pasukan Pertahanan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut. Kebingungan ini muncul dari interpretasi yang saling bertentangan mengenai syarat-syarat gencatan senjata.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif secara terbuka mengunggah di X bahwa penghentian pertempuran di Lebanon adalah bagian dari kesepakatan tersebut, sebuah unggahan yang, menurut laporan media, dibagikan kepada Kantor Perdana Menteri di Islamabad oleh Washington sendiri. Namun, baik Israel maupun Gedung Putih kemudian membantah hal tersebut.
Teheran, di pihak lain, telah memperjelas bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz yang vital selama serangan Israel masih berlanjut.
Delegasi AS akan dipimpin oleh Vance dan juga akan menyertakan Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump, menurut Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Saat berbicara kepada wartawan sebelum keberangkatan, Vance menyampaikan nada optimistis namun hati-hati. Dia mengatakan bahwa Washington terbuka untuk keterlibatan konstruktif jika Iran mendekati pembicaraan dengan itikad baik.
“Kami menantikan negosiasi tersebut. Saya pikir itu akan positif. Seperti yang dikatakan Presiden Amerika Serikat, jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan,” katanya.
Namun, ia memperingatkan kalau Washington tidak akan menerima jika Iran mencoba bermain-main di meja perundingan.
“Jika mereka mencoba mempermainkan kita, maka mereka akan mendapati bahwa tim perundingan tidak akan menerima hal itu,” tambah Vance.
Putaran pertama pembicaraan dijadwalkan pada Sabtu pagi, waktu setempat.






