Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengambil langkah tegas dalam mencegah kecurangan selama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) tahun 2026. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan memutus jaringan komunikasi di sekitar lokasi ujian. Unnes menjadi salah satu kampus yang ditunjuk sebagai pusat pelaksanaan UTBK 2026, sehingga pihak universitas harus memastikan proses ujian berjalan dengan transparan dan aman.
Kepala Hubungan Masyarakat Unnes, Surahmat, menjelaskan bahwa pemutusan jaringan komunikasi dilakukan untuk mencegah peserta ujian berkomunikasi dengan pihak luar yang berniat melakukan kecurangan. Untuk melaksanakan hal ini, pihak universitas menggunakan alat jammer sinyal internet. Menurut Surahmat, upaya ini dilakukan demi meminimalkan risiko kecurangan, karena Unnes bekerja sama dengan pengawasan pemerintah.
Selain itu, pengawasan juga dilakukan secara berlapis. Surahmat menyatakan bahwa peserta dilarang membawa alat bantu apa pun ke ruang ujian. Untuk memastikan hal tersebut, Unnes menggunakan metal detector guna mendeteksi perangkat mencurigakan yang dibawa oleh peserta.
Dalam hal keterlambatan, Unnes memberlakukan toleransi sesuai aturan yang ditetapkan oleh panitia pusat. Namun, jika peserta datang setelah waktu ujian dimulai, maka mereka tidak diperkenankan mengikuti ujian dan otomatis dinyatakan gugur.
Di tempat lain, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), sistem yang digunakan berbeda. UGM menerapkan sistem operasi khusus berbasis Linux untuk mencegah praktik kecurangan selama UTBK 2026. Direktur Direktorat Teknologi Informasi UGM, Ridi Ferdiana, menjelaskan bahwa sistem ini dijalankan melalui media USB, sehingga mencegah penggunaan perangkat lunak jarak jauh yang sering dimanfaatkan untuk kecurangan.
Sistem operasi khusus ini dirancang dalam lingkungan yang terkontrol, dengan aplikasi yang terintegrasi. Ridi menegaskan bahwa sistem ini tidak akan mengganggu jalannya ujian. Lingkungan sistem yang tertutup membantu menjaga fokus dan keamanan proses ujian dari intervensi luar.
UGM juga mengoperasikan empat unit server untuk mendukung pelaksanaan UTBK 2026. Ridi menyatakan bahwa seluruh server telah melewati uji beban dan uji coba nasional. Selain itu, UGM menerapkan mekanisme failover dalam sistemnya. Mekanisme ini termasuk sistem pemantauan agar layanan tetap berjalan normal meski ada gangguan di salah satu server. Jika terjadi kendala pada satu server, sistem akan langsung dialihkan ke server lain agar peserta tetap bisa melanjutkan ujian.
Dalam pelaksanaan UTBK 2026, panitia telah menemukan beberapa modus kecurangan yang dilakukan peserta. Contohnya, praktik joki yang ditemukan di berbagai titik tes UTBK, seperti di Universitas Sulawesi Barat. Selain itu, panitia SNPMB 2026 juga menemukan peserta yang membawa alat bantu. Salah satunya adalah penggunaan alat bantu dengar yang ditemukan di peserta UTBK di lokasi tes Universitas Diponegoro.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru 2026, Eduart Wolok, menjelaskan bahwa alat bantu dengar tersebut dipasang di lubang telinga peserta UTBK yang melakukan kecurangan. “Oleh panitia, peserta ini harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas alat bantu itu,” ucapnya.







