Kepadatan Lalu Lintas di Kota Malang Pada Tanggal 6-8 Februari 2026
Kota Malang akan menghadapi kepadatan lalu lintas besar-besaran pada tanggal 6 hingga 8 Februari 2026. Hal ini terjadi seiring digelarnya Puncak Peringatan Harlah Seabad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, yang diprediksi menarik ribuan jemaah dan undangan dari berbagai daerah.
Arus Kendaraan Diprediksi Meningkat Signifikan
Menurut perhitungan pihak terkait, lebih dari 1.000 bus dari berbagai wilayah akan memasuki Kota Malang untuk mengikuti rangkaian acara tersebut. Diperkirakan, arus kendaraan akan meningkat secara signifikan, terutama di sekitar area Stadion Gajayana dan sejumlah ruas jalan utama.
Penutupan beberapa jalan akan dilakukan selama dua hari, yaitu mulai Sabtu, 7 Februari pukul 12.00 WIB hingga Minggu, 8 Februari pukul 20.00 WIB. Penutupan ini dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan dan menjaga kelancaran lalu lintas selama acara berlangsung.
Ruas Jalan Yang Ditutup
Beberapa ruas jalan utama yang akan ditutup antara lain:
- Jalan Pahlawan Trip
- Jalan Ijen
- Jalan Retawu
- Jalan Wilis
- Jalan Semeru
- Jalan Welirang
- Jalan Lawu
- Jalan Merapi
- Jalan Buring
- Jalan Guntur
- Jalan Sumbing
- Kawasan Taman Slamet
Penutupan ini diperkirakan akan menyebabkan kemacetan di sejumlah titik, khususnya di akses menuju pusat kota, Kayutangan, dan kawasan olahraga Stadion Gajayana. Warga diimbau untuk menghindari jalur terdampak dan menggunakan alternatif lain selama pelaksanaan acara.
Rekayasa Lalu Lintas Tambahan
Pemkot Malang akan menerapkan rekayasa lalu lintas tambahan untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan bahwa rekayasa lalu lintas diputuskan dalam hasil Rapat Forum Lalu Lintas.
“Kami mengimbau warga bisa mengatur jadwal perjalanan, menghindari kawasan Stadion Gajayana, dan memantau informasi resmi dari kepolisian serta Dishub Kota Malang,” ujar Widjaja Saleh Putra kepada Infomalangraya.com.
Widjaja juga menyebut bahwa ada beberapa titik lokasi parkir insidentil di Kota Malang. Tarif di titik parkir insidentil tersebut akan berbeda, yaitu roda dua Rp 3.000 dan roda empat Rp 5.000. Parkir ini bersifat sementara karena ada agenda. Jika ada yang meminta tarif jauh dari ketentuan, warga diimbau melapor kepada petugas. Kami akan tindak jika terbukti pelanggaran,” paparnya.
Jumlah Peserta Diperkirakan Capai 100 Ribu Orang
Widjaja memperkirakan jumlah peserta mencapai 100 ribu orang lebih. Rombongan diperkirakan datang sehari sebelumnya.
Di tempat terpisah, Gereja Katedral Ijen tidak menyelenggarakan misa pada Sabtu. Gereja memutuskan hanya menyelenggarakan misa pada Minggu sore untuk dua kali penjadwalan.
Pengaturan Jadwal Misa
“Kami memahami situasi karena semua jalan ditutup. Kalau tetap mengadakan misa atau pagi sebenarnya bisa, tapi risikonya jemaat harus parkir jauh dan berjalan kaki,” ujar Petrus.
Pihak gereja kemudian mengadakan pertemuan dengan para pengurus dan juga berdiskusi langsung dengan uskup. Setelah mempertimbangkan kondisi jamaah dan potensi kepadatan, keputusan pun diambil: ibadah tetap digelar, namun dijadwalkan pada Minggu sore.
Jadwal misa pertama diselenggarakan pukul 16.30, sedangkan kedua pada 18.30. Pihak gereja memberlakukan sistem tersebut karena penutupan Jalan Besar Ijen selama kegiatan berlangsung.
“Biasanya misa enam kali, tapi sekarang hanya dua kali saja pada Minggu,” ujar Romo Paroki Gereja Katedral Ijen, Petrus Prihatin.
Petrus mengatakan telah berkomunikasi dengan Pemkot Malang melalui camat. Sebagai bentuk toleransi, pihak gereja mengubah jadwal misa. Bahkan pihak gereja juga menyediakan kursi maupun toilet jika ingin digunakan para tamu yang menghadiri Harlah Seabad NU.
Pihak gereja menegaskan tidak menerima komplain dari jemaat dan memastikan bahwa pilihan teknis ini telah dipahami bersama.
“Silakan apabila ada jemaat ingin misa di gereja yang tidak terdampak, seperti di Tidar, Landungsari, Sengkaling, atau Jalan Langsep,” tambahnya.







