Sejarah Kerajaan Cirebon dan Kehidupan Panembahan Giriloyo
Kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa memiliki sejarah yang kaya akan konflik dan intrik politik. Salah satu contohnya adalah kisah Panembahan Giriloyo, raja terakhir Kerajaan Cirebon yang wafat jauh dari pusat kerajaannya dan dimakamkan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanan hidupnya tidak lepas dari permainan kekuasaan antara Cirebon, Mataram Islam, dan Banten.
Awal Berdirinya Kerajaan Cirebon
Pada awalnya, wilayah Cirebon merupakan sebuah permukiman kecil yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Wilayah ini dipimpin oleh seorang kuwu bernama Pangeran Cakrabuana. Putrinya, Nyi Mas Pakungwati, menikah dengan Sunan Gunung Jati.
Pada tahun 1479, Pangeran Cakrabuana menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Sunan Gunung Jati. Dari sini, Cirebon memisahkan diri dari Pajajaran dan berhenti membayar upeti, sehingga menjadi kerajaan berdaulat.
Panembahan Giriloyo, Raja Terakhir Cirebon
Setelah wafatnya Sunan Gunung Jati, kepemimpinan Cirebon berganti tangan hingga akhirnya jatuh ke tangan Panembahan Giriloyo. Ia naik tahta pada tahun 1649 dengan gelar Panembahan Adiningkusuma atau Panembahan Ratu II.
Nama asli Panembahan Giriloyo adalah Raden Rasmi atau Pangeran Putra, cucu dari Panembahan Ratu I. Selama masa pemerintahannya, Cirebon masih menjadi pusat kajian keilmuan Islam. Aktivitas keagamaan seperti fikih dan tasawuf berkembang pesat dan dihormati masyarakat.
Konflik Politik dengan Mataram Islam
Masalah besar muncul ketika Amangkurat I, raja Mataram Islam dan juga mertua Panembahan Giriloyo, meminta Cirebon membujuk Banten agar bersahabat dengan Mataram dan menghentikan konflik dengan VOC. Panembahan Giriloyo sering mendatangi Banten namun gagal meyakinkan Sultan Ageng Tirtayasa.
Alih-alih tunduk pada Mataram, Sultan Ageng justru mengajak Cirebon bersekutu dengan Banten. Situasi ini membuat Amangkurat I curiga dan menilai Cirebon berpotensi membelot.
Ditahan sebagai Tahanan Politik
Amangkurat I kemudian mengundang Panembahan Giriloyo beserta istri dan kedua putranya ke Mataram dengan dalih upacara kehormatan. Setelah upacara selesai, mereka tidak diizinkan kembali ke Cirebon dan dijadikan tahanan politik.
Meski dalam status tahanan, Panembahan Giriloyo secara simbolis masih diakui sebagai raja Cirebon. Sementara itu, pemerintahan Cirebon dijalankan oleh Pangeran Wangsakerta di bawah pengawasan ketat Mataram Islam.
Wafat di Perantauan dan Dimakamkan di Bantul
Panembahan Giriloyo wafat pada tahun 1667 dalam masa penahanan. Jenazahnya dimakamkan di Makam Giriloyo, wilayah Kalurahan Wukirsari, Bantul. Makam tersebut kini menjadi situs sejarah yang menyimpan kisah kelam politik kerajaan di masa lalu.
Kedua putra Panembahan Giriloyo baru terbebas satu dekade kemudian, setelah Keraton Mataram diguncang serangan besar Raden Trunojoyo pada 1677.
Cirebon Terpecah Menjadi Tiga Kesultanan
Sepeninggal Panembahan Giriloyo, Kerajaan Cirebon resmi terpecah menjadi tiga kesultanan, yakni Kesultanan Kanoman, Kesultanan Sepuh, dan Kesultanan Kacerbonan. Perpecahan ini menjadi akhir dari Cirebon sebagai satu kerajaan utuh.
Kisah Panembahan Giriloyo menjadi bukti bahwa perebutan pengaruh dan kekuasaan telah membentuk perjalanan sejarah Nusantara. Hingga kini, makam sang raja di Bantul menjadi saksi bisu runtuhnya kedaulatan Kerajaan Cirebon akibat intrik politik antar-kerajaan.







