Harapan Regita Savira Putri dalam Menciptakan Ruang Belajar Aman
Laporan Wartawan Infomalangraya.com, Gilang Putranto & Garudea Prabawati
Infomalangraya.com
– Harapan Regita Savira Putri menciptakan ruang belajar aman dari kekerasan yang awalnya hanya seruan melalui media sosial, kini berhasil dituangkan dalam aksi nyata di ruang kelas melalui program kepemimpinan SDGs Academy Indonesia.
SDGs Academy Indonesia merupakan inisiatif pembelajaran dan peningkatan kapasitas komprehensif yang diluncurkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Tanoto Foundation, dan UNDP Indonesia untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainability Development Goals/SDGs).
Regita merupakan praktisi pengembangan kepemudaan sekaligus inisiator berdirinya EduEmpati, sebuah gerakan inisiatif yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas, aman, dan penuh empati. Fokusnya mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan pendidikan.
Regita menginisiasi EduEmpati pada 2023 atas keresahannya terhadap kasus kekerasan yang membayangi dunia pendidikan seperti bullying, intoleransi, dan kekerasan seksual.
“Salah satu trigger saya kenapa mau membuat EduEmpati adalah kasus kekerasan utamanya bullying di Indonesia tiap tahunnya terus meningkat. Kekerasan yang dialami siswa memberikan efek dalam jangka sangat panjang,” ungkap Regita kepada Infomalangraya.com, Selasa (3/2/2026).
Dampak kekerasan pada siswa tidak hanya mempengaruhi sisi akademis, namun juga psikis. “Kekerasan berpengaruh pada kepercayaan diri, siswa menjadi takut bersosialisasi, merasa diri mereka kurang, bahkan beberapa kasus sampai mengakhiri hidup,” lanjutnya.
Guru menjadi pihak yang perlu diberikan pendekatan untuk menciptakan lingkungan belajar aman dan inklusif. “Saya melihat sepertinya tidak hanya siswanya yang dapat pendekatan, namun juga gurunya. Oleh karena itu EduEmpati yang pertama fokus pendekatan ke guru dulu, tidak langsung siswa,” jelasnya.
Tajamkan Visi EduEmpati Lewat SDGs Academy
Memiliki minat terhadap SDGs sejak di bangku kuliah membuat Regita bersemangat mengikuti Program Kepemimpinan SDGs Academy Indonesia dari April hingga Agustus 2024. Regita mendapatkan berbagai ilmu dan perspektif dari para pakar. Tidak hanya teori, namun juga penerapannya.
Setelah lima bulan digembleng, para peserta dikelompokkan untuk membuat proyek pengimplementasian materi SDGs. Regita bersama Misbah Fikrianto, Nursakti Niko Rosandy, Maria Pankratia Mete Seda, dan Nur Hana Wijaya yang berasal dari berbagai latar belakang mematangkan EduEmpati untuk membuat proyek pelatihan terhadap guru.
Pilot project EduEmpati saat itu dilaksanakan bagi guru-guru SMPN 14 dan 5 Bekasi. Kegiatan ini bertujuan agar para guru memahami lebih mendalam mengenai dampak kekerasan di sekolah serta mampu mengenali tanda awal terjadinya bullying agar dapat dicegah. Para guru diberikan pengembangan strategi efektif mencegah dan menangani kasus bullying untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman.

“SDGs Academy Indonesia membuat EduEmpati bisa terimplementasikan langsung ke sekolah, bukan hanya angan-angan atau campaign di media sosial saja,” ungkapnya.
Selain di Bekasi, EduEmpati telah membagikan praktik baiknya kepada ratusan guru di Ambon dan Malang.
Masifnya Kekerasan di Sekolah
Menurut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), setidaknya ada 641 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang 2025. Sebanyak 46,25 persen kasus melibatkan relasi guru dengan siswa. Kasus antarsiswa mencapai 31,11 persen; orang tua terhadap anak 16,12 persen; dan relasi senior-junior 6,51%.
Fakta ini menunjukkan pelaku utama kekerasan di sekolah justru berasal dari pihak pemilik otoritas, kewenangan, dan legitimasi institusional. Tercatat 90% korban adalah siswa, sementara pelaku didominasi guru dan tenaga kependidikan (57%).
Jenis kekerasannya adalah kekerasan seksual (57,65%), bullying (22,31%), kekerasan fisik (18,89%), dan kekerasan lain (1,15%).
Sekolah Harus Jadi Tempat Aman
Regita menekankan sekolah harus menjadi tempat aman bagi siswa bertumbuh. Dari data yang ada, pendekatan terhadap guru memang menjadi prioritas. EduEmpati mengajak guru memetakan kasus kekerasan yang pernah terjadi di sekolah, lalu memikirkan bagaimana pencegahannya.
“Nanti kita bisa simpulkan, mana yang paling cocok diimplementasikan di sekolah. Ke depannya kami tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pendekatan langsung ke siswanya,” ungkap Regita.
Praktik Baik yang Ditawarkan
EduEmpati mendorong berpikir kritis demi menciptakan lingkungan pendidikan damai tanpa kekerasan, dengan langkah:
1) Memahami Akar Masalah
Guru perlu memahami bullying bukan fenomena sederhana. “Dengan berpikir kritis, guru dapat menggali lebih dalam mengenai akar penyebab bullying, seperti tekanan sosial, ketidakamanan diri, atau ketidakmampuan dalam mengelola emosi,” jelas Regita.
2) Menganalisis Situasi
Setiap kasus kekerasan memiliki keunikan masing-masing. “Perlu melihat situasi dari berbagai sudut pandang, mengidentifikasi faktor-faktor yang memperparah masalah, dan mencari solusi yang paling tepat,” ungkapnya.
3) Mengembangkan Strategi Pencegahan Efektif
Berpikir kritis mendorong guru mengembangkan strategi pencegahan bullying yang inovatif dan efektif. “Mereka didorong menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif, semua siswa merasa dihargai dan diterima,” tegasnya.
4) Menumbuhkan Empati Siswa
Berpikir kritis membuat guru dapat terbantu mengembangkan empati terhadap siswa. “Dengan memahami perspektif siswa yang berbeda, guru dapat lebih efektif dalam membangun hubungan positif dan saling percaya,” jelasnya.
5) Ajak Siswa Berpikir Kritis
Setelah guru mulai berpikir kritis, siswa juga perlu diajak hal yang sama. Sehingga, para siswa mampu mengenali tanda-tanda bullying, menolak menjadi pelaku atau korban bullying, serta membantu teman yang mengalami bullying.
Inspirasi dari EduEmpati
Langkah Regita bersama EduEmpati dan peran SDGs Academy Indonesia menunjukkan tujuan pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari aksi nyata dalam lingkup kecil, yaitu ruang kelas. SDGs memiliki 17 tujuan, yaitu: Tanpa Kemiskinan, Tanpa Kelaparan, Kehidupan Sehat & Sejahtera, Pendidikan Berkualitas, Kesetaraan Gender, Air Bersih dan Sanitasi Layak, Energi Bersih & Terjangkau, Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi, Industri, Inovasi, & Infrastruktur, Berkurangnya Kesenjangan, Kota & Permukiman yang Berkelanjutan, Konsumsi & Produksi yang Bertanggung Jawab, Penanganan Perubahan Iklim, Ekosistem Laut, Ekosistem Darat, Perdamaian, Keadilan, & Kelembagaan yang Tangguh, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Langkah EduEmpati tidak hanya berfokus mencapai tujuan SDGs poin keempat tentang pendidikan berkualitas, namun juga upaya mencapai poin 16, yaitu perdamaian dan keadilan. “Materi yang EduEmpati sampaikan juga tentang perdamaian. Jadi dua nilai atau tujuan ini paling dekat dengan kerja-kerja pengembangan EduEmpati di pendidikan berbasis empati,” ungkapnya.
Mengarusutamakan SDGs
Sementara itu Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional (Seknas) SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Arifin Rudiyanto mengungkapkan, 17 poin tujuan SDGs perlu diintegrasikan dalam berbagai kegiatan dan kebijakan. “Fokus utama gerakan SDGs ini ada pada transformasi pembangunan global yang berimplementasi pada integrasi sosial, lingkungan dan ekonomi dalam SDGs,” ujarnya pada awak media, Jumat (30/1/2026).
Lewat hal itulah SDGs Academy Indonesia bergerak dengan pendekatan pelaksanaan SDGs nasional yang bertumpu pada political will pemerintah, didukung landasan hukum yang kuat, serta dirancang dengan strategi terarah dan berkelanjutan.
SDGs Academy Indonesia memiliki lima kontribusi strategis dalam percepatan target SDGs 2030, yakni: Menjadi institusi rujukan utama dalam peningkatan kapasitas SDGs yang selaras dengan kebijakan pembangunan nasional. Membangun konsistensi kualitas konten pembelajaran yang modular dan mudah direplikasi untuk menyatukan narasi pembangunan di tingkat pusat maupun daerah. Menciptakan ruang kolaborasi multipihak yang menjangkau ASN, swasta, akademisi, hingga masyarakat umum dengan dukungan skema pendanaan mandiri dan beragam. Memperkuat kepemimpinan nasional melalui pengembangan kompetensi kepemimpinan lintas sektor untuk menjawab tantangan waktu yang terbatas menuju tahun 2030. Mendorong terciptanya community of practice melalui platform berbagi pengetahuan yang mendokumentasikan serta mendiseminasi solusi pembangunan adaptif dan berbasis bukti.







