Konvensi Nasional Media Massa 2026: Peran Informasi dalam Membentuk Imajinasi Kolektif
Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2026, Dewan Pers menggelar Konvensi Nasional Media Massa di Provinsi Banten, Minggu (8/2/2026). Acara ini menjadi ajang diskusi penting bagi para pemangku kepentingan media dan pemerintah tentang tantangan yang dihadapi industri media di era digital.
Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi, menjadi salah satu pembicara utama dalam konvensi tersebut. Ia menekankan betapa besar pengaruh informasi dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan arah masa depan sebuah bangsa. Menurutnya, informasi bukan hanya sekadar sarana komunikasi, tetapi juga kekuatan utama yang membentuk imajinasi kolektif masyarakat.
“Informasi yang luar biasa. Informasi tentang apa yang kita katakan, tentang apa yang kita pertunjukkan, tentang apa yang kita ulang-ulangi. Dan, informasi mempengaruhi apa yang ada di pikiran kita, di kepala kita,” ujarnya dalam acara tersebut.
Dahlan menjelaskan bahwa kemampuan masyarakat untuk berkumpul, bekerja sama, dan mengambil keputusan bersama sangat bergantung pada informasi yang diterima dan dipercaya. Ia menyebut proses ini sebagai collective imagination, yaitu imajinasi bersama yang terbentuk melalui arus informasi yang terus-menerus dikonsumsi publik.
“Informasi tidak hanya membentuk imajinasi kita, tapi mempengaruhi behavior, tentang pilihan-pilihan kita,” katanya. Dia menegaskan bahwa informasi secara langsung memengaruhi pilihan-pilihan konkret masyarakat, mulai dari konsumsi hingga keputusan politik.
Lebih lanjut, Dahlan mengajak peserta konvensi untuk melihat konsep negara sebagai sebuah konstruksi imajinatif yang hidup karena informasi yang terus direproduksi. Menurutnya, keberadaan negara tidak bersifat fisik seperti benda, melainkan terus dihidupkan melalui simbol, ritual, dan institusi.
“Karena dia (negara) adalah realitas imajinatif, dia harus diingatkan terus menerus. Kita harus menyanyi lagu Indonesia Raya. Hari ini kita dua kali nyanyi lagu Indonesia Raya. Kita harus kibarkan bendera merah putih. Kita harus ada polisi. Kita harus ada kantor pemerintah. Kita harus ada menteri, ada wamen. Itu cara mengingatkan kita bahwa ada entitas namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.
Namun, Dahlan mengingatkan bahwa semua entitas tersebut sejatinya hidup dalam kesadaran bersama masyarakat. “Dan suatu waktu kita bisa lupa. Bhinneka Tunggal Ika itu juga imajinasi, bahwa berbeda itu baik. Tapi kita bisa lupa. Kesejahteraan sosial, demokrasi itu imajinasi. Itu bukan realitas,” katanya.
Industri Media Menghadapi Disrupsi Dua Kali
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan bahwa industri media massa mengalami dua kali disrupsi yang membuatnya ‘sempoyongan’. Disrupsi secara sederhana diartikan sebagai perubahan besar dan cepat yang mengganggu atau menggantikan sistem, cara kerja, atau pola lama akibat hadirnya inovasi baru, terutama teknologi.
Menurut Nezar, disrupsi pertama datang dari internet, yang membuat media tradisional bermigrasi ke digital. Lalu disrupsi kedua datang dari teknologi baru seperti artificial intelligence (AI).
“Dalam dua disrupsi ini industri media goyang, sempoyongan, dan mencoba mencari bentuk yang baru,” tambahnya.
Meski begitu, Nezar mengungkapkan perlunya berbicara bagaimana ekosistem yang terbangun di tengah disrupsi ini bisa menopang jurnalisme yang berkualitas. Ia menyoroti bahwa disrupsi platform digital saat ini boleh dikatakan mengarah kepada value extraction without value return, yaitu ekstraksi nilai tanpa pengembalian nilai.
Media Massa Perlu Kekhasan
Nezar Patria juga memberikan pandangannya supaya industri media tetap eksis di tengah gempuran AI. Ia menekankan pentingnya fokus pada non-replicable journalism—jurnalisme yang tidak bisa direplikasi. Menurutnya, jika media massa hanya membuat pemberitaan yang biasa-biasa saja, maka engine AI akan mengunyah semua data itu dan merangkumnya.
“Sehingga hampir tidak ada kekhasan apa pun, yang kita baca bukan jurnalistik, namun hanya ringkasan. Itu beda,” ungkapnya.
Ia menilai, jurnalisme berkembang cukup intens termasuk bagaimana keterampilan jurnalis membuat story telling dalam sebuah informasi yang dapat membangkitkan sisi human interest. Jika semua kemudian menggantungkan kepada platform tanpa punya kekhasan, ia khawatir akan diseragamkan oleh search engine dan AI.
“Karena itu saya kira untuk media, selain bisa memproduksi non-replicable, konten-konten unik, yang khas, yang otentik, saya kira itu penting untuk melawan konten-konten yang di-generate oleh AI,” ujarnya.







