Bisnis Es Batu: Usaha yang Selalu Cair Meski Dibayangi Cuaca

Bisnis es batu menjadi salah satu pilihan usaha yang cukup menjanjikan. Meskipun konsumsi es batu tergantung pada kondisi cuaca, bisnis ini tetap memiliki permintaan yang stabil. Saat hujan, orang-orang cenderung memilih minuman hangat, namun bisnis es batu tetap tidak pernah sepi. Hal ini membuktikan bahwa bisnis ini memiliki likuiditas tinggi dan selalu menghasilkan keuntungan.
Restu, salah satu penjual es batu kristal dan balok di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjelaskan bahwa bisnis es batu selalu cair, baik saat panas maupun hujan. Ia mengatakan, “Iya yang namanya bisnis es ya selalu cair, panas atau hujan selalu cair.” Depot es batu kristal dan balok yang berada di sekitar Tugu Tani tersebut sudah beroperasi sejak tahun 1990-an. Menurut Restu, banyak dari para penjual es batu di Jakarta berasal dari daerah Madura, Jawa Timur.
“Kalau ini sudah ada sebelum tahun 2000. Asal saya Madura, (pemilik bisnis) sama orang Madura juga. Rata-rata tukang es di Jakarta memang orang Madura,” ujar Restu. Ia menjelaskan bahwa rata-rata es batu kristal yang terjual sekitar 30 kantong setiap harinya. Depot tersebut buka mulai pukul 5.00 WIB sampai 17.00 WIB, namun tetap menerima pesanan via pesan singkat selama 24 jam.
“Enggak tentu sih, apalagi kondisi cuaca kayak gini, cuaca ngaruh ke jumlah konsumsi es, kalau cuma buat pendingin air juga sama. Kalau lagi panas ya Alhamdulillah habis 30 kantong es kristal,” jelasnya. Namun, ia mengakui bahwa jika sedang musim hujan, penjualan bisa turun sekitar 8 persen dari kondisi normal. Meskipun begitu, ia tetap pantang menyerah dalam berjualan.
“Kalau hujan begini ya menurun juga sih, kira-kira 8 persen lah tapi tetap ada aja yang beli. Biasanya pedagang di pinggir-pinggir jalan, lalu restoran juga ada. Pantang menyerah, enggak ambil bisnis lain meskipun lagi hujan,” ujar Restu.
Omzet Harian Minimal Rp 500.000
Restu menyebutkan bahwa omzet atau pendapatan harian bisnis es batunya minimal mencapai Rp 500.000. Bisnis ini hanya bermodalkan beberapa pendingin alias freezer yang diletakkan di luar ruangan dan mengambil pasokan es batu dari pabrik. “Enggak bisa bikin sendiri, alatnya harus gede. Di Bekasi ada, Pulo Gadung ada, kalau es balok dari Tangerang. Omzetnya ya paling minimal Rp 500.000. Freezer di simpan di pinggir jalan, kalau di dalam ruangan tempatnya becek,” jelasnya.

Sementara itu, Zaki, pedagang es batu lain di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, mengatakan bisnisnya selalu ramai pembeli terlepas dari kondisi cuaca yang sedang tidak menentu saat ini. Zaki, yang juga merupakan orang Madura, menyebutkan depotnya tersebut bisa menjual 50 hingga 60 kantong es kristal. Setiap kantong dibanderol Rp 20.000 hingga Rp 25.000.
“Kadang 50, kalau rame 60 bal atau kantong, (masing-masing kantong) itu 20 kg es kristal. Beda-beda sih ada yang harga Rp 25.000 ada yang Rp 20.000,” katanya. Dia menyebutkan, pembeli langganan depot es batunya tersebut mulai dari kalangan penjual kaki lima, restoran, hingga kebutuhan acara di sekitar Senayan. Omzet yang diraup bisa mencapai Rp 700.000 per hari.
“(Pembeli) dari orang DPR, ada juga buat acara di Senayan, langganan-langganan sih yang banyak kaki lima di pinggir jalan, restoran juga ada,” ungkapnya. “Tergantung sih (pendapatan) kalau musim hujan gini, kalau pas panas ya kadang semuanya Rp 700.000 lah,” tambah Zaki.
Meskipun demikian, Zaki membenarkan bahwa musim hujan membuat peminat es batu berkurang cukup drastis, bisa separuh dari pendapatan saat musim kemarau tanpa hujan. Sama halnya dengan Restu, Zaki juga mulai berjualan pada pukul 06.00 sampai 16.00 sore hari. Biasanya, pembeli lebih ramai pada pagi hari, namun pemesanan bisa dilakukan 24 jam melalui pesan singkat.
“Lebih banyak pas panas, perbedaannya kalau biasanya orang beli 5 bal, kalau hujan bisa 3 atau 2 bal aja. Jadi bisa kurang separuh,” ujarnya.







