Perhitungan Awal Puasa Ramadhan 2426
Umat Islam akan menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh pada Ramadhan 2026 yang dimulai dalam beberapa hari lagi. Informasi mengenai awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah masih menjadi salah satu topik yang banyak dicari saat ini. Beberapa umat Islam mungkin telah bersiap-siap menyambut bulan suci Ramadhan, dengan membeli perlengkapan ibadah baru, perencanaan menu puasa, dan sebagainya.
Lantas, kapan Ramadhan 2026 dimulai?
Awal Ramadhan 2026 versi Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menetapkan secara resmi awal puasa 2026 melalui sidang isbat. Sidang isbat tersebut akan dilaksanakan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kemenag, Jakarta dan dipimpin oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.
Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Abu Rokhmad mengatakan bahwa pelaksanaan sidang isbat dibagi menjadi tiga tahapan atau rangkaian. Tahapan pertama berupa pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi atau metode hisab. Setelah itu, dilakukan verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Selanjutnya, musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat.
Apabila mengacu kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan oleh Kemenag, awal Ramadhan 2026 diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026 atau 12 hari lagi.
Awal Ramadhan 2026 versi BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin.
“Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria,” kata Thomas.
“Sehingga, 1 Ramadhan 1447 jatuh pada tanggal 19 Februari 2026,” imbuhnya.
Awal Ramadhan 2026 versi Muhammadiyah
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Berdasarkan maklumat PP Muhammadiyah, ijtimak (konjungsi) jelang Ramadhan 1447 H terjadi pada 17 Februari 2026. Namun berdasarkan kriteria Kalender Hijriah Global, bulan baru dimulai saat matahari terbenam keesokan harinya. Dengan begitu, warga Muhammadiyah akan mulai berpuasa 11 hari lagi, atau tepatnya pada 18 Februari 2026 mendatang.
Selain itu, PP Muhammadiyah juga menetapkan bahwa hari raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026.
Awal Ramadhan 2026 versi NU
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) akan menyelenggarakan rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan 1447 H pada 17 Februari 2026. Tahapan tersebut akan dilakukan oleh jejaring LFNU di seluruh Indonesia guna memenuhi metode penetapan awal bulan kalender Hijriah yang berterima dalam NU.
Rukyatul hilal merupakan pengamatan atau observasi terhadap hilal, lengkungan Bulan sabit paling tipis yang berkedudukan pada ketinggian rendah di atas ufuk barat pasca-Matahari terbenam (ghurub) dan bisa diamati. Cara pengamatannya untuk saat ini terbagi menjadi tiga, mulai mengandalkan mata telanjang, mata dibantu alat optik (umumnya teleskop), hingga termutakhir alat optik yang terhubung sensor atau kamera.
“Dari ketiga cara tersebut maka keterlihatan hilal pun terbagi menjadi tiga pula, mulai dari kasatmata (bil fi’li), kasat teleskop dan kasat kamera,” terang LFNU.
LFNU menerangkan, apabila hilal terlihat dalam rukyatul hilal, maka laporan akan ditolak sehingga berlaku istikmal Sya’ban dan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis Pahing 19 Februari 2026 M. Sementara itu, jika tidak terlihat dalam rukyatul hilal tersebut maka berlaku istikmal Sya’ban dan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis Pahing 19 Februari 2026 M.
NU secara formal sesungguhnya tidak mengeluarkan penetapan awal bulan Hijriyah, khususnya awal Ramadhan dan dua hari raya sendiri. Merujuk keputusan Muktamar ke–20 tahun 1954, NU hanya mengenal Ikhbar sebagai bentuk formal untuk meneruskan penetapan atau pengumuman Pemerintah RI kepada jamiyyah dan jamaah NU.







