Kepedulian Suporter Persebaya Surabaya untuk Anak-Anak NTT
Di tengah semangat pertandingan sepak bola, suporter Persebaya Surabaya, Bonek dan Bonita, menunjukkan wajah lain dari kebersamaan. Mereka menggelar aksi sosial yang tidak hanya memberikan dukungan bagi tim kesayangan, tetapi juga membantu anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kesulitan memenuhi kebutuhan sekolahnya.
Aksi donasi ini berlangsung dalam satu malam, tepat sebelum laga pekan ke-21 antara Persebaya Surabaya melawan Bhayangkara Presisi Indonesia FC. Di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (14/2/2026), ribuan suporter hadir dengan niat mulia. Mereka tidak hanya membawa semangat untuk Green Force, tetapi juga membawa buku tulis, pensil, bolpen, penggaris, hingga tas sekolah. Semua perlengkapan tersebut dikumpulkan di booth Gate 2 dan 15 stadion.
Respons Cepat atas Tragedi yang Menggugah Hati
Tragedi kemanusiaan yang terjadi di NTT menjadi pemicu aksi ini. Seorang pelajar di daerah tersebut dilaporkan mengakhiri hidupnya sendiri karena kesulitan membeli buku dan pena. Kabar ini viral dan akhirnya menggugah empati banyak orang, termasuk suporter Persebaya Surabaya.
Dari situ, Persebaya bersama Bonek dan Bonita meluncurkan program donasi alat tulis dan perlengkapan sekolah. Aksi ini menjadi bentuk respons cepat untuk mencegah tragedi serupa terulang. Dalam waktu singkat, jumlah donasi yang terkumpul mencapai 18.213 paket, yang terdiri dari 6.538 buku tulis, 11.561 alat tulis, serta 114 tas sekolah.
Momen Edukasi dan Berbagi di Tengah Pertandingan
Di area pengumpulan donasi, suasana dipenuhi oleh antusiasme para suporter. Orang tua mengajak anak-anak mereka untuk ikut serta dalam aksi ini, menciptakan momen edukatif tentang arti berbagi sejak dini. Aksi ini juga menjadi ruang pembelajaran sosial di tengah atmosfer pertandingan.
Andika, salah seorang suporter Persebaya Surabaya, menyampaikan rasa antusiasnya. Ia datang bersama rekan-rekannya dengan membawa tas, 42 buku tulis, serta bolpoin untuk didonasikan. “Kami dari Bonek Pandaan ingin mengapresiasi Persebaya, sekaligus terinspirasi dari adik-adik yang ada di luar daerah sana yang belum memiliki kesempatan untuk memiliki alat tulis dan tas,” ujarnya.
Kampanye Media Sosial yang Menggugah Perasaan
Bukan hanya di stadion, kampanye donasi juga digaungkan melalui media sosial. Jonathan Yohvinno, Media Officer Persebaya Surabaya, menjelaskan bahwa video yang dibuat cukup menggugah perasaan penonton. “Sampai hari ini kami masih menerima pesan bahkan masukan terkait donasi bagi pihak yang ingin berpartisipasi namun belum bisa hadir,” katanya.
Program donasi ini dirancang agar bantuan lebih tepat sasaran. Jika tahun sebelumnya fokus pada boneka, kali ini peralatan tulis dan perlengkapan sekolah menjadi prioritas. Hal ini dilakukan karena kebutuhan mendesak bagi anak-anak kurang mampu, terutama mereka yang tinggal di daerah dengan akses terbatas.
Donasi Disalurkan ke Wilayah yang Membutuhkan
Seluruh alat tulis dan perlengkapan sekolah yang terkumpul akan disalurkan kepada anak-anak kurang mampu dan pihak yang membutuhkan. Penyaluran tidak hanya menyasar Surabaya, tetapi juga wilayah lain yang memerlukan uluran tangan.
Aksi ini menunjukkan wajah lain dari sepak bola Indonesia. Di balik rivalitas dan tensi pertandingan, ada kekuatan solidaritas yang tumbuh dari tribun. Stadion bukan hanya ruang kompetisi, melainkan juga ruang berbagi dan menyebarkan empati.
Pesan Kuat dari Kepedulian yang Nyata
Sebanyak 18.213 paket donasi yang terkumpul menjadi simbol kebersamaan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, menyatu dalam semangat kolektif membantu anak-anak meraih pendidikan yang lebih layak.
Lebih dari sekadar angka, aksi ini meninggalkan pesan kuat bagi publik. Solidaritas bisa dimulai dari langkah sederhana, termasuk membawa satu buku tulis saat menonton pertandingan. Aksi nyata Persebaya Surabaya dan Bonek mengumpulkan 18.213 paket donasi menjadi pengingat jika kepedulian sosial bisa lahir dari mana saja, termasuk dari tribun stadion.
Harapannya, tidak ada lagi tragedi memilukan di NTT maupun daerah lain hanya karena keterbatasan alat tulis dan perlengkapan sekolah.





