Momen Lebaran sebagai Kesempatan untuk Merencanakan Pendidikan Anak
Momen Idulfitri sering kali menjadi waktu yang penuh berkah bagi para karyawan, terutama karena cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) dan bonus tahunan. Namun, bukan hanya untuk kebutuhan Lebaran saja, dana ini juga bisa menjadi langkah awal dalam memperkuat rencana finansial masa depan keluarga, termasuk dana pendidikan anak.
PT Asuransi Allianz Utama Indonesia mengingatkan bahwa perencanaan pendidikan anak perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi tabungan atau investasi, tetapi juga perlindungan. Dengan risiko kesehatan maupun risiko kehilangan pencari nafkah utama, perlindungan finansial menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas rencana masa depan keluarga.
Head of Corporate Communications Allianz Indonesia Wahyuni Murtiani menekankan bahwa sebagian THR dapat dialokasikan untuk dana pendidikan anak, dana darurat keluarga, perlindungan terhadap risiko yang tak terduga, serta instrumen investasi jangka panjang sesuai profil risiko. Hal ini bertujuan agar rencana jangka panjang tetap terjaga.
Asuransi untuk Dana Pendidikan Anak
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Allianz Syariah kini menghadirkan AlliSya Cerdas. Produk asuransi jiwa dwiguna ini dirancang untuk membantu orang tua menyiapkan dana pendidikan anak secara terencana dan sesuai prinsip syariah. Peserta berhak menerima manfaat tunai sebesar 40% pada akhir tahun polis ke-8 dan 80% pada akhir tahun polis ke-11 sebelum polis berakhir, selaras dengan kebutuhan biaya pendidikan pada jenjang menengah hingga transisi ke jenjang berikutnya.
Produk tersebut dapat dibeli secara digital melalui platform OptimAll Allianz dengan skema Guaranteed Issuance Offer (GIO) berbasis pernyataan kesehatan. Kontribusi minimum mulai dari Rp500.000 per bulan, dengan usia masuk anak 1 bulan hingga 17 tahun dan dewasa 18 hingga 50 tahun.

4 Langkah Penting untuk Pendidikan Anak
Certified Financial Planner Annisa Steviani menegaskan bahwa biaya pendidikan terus meningkat dari tahun ke tahun dan kerap melampaui pertumbuhan gaji tahunan. Menurutnya, banyak orang tua baru mulai memikirkan dana pendidikan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Padahal, perencanaan idealnya dimulai sejak anak masih dalam kandungan atau sejak lahir.
Kenaikan biaya kuliah rata-rata mencapai 6,03% per tahun, sementara kenaikan gaji tahunan rata-rata hanya berkisar 3%. Tanpa perencanaan yang matang, kondisi ini berisiko membuat orang tua harus mengorbankan kebutuhan lain atau bahkan berutang saat anak memasuki usia perguruan tinggi.
Berikut 4 langkah yang dapat diterapkan orang tua:
- Melakukan survei sekolah yang diinginkan untuk mengetahui kisaran biaya masuk dan SPP, mulai dari jenjang TK hingga perguruan tinggi;
- Menyiapkan rencana alternatif atau plan B dan C apabila anak tidak diterima di sekolah pilihan pertama, dengan simulasi biaya yang berbeda;
- Membuat perencanaan terstruktur, untuk mencatat estimasi biaya per jenjang pendidikan beserta proyeksi kenaikannya agar memiliki gambaran angka yang realistis;
- Mempertimbangkan jarak kelahiran anak, sehingga timeline pendidikan anak pertama dan berikutnya tidak bertumpuk dalam periode yang sama.
Selain faktor biaya sekolah, Annisa turut menekankan pentingnya mitigasi risiko dalam perencanaan pendidikan. Perencanaan pendidikan bukan hanya soal menabung. Orang tua juga perlu memikirkan risiko yang bisa mengganggu rencana, seperti sakit atau risiko meninggal dunia. Karena jika pencari nafkah utama mengalami risiko, maka dana pendidikan anak bisa ikut terdampak.







