Warisan Budaya yang Tak Pernah Padam: Batik Rifaiyah di Kabupaten Batang
Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai seni tinggi dan keunikan masing-masing daerah. Di Jawa Tengah, kota-kota seperti Pekalongan dan Surakarta sering kali menjadi perwakilan dari kekayaan batik. Namun, tak banyak orang tahu bahwa Kabupaten Batang juga memiliki batik khas yang telah dikenal hingga tingkat nasional, yaitu Batik Rifaiyah.
Di sebuah rumah sederhana di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, malam tidak pernah benar-benar sunyi. Saat kebanyakan orang terlelap, Miftakhutin atau akrab disapa Mbak Utin justru menyalakan lampu, memanaskan malam, lalu menorehkan canting di atas kain. Di sanalah, Batik Rifaiyah terus hidup, bertahan, dan diwariskan.
Miftakhutin bukan sekadar pembatik. Dia adalah Ketua Kelompok Pembatik Rifaiyah Kabupaten Batang, sekaligus penjaga ruh tradisi yang nyaris tergerus zaman. Semangatnya kembali menyala ketika menyaksikan pengakuan publik terhadap Batik Rifaiyah dalam berbagai pameran lokal hingga nasional. Meski tidak selalu hadir secara fisik, karya-karyanya telah terlebih dahulu dikenal.
Nama Batik Rifaiyah kerap disebut di berbagai ajang, termasuk Indonesia International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2026 yang digelar di Jakarta pada 4–8 Februari 2026. “Waktu di pameran, orang-orang tanya, ‘Batik Rifaiyah ya? Dari Batang ya?’ Ternyata mereka sudah kenal,” ujarnya.
Pengakuan tersebut menjadi penguat bahwa perjuangannya menjaga Batik Rifaiyah belum sia-sia. Saat ini, terdapat 42 pembatik Rifaiyah yang masih aktif. Namun, sebagian besar merupakan perempuan lanjut usia. Bagi dia, regenerasi menjadi tantangan terbesar. “Yang muda hampir tidak ada. Yang tua-tua ini harus terus dikaryakan,” ujarnya.
Meskipun demikian, Miftakhutin memilih membuka pintu lebar-lebar. Dia menggelar kursus batik gratis lengkap dengan fasilitas dan konsumsi bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa memandang latar belakang Rifaiyah.
Ciri Khas Batik Rifaiyah
Menurut Utin, Batik Rifaiyah memiliki ciri khas yang sangat kuat. Salah satunya adalah penggambaran hewan yang tidak utuh, kepala dipotong atau dimoderasi sebagai bentuk kehati-hatian sesuai syariat Islam. “Motifnya lain daripada yang lain. Orang yang sudah hafal, begitu lihat langsung tahu, ini Batik Rifaiyah,” jelasnya.
Motif flora mendominasi, sementara fauna hanya muncul sesekali dan tetap dimodifikasi. Konsistensi inilah yang membuat Batik Rifaiyah mudah dikenali. Utin menyebutkan, keistimewaan Batik Rifaiyah tak hanya terletak pada motif, tetapi juga pada teknik pembuatannya yang masih sangat tradisional.
Proses Membatik yang Unik
Proses membatik dimulai dari pengetelan kain, direndam minyak kacang, lalu dijemur berulang selama hampir kurang lebih tujuh hari. Teknik tersebut membuat serat kain lebih rapat dan warna lebih awet. Pola tidak digambar dengan pensil, melainkan langsung menggunakan canting tanpa penggaris, sepenuhnya mengandalkan intuisi dan pengalaman.
Yang paling membedakan, batik dikerjakan bolak-balik, baik saat ngiseni atau ngrengsi (mengisi pola) maupun pewarnaan. Pewarnaan dilakukan dengan teknik celup manual, bukan cetak. “Kalau printing itu bukan batik. Itu tekstil bermotif batik. Batik itu harus dicanting dan dicelup atupun dicolet. Tapi batik Rifaiyah harus dicelup,” tegasnya.
Bagi Miftakhutin, membatik bukan sekadar kerja tangan, melainkan juga kerja batin. Dalam tradisi Rifaiyah, proses membatik kerap disertai pembacaan kitab, syair, dan sholawat. “Kalau dikerjakan dengan hati, tenang, tidak tergesa-gesa, hasilnya hidup. Ruhnya beda,” ucapnya.
Inilah yang membuat setiap kain Batik Rifaiyah memiliki karakter unik dan tak pernah benar-benar sama.
Filosofi dan Peran Perempuan
Sejak awal, Batik Rifaiyah dikerjakan sepenuhnya oleh perempuan. Filosofinya sederhana namun kuat, perempuan harus berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan perannya di rumah. “Perempuan bisa menghasilkan uang, tapi tetap di rumah, ngurus anak dan keluarga,” ujarnya.
Miftakhutin mulai membatik sejak usia 9 tahun pada 1987. Batik menjadi penopang hidupnya, bahkan membiayai pendidikan sekolah hingga kuliah. Kini selain membatik, dia juga mengajar di MI Al Islam Watesalit pada pagi hari, namun selesai mengajar biasanya pada malam hari Utin tetap masih membatik.
Dalam hidupnya, dia memperkirakan telah menghasilkan lebih dari 100 karya. Beberapa di antaranya bahkan kembali kepadanya setelah puluhan tahun berpindah tangan momen yang selalu mengharukan.
Nilai Sejati Batik Rifaiyah
Pada 1996, satu kain motif materos dijual seharga Rp60 ribu, nilai yang kala itu setara tiga gram emas. Kini, harganya mencapai Rp4 juta per kain, meski daya belinya justru menurun. Namun bagi Miftakhutin, nilai sejati Batik Rifaiyah bukan soal angka.
“Ini warisan budaya Indonesia. Kebetulan pusatnya ada di Batang. Tugas saya menularkan virus kebaikan ini,” ucapnya.
Di tengah gempuran industri tekstil modern, Batik Rifaiyah tetap bertahan pelan, sunyi, dan setia di tangan perempuan-perempuan Batang terkhusus murid Mbah Rifai (Kiai Haji Ahmad Rifai ulama Jawa lahir pertengah abad 17) yang membatik dengan hati.







