Pengalaman Kuliner Chef Callum Hann di Indonesia

Chef Callum Hann, runner-up MasterChef Australia seri ke-17, mengunjungi Indonesia beberapa waktu lalu. Dalam kunjungannya, ia mencoba berbagai pengalaman baru mulai dari coffee cupping hingga memasak di sebuah bistro. Ia ditemani oleh juru masak Indonesia dari restoran Silk Bistro, Chef Freddie Salim.
Kegiatan pertama Chef Callum adalah mengunjungi sebuah coffee shop di Cikajang yang didirikan oleh Iman Kusumaputra, Annie Gabel, Putri Yulandari, dan Abubakar Dihya. Keempatnya merupakan lulusan Australia yang kembali untuk membuka kedai kopi bernama Kopi Kalyan. Di sini, Chef Callum belajar coffee cupping untuk pertama kalinya. Dibimbing oleh tiga pemilik Kopi Kalyan, yakni Putri, Annie, dan Iman, ia mencoba menyelami cita rasa kopi Indonesia. Dari delapan kopi yang dicobanya, Chef Callum begitu menyukai aroma serta rasa biji kopi asal Manggarai dan Karo. Ia terkesan dengan keragaman rasa kopi Indonesia.

Setelah itu, kegiatannya dilanjutkan dengan mengunjungi Pasar Santa yang tidak jauh dari Kopi Kalyan. Bersama Chef Freddie Salim, Chef Callum diperkenalkan dengan berbagai warung makan khas Sunda dan Padang yang ada di bibir pintu pasar. Pertanyaan lucu muncul ketika Chef Callum bertanya, “Ya, saya tahu rendang. Tapi apa itu Padang?” Chef Freddie menjawab bahwa Padang adalah nama kota di Sumatera Barat.

Selanjutnya, Chef Callum melihat beberapa pedagang sayuran dan membeli bahan-bahan yang akan dimasak. Ketika melihat petai, ia langsung antusias. Ia menunjuk petai yang menggantung dan tampak segar. “Saya belum pernah mencobanya, saya mau mencoba dan memasak (petai),” ujarnya. Tak perlu menunggu saat memasak, di pasar Chef Callum langsung mencoba petai mentah. “Kenapa disebut stinky bean? Padahal rasanya tidak bau. Rasanya juga renyah,” ucapnya. Usai mencoba petai, ia mendapat inspirasi untuk membuat masakan daging khas Australia dengan petai.

Kemudian, Chef Callum membeli beberapa buah-buahan seperti kedondong dan salak. Kedua buah-buahan ini juga akan ia masak bersama daging sapi dari Australia. Setelah berbelanja sekitar satu jam, rombongan media, kedutaan Australia, dan kedua juru masak melanjutkan perjalanan ke Silk Bistro, restoran di Pakubuwono milik Chef Freddie.

Saat sampai di Silk Bistro, Chef Callum dan Chef Freddie langsung melakukan persiapan. Restoran bergaya kolonial ini memiliki dapur terbuka sehingga para awak media dapat dengan dekat menyaksikan keduanya memasak. Chef Freddie mengajarkan Chef Callum cara mengupas salak, petai, hingga memotongnya. Sementara Chef Callum menyiapkan saus, memotong cabai, daging, hingga bahan masakan lainnya. Keduanya menyuguhkan dua masakan dari hasil belanja tadi, yakni beef steak beralaskan daun poh-pohan dan saus dari kedondong, serta beef tartare dengan paduan salak dan petai.

Para awak media dan Infomalangraya.com mendapat kesempatan mencicipi kedua hidangan tersebut bersama kedua juru masak. Pertama, kami mencoba beef tartare dengan topping petai. Beef tartare menggunakan potongan daging sapi mentah yang dipadukan dengan kesegaran saus asam-manis dari buah-buahan serta minyak daun jeruk dan kemangi. Olahan daging ini dimakan bersama keripik ubi ungu yang renyah.

Rasa daging yang mentah, tidak amis sama sekali. Hanya terasa kenyal, dan didominasi rasa manis, asam, segar, serta renyahnya petai. Uniknya, meski petai yang dicampur dalam masakan ini masih mentah, tapi tidak bau sama sekali. Selanjutnya, kami mencoba beef steak dengan alas daun poh-pohan dan lumuran saus kedondong. Rasa saus kedondong yang asam menyegarkan, sedikit manis, berpadu pas dengan steak sapi Australia yang gurih dan juicy. Meskipun steak sapinya tidak dimarinasi bumbu apa pun, hanya ditaburkan garam dan lada, rasa gurih daging yang alami begitu memanjakan lidah. Aroma dan rasa daun poh-pohan yang khas menambah kesan segar nan harum dari olahan daging yang juicy.

Chef Callum dan Chef Freddie pun turut terkesan dengan dua resep yang baru pertama kali mereka coba masak tersebut. Keduanya merasa bahwa kombinasi olahan daging sapi Australia dengan bahan yang sangat lokal sukses menghasilkan cita rasa masakan yang nikmat dan unik.







