Penipuan Bermodus Nama Bupati Sidoarjo, Subandi
Beberapa waktu terakhir, kasus penipuan bermodus menggunakan nama pejabat kembali muncul. Kali ini, nama Bupati Sidoarjo, Subandi, digunakan oleh pelaku penipuan untuk meminta uang kepada sejumlah warga.
Salah satu korban yang nyaris tertipu adalah Dodi Dhiyauddin, Ketua Lazisnu PCNU Sidoarjo. Ia menerima pesan singkat dari nomor tidak dikenal yang mengaku sebagai asisten Bupati Sidoarjo bernama Pak Diky. Setelah itu, ia mendapat telepon langsung dari seseorang yang mengaku sebagai Bupati Subandi.
Minta Uang Rp 50 Juta
Dalam percakapan tersebut, pelaku meminta bantuan dana sebesar Rp 50 juta untuk keperluan pribadi. Awalnya, Dodi merasa ragu karena suara dan logat pelaku berbeda dengan suara asli Bupati Subandi.
“Suara dalam telepon itu logatnya luar Sidoarjo. Jelas banget. Makanya saya curiga,” kata Dodi.
Setelah telepon, pelaku juga mengirimkan nomor rekening melalui WA. Namun, nama pemilik rekening tersebut bukan atas nama Bupati maupun instansi resmi, yaitu atas nama Della Pujianti (BRI). Saat pelaku mencoba meyakinkan melalui video call, ia tidak berani menunjukkan wajahnya di kamera.
“Alhamdulillah saya selamat. Tidak sampai jadi korban penipuan seperti ini,” ujar Dodi.
Peringatan dari Bupati Sidoarjo
Kabar ini juga sudah sampai ke Bupati Sidoarjo Subandi. Dia langsung mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat Sidoarjo untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi penipuan yang kian marak.
Subandi menegaskan bahwa nomor yang digunakan oleh pelaku dalam upaya penipuan bukanlah nomor aslinya. Meskipun pelaku menggunakan foto profil Bupati, nomor tersebut dipastikan palsu dan digunakan untuk kepentingan tindak kejahatan.
Modus Penipuan yang Umum Digunakan
Subandi menjelaskan bahwa para pelaku biasanya melancarkan aksi dengan menjanjikan bantuan dari pemerintah, lalu ujung-ujungnya meminta korban untuk mentransfer sejumlah uang.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat Sidoarjo, jangan mudah percaya jika ada telepon atau WhatsApp yang mengatasnamakan Bupati. Apalagi jika meminta transfer uang dengan alasan biaya administrasi bantuan atau lainnya,” ujar Subandi.
Ia menambahkan bahwa jika ada bantuan pemerintah, itu pasti menggunakan mekanisme proposal resmi. Tidak ada bantuan yang diberikan tanpa prosedur jelas, apalagi sampai meminta uang kepada masyarakat.
Peringatan Menjelang Idulfitri
Momen mendekati Idulfitri, Subandi memperingatkan bahwa aksi penipuan semacam ini biasanya cenderung meningkat. Ia berharap masyarakat lebih teliti dan tidak ragu untuk melakukan konfirmasi melalui jalur resmi jika menerima pesan mencurigakan.







