Pertemuan Intensif Trump dan Netanyahu: Isu Keamanan Israel yang Mengkhawatirkan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam durasi hampir tiga jam. Pertemuan ini terjadi pada Rabu (11/2/2026) atau Kamis (12/2/2026) waktu setempat, di mana keduanya membahas isu-isu penting terkait negosiasi antara AS dan Iran.
Trump menegaskan bahwa negosiasi dengan Teheran akan terus berlanjut untuk melihat apakah kesepakatan dapat tercapai. Namun, Netanyahu tampaknya ingin agar agenda Israel juga menjadi bagian dari pembicaraan tersebut, termasuk soal pembatasan atau bahkan penghapusan program rudal Iran. Dalam pertemuan ketujuhnya dengan Trump sejak presiden AS kembali menjabat sekitar 13 bulan lalu, Netanyahu berupaya memengaruhi putaran selanjutnya dari pembicaraan AS dengan Iran setelah negosiasi nuklir yang diadakan di Oman Jumat lalu.
Kekhawatiran Regional yang Meningkat
Pertemuan antara Trump dan Netanyahu berlangsung dalam situasi ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran kecuali tercapai kesepakatan, sementara Teheran bersumpah akan membalas jika diserang. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas.
Trump secara konsisten menyatakan dukungannya terhadap keamanan Israel, sekutu dekat AS di Timur Tengah dan musuh bebuyutan Iran. Dalam beberapa wawancara media, ia mengulangi peringatannya bahwa meskipun percaya Iran berupaya mencapai kesepakatan, ia bermaksud melakukan “sesuatu yang sangat keras” jika Iran menolak.
Setelah pertemuannya dengan Netanyahu, Trump menulis di Truth Social:
“Tidak ada keputusan akhir yang dicapai selain desakan saya untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran untuk melihat apakah kesepakatan dapat tercapai.”
Dia menambahkan, “Jika itu memungkinkan, saya akan memberi tahu Perdana Menteri Israel kalau ini akan menjadi pilihan yang lebih disukai.”
Prioritas Israel dalam Negosiasi
Netanyahu menekankan “kebutuhan keamanan Negara Israel dalam kerangka negosiasi” antara AS dan Iran. Kedatangan Netanyahu untuk melobi Trump ini menandai kian menjadinya ketakutan Israel akan Iran di kawasan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa kedua pemimpin tersebut “sepakat untuk melanjutkan koordinasi dan komunikasi yang erat di antara mereka.” Sebelum tiba di Amerika Serikat, Netanyahu mengatakan bahwa negosiasi antara Washington dan Teheran harus mencakup program rudal Iran dan pembekuan dukungan untuk “poros Iran,” yaitu kelompok-kelompok bersenjata yang didukung oleh Teheran di Timur Tengah.
Rudal balistik Iran menjadi sumber kekhawatiran bagi Israel, yang jaraknya tidak lebih dari 2.000 kilometer dari Republik Islam tersebut, sehingga berada dalam jangkauan rudal-rudal ini. Para pejabat Israel memperingatkan bahwa Iran mampu menyerang Israel tanpa peringatan dan dapat melumpuhkan sistem pertahanan udara Israel dengan rentetan rudal besar-besaran jika terjadi konflik berkepanjangan.
Netanyahu bersikeras bahwa tindakan militer adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran sekali dan untuk selamanya.
Agenda Lengkap dalam Negosiasi
Sebelumnya, Trump mengatakan kepada Fox Business bahwa kesepakatan yang baik dengan Iran berarti “tidak ada senjata nuklir, tidak ada rudal,” tanpa memberikan detail lebih lanjut. Ia juga mengatakan kepada Axios bahwa sedang mempertimbangkan untuk mengirim kelompok kapal induk kedua sebagai bagian dari penguatan besar-besaran pasukan AS di dekat Iran.
Sumber-sumber terpercaya mengindikasikan bahwa Israel cemas jika AS hanya bersepakat dengan Iran soal nuklir. Selain soal rudal, Israel ingin AS menekan Iran agar menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang setia atau bersekutu dengannya, seperti Hamas dan kelompok Hizbullah Lebanon.
Para pejabat Israel juga mendesak Amerika Serikat untuk tidak mempercayai janji-janji Iran. Salah satu sumber mengatakan bahwa kedua pemimpin tersebut juga membahas kemungkinan aksi militer jika diplomasi antara AS dan Iran gagal.
Iran mengatakan siap membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, tetapi menolak mengaitkan masalah tersebut dengan rudal. Ali Shamkhani, seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, mengatakan pada Rabu, “Kemampuan rudal Republik Islam tidak dapat dinegosiasikan.”
Partisipasi Israel dalam “Dewan Perdamaian”
Dalam pertemuan hari Rabu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Benjamin Netanyahu menyetujui partisipasi Israel dalam “Dewan Perdamaian” yang dipimpin oleh Donald Trump, menurut kantornya. Netanyahu tidak menunggu hingga pertemuan pembukaan resmi di Washington untuk dewan baru ini, yang didirikan pada tanggal 19 Februari.







