Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Di ujung negeri, tempat ombak belajar memecah karang dan angin membawa kabar asin ke sela-sela rumah panggung, TNI Angkatan Laut mendirikan dapur. Bukan dapur untuk memasak rindu yang lama mengendap di dada para prajurit, melainkan dapur yang mengolah harapan menjadi nasi hangat dan lauk bergizi.
Di titik-titik yang nyaris luput dari peta, di pulau-pulau kecil yang hanya terdengar jika badai menerjang, Komando Daerah Angkatan Laut mendapat perintah tegas: bangun Satuan Pelayanan Pemulihan Gizi. SPPG. Nama yang kaku, namun misinya lembut: menyajikan makan bergizi gratis untuk anak-anak yang selama ini hanya mengenal program pemerintah dari layar kaca yang berdebu.
“Setiap Kodaeral harus punya SPPG,” kata Laksamana TNI Muhammad Ali di Markas Puspom AL, Jakarta Utara, Kamis itu. Kalimatnya pendek, tapi gelombangnya panjang. Suaranya tidak keras, tapi mantap, seperti denyut laut yang tak pernah lelah menghantam karang. Kini, 46 dapur telah berasap.
Empat puluh lainnya masih dalam tahap mendirikan tiang, dan beberapa masih menanti restu dari Badan Gizi Nasional. Satu per satu, dapur-dapur itu menghidupkan dirinya. Asap tipis mengepul dari cerobong sederhana, membawa aroma sayur bening dan ayam goreng ke ruang-ruang kelas yang dulu hanya diisi suara guru dan derit papan tulis.
Anak-anak yang paginya hanya singgah di warung tetangga untuk nasi sisa semalam, kini duduk rapi dengan nampan di depan mereka. Makanan itu dijamin higienis. Ada ahli gizi di balik layar. Tapi yang paling nyata: ada negara yang tidak lagi hanya bicara, tapi menyuapi.
Tapi Ali tak hanya memikirkan gizi. Di balik panci dan wajan, ia melihat peluang. “Harapannya mengurangi angka pengangguran dan semuanya dapat manfaatnya, dan mencegah stunting terutama pada anak-anak,” ujarnya.
Setiap dapur yang berdiri adalah ladang kerja baru bagi warga sekitar. Ibu-ibu yang sebelumnya hanya diam di rumah, kini mengenakan celemek dan memegang centong. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, menyuapi masa depan bangsa.
Sementara di jalur yang berbeda, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji mengupayakan agar Tim Pendamping Keluarga, yang berjumlah 597 ribu orang, bukan lagi berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan lorong-lorong sempit. Ia ingin mereka diberi kendaraan roda dua.
“Kami mohon doa dan dukungan dari seluruh pihak. Prinsipnya, kami ingin memastikan kebijakan yang diambil benar-benar bermanfaat,” katanya.
Dengan motor, para pendamping bisa bergerak lebih cepat, mengantarkan gizi ke rumah-rumah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Lebih dari enam juta sasaran kini telah menerima MBG setiap hari. Negeri ini, perlahan, belajar hadir.
Di Mimika, Papua Tengah, kabar baik tak datang secepat di Jawa. Bupati Johannes Rettob membentuk Satuan Tugas Makanan Bergizi Gratis. Sebuah tim yang terdiri dari BGN, PKK, TNI, dan Polri. Ia tak mau program sebesar ini berjalan tanpa peta.
“Contohnya pembentukan SPPG tidak dilaporkan kepada kami. Bahkan, dalam penunjukan sekolah seharusnya berkoordinasi dengan pemerintah daerah,” keluhnya.
Di Kota Timika, 14 SPPG telah berdiri, tapi pemilihan sekolah penerima masih timpang. Seharusnya, yang paling membutuhkan lah yang pertama dilayani. Di wilayah pesisir dan pegunungan Mimika, MBG belum menyentuh sama sekali.
Namun Pemkab tak tinggal diam. Dengan dana Otonomi Khusus, mereka mengirim bahan makanan ke sekolah-sekolah terpencil. Guru dan orang tua bergotong-royong memasak. Ini adalah dapur gotong royong, yang telah menyala jauh sebelum program besar ini lahir.
Sementara di Malang, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan turun ke SPPG Panggungrejo, Kepanjen. Ia tak hanya mengecek dapur, tapi juga menghitung telur dan ikan.
“Karena bayangkan kalau SPPG tahun ini penerimanya ada 82,9 juta orang, jadi telur kami perlu 82,9 juta butir, perlu 82,9 juta potong ikan satu hari ya, dan sayur 82,9 juta juga,” katanya.
Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah wujud tanggung jawab negara yang membesar. Saat ini, 55,1 juta orang telah menerima manfaat. Dan targetnya, di ujung tahun, 82,9 juta jiwa akan merasakan kehangatan dari ribuan dapur yang tersebar di seluruh Indonesia.
Untuk menopang itu semua, pemerintah tak hanya membangun dapur, tapi juga menanam masa depan. Kampung Nelayan Merah Putih digagas, bioflok dikembangkan, dan lahan sawah dilindungi agar tak beralih fungsi. “Sawah itu tidak boleh lagi diubah-ubah,” tegas Zulhas.
Lahan sawah berkelanjutan, begitu istilahnya. Sebuah janji bahwa pangan negeri ini tak akan disandera oleh alih fungsi dan kepentingan sesaat.
Di tengah semua itu, BKKBN mengembangkan sayap. Bukan hanya mengantar gizi, tapi juga merawat keluarga dari hulu ke hilir. Ada Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, ada Taman Asuh Sayang Anak di kantor-kantor, ada Gerakan Ayah Teladan untuk melawan fatherless, ada Lansia Berdaya dengan layanan homecare, dan ada AI-SuperApps Keluarga, sebuah ruang digital di mana problematika rumah tangga bisa dikonsultasikan, dan kesehatan dipantau tanpa perlu antre di puskesmas.
Negeri ini, lewat dapur-dapur kecil di markas TNI, lewat motor pendamping keluarga, lewat satgas di Mimika, dan lewat perhitungan telur di Malang, sedang merajut asa. Bukan sekadar memberi makan, tapi membangun peradaban. Bahwa gizi adalah hak, bahwa negara wajib hadir, dan bahwa tidak ada satu pun anak di negeri ini yang boleh tumbuh dengan perut kosong.
Dari dapur-dapur itu, harapan dimasak perlahan. Dan kita, semua, adalah juru masaknya.







