Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Pasokan Energi Nasional
Pemerintah Indonesia sedang menghadapi tantangan besar akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Kondisi ini berdampak signifikan pada pasokan minyak global, yang sebelumnya melalui jalur tersebut mencapai 20 juta barel per hari. Di tengah situasi ini, Presiden RI, Prabowo Subianto, memberikan instruksi darurat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, untuk mencari alternatif pasokan minyak dari berbagai negara.
Langkah Cepat Pemerintah dalam Mengamankan Energi Nasional
Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Presiden Prabowo tidak ingin ketahanan energi nasional terganggu akibat ketergantungan pada jalur-jalur konvensional yang kini terjebak zona perang. “Bapak Presiden semalam memerintahkan kepada saya dan tim untuk segera mencari pasokan-pasokan minyak kita dari hampir seluruh negara. Kemudian mengoptimalkan semua energi yang ada pada kita,” ujar Bahlil saat meninjau pasokan BBM di SPBU Bolon, Colomadu, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026).
Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kemacetan distribusi minyak yang bisa memengaruhi stabilitas harga dan pasokan energi di dalam negeri. Meskipun dunia sedang dihantui kenaikan harga minyak mentah akibat blokade Hormuz, Bahlil Lahadalia menyatakan rasa syukurnya karena stok BBM di Indonesia saat ini masih dalam kondisi aman dan mencukupi.
Menjaga Stabilitas Harga di Tengah Gejolak
Pemerintah kini fokus pada tiga pilar utama: menjaga stabilitas harga, memperkuat cadangan nasional, dan menjamin kelancaran pasokan ke masyarakat. Bahlil mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah adalah variabel yang sangat liar. Tanpa adanya jaminan kapan perang akan berakhir, optimalisasi energi alternatif di dalam negeri menjadi harga mati.
“Namun, kita harus menyadari bahwa kondisi geopolitik ini tidak ada seorang pun yang dapat meramal, bahkan dalam berbagai analisa itu rasanya sih kita berdoa agar bisa selesai perang dengan baik, cepat,” pungkasnya.
Responsif Pemerintah dalam Menghadapi Skenario Terburuk
Langkah responsif Presiden Prabowo dan Bahlil Lahadalia ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tengah bersiap menghadapi skenario terburuk jika jalur pelayaran utama dunia tersebut terus ditutup dalam waktu lama. Pemerintah telah memprediksi dampak perang antara AS-Israel dengan Iran sejak awal, termasuk terkait harga, pasokan, dan pengelolaan oleh Pertamina sebagai operator utama.
Peran PT Pertamina dalam Memastikan Stabilitas Pasokan
Sebelumnya, Komisaris PT Pertamina Hasan Nasbi menemui Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di kediamannya, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah pada Rabu (25/3/2026). Setelah bertemu dengan Jokowi, Hasan sempat buka suara perihal distribusi minyak di tengah perang yang terjadi di Timur Tengah.
Menurutnya, pemerintah sedang mencari cara agar pasokan minyak dalam negeri tetap aman imbas perang antara AS-Israel dengan Iran. “Dari pemerintah arahannya sudah mengantisipasi jauh-jauh hari sejak pertama kali perang meletus. Pemerintah sudah memprediksi dampaknya akan sejauh apa, mengenai harga, pasokan, dan Pertamina sebagai operator mengikuti arahan pemerintah,” ucap Hasan, dikutip dari TribunSolo.com.
Hasan juga tak memungkiri bahwa harga minyak dunia mengalami kenaikan. Namun, pemerintah belum membuat kebijakan kenaikan BBM dalam negeri. “Kita tidak ada kenaikan harga. Kalau di pasar dunia ada kenaikan harga, di dalam negeri pemerintah sejauh ini belum ada kebijakan menaikkan harga,” jelasnya.
Stok BBM yang Terus Diperbarui
Menurutnya, pemerintah Indonesia sedang memikirkan opsi untuk mencari pasokan minyak dari negara lain. “Dari sisi pasokan, kita mencari sebanyak mungkin sumber-sumber yang tidak tertahan di Selat Hormuz. Ada sumber-sumber di tempat lain seperti dari Afrika dan Amerika.”
“Sejauh ini cadangan kita terus diperbarui sehingga kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi oleh Pertamina,” sambungnya. Hasan juga menegaskan bahwa pemerintah selalu memperbarui stok BBM dalam negeri. “Kalau hari ini ditanya stoknya 20 hari, kemarin ditanya stoknya masih 20 hari. Besok ditanya masih 20 hari juga, karena stoknya terus diperbarui. Setiap hari seperti itu, minggu depan ditanya stoknya 20 hari. Pasokannya masuk terus,” paparnya.
Langkah-Langkah untuk Mengantisipasi Kelangkaan Minyak
Pembaruan stok BBM setiap hari tersebut bisa meredam kepanikan di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa pemerintah terus melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi kelangkaan minyak. “Pemerintah selalu mengarahkan kita mengantisipasi jauh-jauh hari dan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tidak perlu panic buying.”
“Pemerintah akan melakukan penyesuaian, sudah ada ide dan rencana dari pemerintah untuk penghematan dari sisi konsumsi BBM. Jangan panik, sampai hari ini baik-baik saja. Insyaallah pemerintah mengusahakan yang terbaik,” pungkasnya.







