Dampak Banner Film Horor pada Kesehatan Mental Anak dan Remaja
Banner dan billboard film yang terpajang di ruang publik sering kali dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua konten yang ditampilkan memiliki dampak yang sama bagi setiap orang, terutama anak-anak dan remaja. Dalam konteks ini, ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, menyoroti pentingnya memperhatikan pesan-pesan ekstrem yang muncul dalam banner film horor.
Salah satu contohnya adalah banner dengan tulisan “Aku Harus Mati” yang bisa menjadi perhatian khusus dari sisi kesehatan mental. Menurut dr Piprim, kondisi kesehatan mental remaja di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari isu ini. Ia menyebutkan bahwa sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental, angka yang cukup besar jika dilihat dari jumlah populasi remaja di Indonesia.
“Di Indonesia, sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan mental. Jika kita hitung, jumlah remaja usia 13-18 tahun mencapai sekitar 40 juta orang. Artinya, sekitar 4 juta remaja mengalami gangguan kesehatan mental,” ujarnya saat ditemui awak media di Jakarta Pusat.
Dalam situasi tersebut, paparan pesan ekstrem seperti “Aku Harus Mati” tidak bisa dianggap netral. Bagi remaja yang sudah memiliki kerentanan atau gangguan kesehatan mental sebelumnya, pesan tersebut bisa menjadi penguat atau afirmasi terhadap pikiran negatif yang ada. Hal ini dapat memperparah keadaan, terutama bagi mereka yang sudah memiliki ide bunuh diri sebelumnya.
Namun, dr Piprim menegaskan bahwa dampak dari banner tersebut tidak selalu sama bagi setiap individu. Bagi orang dengan kondisi mental sehat, banner tersebut mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman atau gangguan visual. Namun, bagi anak-anak yang masih dalam tahap belajar memahami kata dan makna, kalimat sederhana seperti “Aku Harus Mati” bisa memicu kebingungan.
Anak-anak bisa mempertanyakan makna kalimat tersebut kepada orang tua, bahkan membandingkannya dengan nilai-nilai yang selama ini diajarkan. Misalnya, jika orang tua sering mengatakan “kamu harus semangat” atau “kamu harus berprestasi”, tiba-tiba melihat banner dengan tulisan “Aku Harus Mati” bisa membuat anak bingung dan merasa tidak yakin dengan pesan yang diterima.
Tantangan bagi Orang Tua
Di sinilah tantangan muncul bagi orang tua. Mereka perlu memberikan penjelasan yang tepat sesuai usia anak, sekaligus menjaga agar anak tidak salah memahami pesan yang diterima dari lingkungan sekitar. Situasi ini menunjukkan bahwa ruang publik bukan hanya milik orang dewasa, tetapi juga diakses oleh anak-anak dengan berbagai tingkat pemahaman.
Karena itu, IDAI mengimbau para pembuat konten, termasuk produsen film, untuk lebih sensitif terhadap dampak psikologis dari pesan yang disampaikan. Pendekatan yang diharapkan bukanlah pembatasan kreativitas, melainkan keseimbangan antara nilai komersial dan tanggung jawab sosial. Konten tetap bisa menarik perhatian publik, namun tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak dan remaja.
Selain itu, kolaborasi dengan para ahli seperti psikolog, pakar kesehatan anak, dan pakar kesehatan jiwa dinilai penting dalam proses produksi konten. Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga aman dan edukatif bagi masyarakat luas.
Peran Penting dalam Industri Kreatif
Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin pesat, kesadaran akan dampak konten terhadap kesehatan mental menjadi bagian penting dari gaya hidup modern yang lebih mindful. Bagi orang tua, situasi ini juga menjadi pengingat untuk lebih aktif mendampingi anak dalam memahami berbagai informasi yang mereka temui di ruang publik.







