Peringatan Keras dari Pemerahan Iran terhadap Amerika Serikat
Pemerintah Iran memberikan peringatan tegas kepada Amerika Serikat setelah dua negosiator utama Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, melakukan kunjungan ke kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Kunjungan tersebut dilakukan tidak lama setelah putaran pertama negosiasi antara AS dan Iran yang berlangsung di Oman.
Witkoff menyebut kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok serangannya sebagai simbol kekuatan yang menjaga keamanan Amerika Serikat. Ia juga menegaskan bahwa kehadiran militer tersebut mencerminkan pesan “perdamaian melalui kekuatan” yang diusung oleh Presiden Donald Trump.
Menanggapi kunjungan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung melontarkan peringatan tegas. Ia menyatakan bahwa Teheran akan menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut jika Iran diserang. Araghchi juga kembali menegaskan sikap keras Iran terkait batasan dalam proses negosiasi dengan Washington.
Menurutnya, program rudal Iran sama sekali tidak masuk dalam agenda yang dapat dinegosiasikan dalam perundingan di Oman. “Rudal Iran tidak pernah bisa dinegosiasikan karena berkaitan langsung dengan pertahanan nasional,” ujar Araghchi. Selain itu, ia menekankan bahwa pengayaan nuklir merupakan hak Iran yang tidak dapat diganggu gugat oleh pihak mana pun.
Meski demikian, Iran menyatakan tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan terkait pengayaan nuklir selama dilakukan secara adil dan saling menghormati. “Kami siap mencapai kesepakatan yang meyakinkan mengenai pengayaan nuklir,” kata Araghchi. Pernyataan tersebut menegaskan posisi Teheran yang tetap kukuh di tengah meningkatnya ketegangan regional dan upaya diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.
Negosiasi di Oman
Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Oman, Jumat (6/2/2026), resmi berakhir. Kendati demikian, pertemuan tersebut dilaporkan belum menghasilkan konsesi besar dari kedua belah pihak. Dalam prosesnya, delegasi kedua negara tidak bertatap muka secara langsung. Diskusi dilakukan secara bergantian melalui perantara diplomat Oman yang bertindak sebagai jembatan komunikasi.
Dilansir dari laporan The Wall Street Journal dari sumber yang memahami jalannya diskusi, Iran dan AS tetap teguh pada posisi awal mereka. Hingga saat ini, belum dapat dipastikan sejauh mana pembicaraan tersebut berdampak pada upaya diplomatik yang lebih luas terkait program nuklir Teheran. Kendati demikian, rendahnya ekspektasi terhadap hasil pertemuan ini sebenarnya sudah diprediksi oleh sejumlah pejabat dan analis regional sebelum perundingan dimulai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai, pembicaraan pada Jumat itu sebagai sebuah awal yang positif. Ia menyatakan bahwa dialog dapat terus berlanjut apabila suasana saling tidak percaya antar-kedua negara dapat segera diatasi. Araghchi juga mengonfirmasi adanya kesepakatan untuk melanjutkan proses diplomasi ini, termasuk kemungkinan pertemuan kembali di Muscat di masa mendatang.
“Dalam suasana yang sangat positif, argumen kami dipertukarkan dan pandangan pihak lain dibagikan kepada kami,” kata Araghchi kepada televisi Pemerintah Iran, dikutip dari AFP. “Itu adalah awal yang baik,” sambungnya. Langkah selanjutnya akan diputuskan setelah para negosiator mengadakan konsultasi di ibu kota masing-masing negara.
Diplomat senior itu menegaskan bahwa diskusi tersebut hanya berfokus pada isu nuklir. “Kami tidak membahas topik lain dengan AS,” ujarnya.
Oman Klaim Pembicaraan Berlangsung Serius
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengatakan, pembicaraan tersebut sangat serius, membantu memperjelas posisi kedua belah pihak dan mengidentifikasi area untuk kemungkinan kemajuan. AS telah berupaya untuk membahas program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan tersebut. Namun, Teheran berulang kali menolak untuk memperluas pembicaraan di luar isu nuklir.
Iran dan AS melanjutkan diplomasi nuklir tidak langsung pada Jumat setelah ketegangan meningkat selama beberapa minggu. Pembicaraan tersebut berlangsung menyusul ancaman dari Washington dan pengerahan kelompok kapal induk ke Timur Tengah setelah tanggapan mematikan Iran terhadap protes anti-pemerintah.






