Iran Mengizinkan Tujuh Negara Melintasi Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa tujuh negara telah mendapatkan izin khusus untuk melintasi Selat Hormuz secara aman. Kebijakan ini diterapkan dalam konteks meningkatnya ketegangan di kawasan yang berdampak pada lalu lintas kapal tanker minyak dunia. Negara-negara yang mendapat lampu hijau antara lain China, Rusia, Pakistan, Irak, India, Bangladesh, dan Thailand.
Izin khusus ini diberikan kepada negara-negara yang dianggap bersahabat atau telah melakukan koordinasi diplomatik resmi dengan otoritas Iran. Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup total, tetapi pengamanan ketat diberlakukan bagi setiap armada yang melewati jalur tersebut.
Banyak pemilik kapal dari berbagai negara telah menghubungi pihak Iran untuk meminta jaminan keselamatan pelayaran bagi aset mereka. Sebagai bentuk dukungan, angkatan bersenjata Iran memberikan pengawalan khusus bagi kapal-kapal dari negara yang dinilai perlu mendapatkan perlindungan.
Keberhasilan Kapal Milik Thailand
Terbaru, kapal tanker milik Bangchak Corporation asal Thailand dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/3/2026). Keberhasilan ini terjadi setelah adanya pembicaraan diplomatik intensif antara Menlu Sihasak Phuangketkeow dan pemerintah Iran. Sihasak meminta apakah kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman. Pihak Iran menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta agar daftar kapal yang akan melintas disampaikan.
Langkah koordinasi ini dilakukan Thailand menyusul insiden penyerangan proyektil terhadap kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, sebelumnya.
Kapal Pertamina Masih Tertahan
Sementara itu, hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker milik Indonesia masih belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. Berdasarkan data pelacakan kapal, Pertamina Pride berada di perairan utara Dammam, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro berada di dekat wilayah Kuwait dan Irak.
Menurut pernyataan Pertamina International Shipping, Pertamina Pride membawa kargo untuk kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro mengangkut muatan milik pihak ketiga. Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas utama. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia saat ini masih menjalin komunikasi dengan otoritas Iran agar kedua kapal tersebut dapat segera memperoleh izin melintasi Selat Hormuz.
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tidak Ditutup Total
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, namun akses pelayaran diberikan secara selektif kepada negara-negara tertentu yang dianggap bersahabat atau telah melakukan koordinasi dengan otoritas Iran. Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi pihak Iran dan meminta agar keselamatan pelayaran mereka melalui selat dipastikan.
Untuk sejumlah negara yang dianggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang dianggap perlu, angkatan bersenjata Iran telah memberikan pengawalan secara aman. Beberapa negara seperti China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India juga telah melintasi selat. Bahkan Bangladesh juga ikut serta dalam koordinasi ini.
Lalu Lintas Kapal Turun Drastis
Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz menurun tajam sejak konflik meningkat. Dalam satu bulan terakhir, hanya sekitar 99 kapal yang melintas atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari. Sebelum konflik, jumlah kapal yang melintasi selat ini mencapai sekitar 138 kapal per hari.
Selat Hormuz merupakan jalur vital karena menjadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Analisis sejumlah lembaga menunjukkan sebagian pelayaran yang masih berlangsung memiliki keterkaitan dengan Iran, termasuk kapal berbendera Iran maupun kapal yang terhubung dengan perdagangan minyak negara tersebut.
Beberapa kapal juga memilih rute lebih panjang dan lebih dekat ke perairan Iran agar dapat berada dalam pengawasan otoritas setempat demi alasan keamanan.
Donald Trump Minta Blokade Dibuka
Sementara itu, Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, seiring dengan dibukanya lagi kuota impor minyak Iran sebesar 140 ribu barel oleh Amerika Serikat. Dalam akun media sosialnya, Truth Social, Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz di tengah eskalasi perang Timur Tengah.
Trump pada Sabtu (21/3/2026) menyatakan, Iran memiliki waktu 48 jam untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan infrastruktur energi Iran. Ia menegaskan, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dengan yang terbesar. Presiden ke-47 AS itu juga menetapkan batas waktu hingga Senin pukul 23.44 GMT (Selasa, 06.44 WIB) sesuai waktu unggahannya.
Ultimatum ini muncul hanya sehari setelah Trump menyebut sedang berpikir mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang. Pada saat bersamaan, Selat Hormuz masih tertutup dan ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah.







