Eskalasi Militer di Timur Tengah
Perang di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Iran secara resmi menyatakan akan terus menggempur negara-negara tetangga di kawasan Teluk selama pangkalan militer Amerika Serikat masih beroperasi di wilayah tersebut.
Pernyataan ini memicu respons keras dari Uni Emirat Arab (UEA) yang menegaskan kesiapannya mempertahankan kedaulatan dari ancaman rudal dan drone. Ketua Badan Peradilan Iran sekaligus anggota dewan kepemimpinan sementara, Gholamhossein Mohseni-Ejei, mengungkapkan alasan di balik serangan yang menyasar infrastruktur sipil di negara-negara tetangga. Ia mengklaim posisi geografis beberapa negara Teluk telah disalahgunakan oleh pihak asing.
“Bukti dari angkatan bersenjata Iran menunjukkan bahwa letak geografis beberapa negara di kawasan ini secara terang-terangan maupun terselubung berada di bawah kendali musuh. Pemerintah dan pilar-pilar sistem lainnya sepakat bahwa serangan besar-besaran terhadap target-target ini akan terus berlanjut,” tegas Mohseni-Ejei.
Senada dengan itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menekankan bahwa keberadaan militer AS adalah akar ketidakstabilan. “Selama pangkalan Amerika masih ada di kawasan ini, negara-negara tidak akan melihat perdamaian,” ujarnya.
Tragedi Sipil dan Ancaman Krisis Air
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, serangan balasan Iran telah menewaskan 13 orang di negara-negara Teluk, termasuk tujuh warga sipil. Salah satu korban adalah seorang gadis berusia 11 tahun di Kuwait yang tewas tertimpa puing bangunan. Konflik ini juga mulai menyasar infrastruktur vital seperti pabrik desalinasi air.
Pakar keamanan dari Atlantic Council, Harlan Ullman, memperingatkan bahwa sabotase terhadap pasokan air bisa melumpuhkan kawasan Teluk secara total, mengingat 95 persen air di sana berasal dari proses desalinasi.
Respons Tegas UEA: Kami Bukan Mangsa Mudah
Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), memberikan pernyataan perdana yang sangat tegas saat mengunjungi korban luka di rumah sakit. Meskipun bandara dan pusat wisata di Dubai sempat terganggu, ia memastikan UEA akan keluar sebagai pemenang dalam periode perang ini.
“UEA memiliki kulit yang tebal dan daging yang keras – kami bukan mangsa yang mudah. UEA siap menghadapi ancaman terhadap keamanan dan perlindungan seluruh warga negara,” tegas Sheikh Mohamed melalui saluran Abu Dhabi TV.
Saat ini, seluruh anggota GCC—Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, dan Oman—berada dalam status siaga tinggi. Serangan terbaru dilaporkan menyasar pangkalan udara Jufair di Bahrain sebagai balasan atas kerusakan fasilitas air di Pulau Qeshm, Iran.
Memasuki Pelebaran Perang
Memasuki pekan kedua peperangan yang dipicu oleh agresi Sabtu (28/2/2026), militer Iran menyatakan kesiapannya untuk melayani konfrontasi jangka panjang melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menegaskan bahwa struktur militer Iran masih sangat solid dan memiliki cadangan logistik serta persenjataan yang cukup untuk mempertahankan intensitas serangan saat ini hingga setengah tahun ke depan.
Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa kekuatan Teheran telah lumpuh total. “Pasukan bersenjata Republik Islam Iran mampu melanjutkan setidaknya 6 bulan perang yang intens dengan kecepatan operasi saat ini,” tegas Naini.
200 Target dalam Jangkauan Rudal Iran
Bukan sekadar bertahan, IRGC kini beralih ke mode ofensif yang lebih agresif. Naini mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengunci koordinat lebih dari 200 lokasi strategis, termasuk pangkalan militer dan fasilitas vital milik AS serta Israel yang tersebar di sepanjang kawasan Timur Tengah. Langkah ini merupakan balasan langsung atas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak agresi tersebut, hujan rudal Iran terus menyasar wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara-negara tetangga sebagai bentuk pembalasan dendam.
Kontradiksi dengan Klaim Donald Trump
Pernyataan berani dari Teheran ini muncul tepat setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali memproklamirkan kemenangan mutlak pasca-operasi “Epic Fury”. Donald Trump mengeklaim militer Iran sudah tidak lagi memiliki taring setelah infrastruktur utama mereka dihancurkan. “Kita memenangkan perang dengan selisih yang besar. Kita telah menghancurkan seluruh kejahatan mereka,” ujar Trump dalam sebuah pernyataan pers.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda. Penyerangan terus-menerus terhadap fasilitas AS-Israel membuktikan bahwa meskipun kehilangan pemimpin tertingginya, mesin perang Iran masih bekerja dan siap menyeret kawasan ini ke dalam konflik berkepanjangan yang melelahkan.
Serangan AS-Israel ke Iran
Serangan terhadap Iran terjadi setelah AS meningkatkan kehadiran militer terbesarnya di kawasan itu dalam beberapa dekade. Otoritas Israel dan AS menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk melacak pergerakan para pemimpin senior Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan “pemboman berat dan tepat sasaran” di Iran akan berlanjut sepanjang minggu atau lebih lama. Pangkalan militer AS di seluruh wilayah tersebut tetap menjadi target potensial serangan Iran.
Di sisi lain, Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial dan telah lama berupaya mengakhiri program nuklir dan rudal balistiknya, sekaligus menargetkan kelompok-kelompok sekutu bersenjata seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Israel telah berjanji akan melakukan serangan “tanpa henti” dan pada satu titik mengatakan 100 jet tempur secara bersamaan menyerang target di Teheran.
Konflik saat ini sudah jauh lebih intens daripada perang Israel-Iran tahun lalu, di mana AS ikut campur menjelang akhir dengan mengebom situs nuklir Iran dan Iran menanggapi dengan serangan terencana terhadap pangkalan militer AS di Qatar. Kini, ratusan serangan rudal dan drone Iran telah membuat orang-orang berhamburan mengungsi di negara-negara Teluk yang sebelumnya relatif terisolasi dari gejolak di kawasan tersebut.







