Proyek Mini LNG Pertama di Pulau Jawa Diresmikan
PT Jababeka Tbk. (KIJA) melalui anak usahanya, PT Likuid Nusantara Gas, secara resmi mengoperasikan pabrik mini liquefied natural gas (LNG) di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur, pada Rabu (11/2/2026). Peresmian fasilitas tersebut dilakukan oleh Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung melalui penekanan tombol sirine.
Proyek ini dikembangkan melalui skema joint venture dengan struktur kepemilikan 60% oleh PT Jababeka Infrastruktur, serta masing-masing 20% oleh PT Fortius Development Asia dan pemegang saham perorangan. Nilai investasi pembangunan fasilitas mini LNG tersebut mencapai sekitar US$16,9 juta.
Dalam sambutannya, Yuliot menegaskan bahwa fasilitas ini sejalan dengan upaya pemerintah memperluas akses energi industri yang lebih bersih dan efisien. Ia menyebut kilang tersebut sebagai fasilitas mini LNG pertama di Pulau Jawa yang diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan gas domestik untuk industri, pembangkit listrik, serta kegiatan ekonomi lain, bahkan berpotensi melayani distribusi lintas wilayah.
“Pada akhirnya akan terjadi efisiensi dan dalam jangka panjang masyarakat bisa mendapatkan energi yang cukup dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Acara peresmian turut dihadiri Duta Besar Argentina untuk Indonesia Gustavo Ricardo Coppa yang menilai proyek ini sebagai wujud kolaborasi teknologi Indonesia–Argentina melalui Galileo Technologies. Ia menilai fasilitas tersebut bukan sekadar pembangunan infrastruktur baru, melainkan langkah konkret memperkuat ketahanan energi dan pemanfaatan bahan bakar rendah emisi di negara kepulauan.
Penguatan Portofolio Bisnis Infrastruktur
Wakil Direktur Utama Jababeka Budianto Liman mengatakan kehadiran pabrik mini LNG diharapkan memperkuat portofolio bisnis infrastruktur perseroan yang bersifat recurring sekaligus menyediakan energi kompetitif bagi pelaku industri. Menurutnya, fasilitas ini juga menjadi pabrik mini LNG pertama yang dikelola swasta di Pulau Jawa.
Pabrik yang berdiri di atas lahan sekitar 1 hektare itu berfungsi sebagai pusat pengolahan sekaligus distribusi LNG dengan kapasitas produksi awal 2,5 MMSCFD per hari dan potensi ekspansi hingga 4 MMSCFD per hari.
Kolaborasi dan Konsumen yang Terdampak
CEO PT Likuid Nusantara Gas Wira Rahardja mengatakan pihaknya siap bekerja sama dengan pelaku usaha yang ingin beralih ke energi lebih rendah emisi. Distribusi LNG saat ini didukung armada iso tank berukuran 20 dan 40 kaki untuk melayani pelanggan ritel maupun distributor. Ia menambahkan sejumlah konsumen telah merasakan efisiensi biaya setelah beralih ke LNG, termasuk PGN Gagas.
Ke depan, perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas produksi menjadi 4 MMSCFD per hari melalui penambahan dua unit mesin pengolahan LNG pada paruh kedua 2027. Ekspansi tersebut ditujukan untuk memenuhi permintaan energi industri yang terus meningkat, khususnya di Jawa Timur, Bali, dan wilayah sekitarnya.
“Dengan kapasitas yang lebih besar, kami optimistis dapat menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus memperkuat peran kami dalam mendukung transisi energi di sektor industri,” kata Wira.
Potensi Ekspansi dan Keberlanjutan
Fasilitas mini LNG ini tidak hanya menjadi inisiatif bisnis tetapi juga bagian dari strategi nasional dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan adanya pabrik ini, industri di Jawa Timur dan sekitarnya memiliki akses yang lebih mudah terhadap sumber energi yang lebih bersih dan efisien.
Selain itu, proyek ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan karena penggunaan LNG yang lebih rendah emisi dibandingkan bahan bakar konvensional. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjalankan program transisi energi yang berkelanjutan.
Dengan rencana ekspansi dan kerja sama yang kuat, pabrik mini LNG ini diharapkan menjadi contoh sukses dalam pengembangan infrastruktur energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.







