Peningkatan kasus penyakit campak di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan cakupan vaksinasi yang menjadi salah satu faktor utama. Penyebabnya adalah kepercayaan masyarakat terhadap narasi antivaksin dan ketakutan terhadap efek samping vaksin, yang menyebabkan banyak orang memilih tidak mengimunisasi anak mereka.
Menurut data Kementerian Kesehatan, pada 2025-2026, tercatat 72 kematian akibat campak di Indonesia. Pada tahun lalu, jumlah kasus suspek mencapai 64.822, meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tahun ini, hingga minggu kedelapan, jumlah kasus suspek mencapai 10.453 dengan 8.372 kasus konfirmasi dan enam korban meninggal. Mayoritas korban adalah balita yang belum mendapatkan imunisasi campak.
Penurunan cakupan vaksin campak dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dampak pandemi yang mengganggu pemberian vaksin dan kekhawatiran orang tua tentang keamanan vaksin. Sebuah riset menyebutkan bahwa ketika penyakit campak jarang terjadi selama bertahun-tahun, masyarakat mulai lebih fokus pada risiko vaksinasi daripada risiko infeksi. Hal ini mengurangi kepercayaan publik terhadap vaksin dan berdampak pada penurunan cakupan imunisasi.
Menurut penelitian, penurunan tingkat vaksinasi rutin sebesar 25% berpotensi memicu wabah campak kembali dalam 5-10 tahun ke depan. Cakupan imunisasi sangat penting karena berpengaruh pada kekebalan tubuh dan membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Jika cakupannya di bawah level yang sesuai, kekebalan populasi tidak cukup untuk mencegah transmisi.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa vaksin campak telah melalui evaluasi ketat terkait keamanan, mutu, dan khasiatnya. Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah percaya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Banyak orang tua enggan memberikan vaksin kepada anak karena takut efek samping seperti demam. Misalnya, Zahrotut Taubah (35) dari Sumenep, Jawa Timur, takut jika anaknya akan meninggal setelah divaksin. Dokter anak dr. Putu Siska Suryaningsih di Bali juga menemukan pasien balita yang belum menerima vaksin karena orang tua merasa aman karena tidak ada pemberitaan tentang penyakit campak.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Rizka Andalucia, menjelaskan bahwa cakupan vaksinasi global untuk dosis pertama campak adalah 83%, sedangkan dosis kedua hanya 74%. Di Indonesia, cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama adalah 82% pada 2025, sementara dosis keduanya sebesar 77,6%.
Epidemiolog UGM, dr. Riris Andono Ahmad, menekankan bahwa kekebalan kelompok sangat penting untuk mencegah wabah. Jika cakupan imunisasi rendah, maka penyebaran penyakit bisa terjadi.
Data WHO menunjukkan peningkatan kasus campak secara global pada 2023 dan 2024. Di Indonesia, kasus suspek meningkat pesat pada 2025.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, mengatakan perlu diantisipasi agar campak tidak merebak jelang libur Lebaran. Mobilitas penduduk tinggi berpotensi meningkatkan risiko penularan.
Beberapa upaya dilakukan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi, seperti imunisasi massal (Outbreak Response Immunization) dan program imunisasi kejar. Di Sumenep, cakupan imunisasi campak telah meningkat dari 79,4% menjadi 96,1% setelah KLB. Kota Surabaya juga nyaris mencapai 100% melalui berbagai upaya.
Selain itu, Kemenkes membuka layanan imunisasi di berbagai titik seperti puskesmas, posyandu, dan satuan pendidikan. Orang tua diminta memeriksa status imunisasi anak dan segera melengkapinya. Perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan dan penggunaan masker juga dianjurkan sebagai pencegahan.
Jika gejala campak muncul, sebaiknya segera ke pelayanan kesehatan dan beristirahat di rumah. Gejala awal campak mirip flu, seperti batuk, pilek, dan demam, diikuti oleh mata merah dan ruam merah.

Epidemiolog UGM, dr. Riris Andono Ahmad, menyarankan pelaksanaan ORI (Outbreak Response Immunization) saat KLB terjadi. Selain itu, layanan kesehatan harus siap mengelola kasus campak untuk mencegah kematian.
Vaksin MR yang digunakan dalam program imunisasi nasional telah melalui evaluasi ketat terkait keamanan, mutu, dan khasiatnya. Hasil studi menunjukkan vaksin ini efektif meningkatkan kekebalan tubuh terhadap campak dan rubella. Efek samping biasanya ringan dan sementara, seperti demam ringan atau kemerahan di tempat suntikan.
Masyarakat diingatkan untuk tidak mudah mempercayai informasi tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait vaksin. Saat ini, stok vaksin MR di Indonesia tersedia sekitar 9,5 juta dosis.
Tenaga kesehatan melakukan berbagai cara untuk meningkatkan cakupan imunisasi, seperti ‘sweeping’ atau penyisiran wilayah dan edukasi melalui puskesmas dan posyandu.

Antisipasi jelang Lebaran dilakukan dengan membuka pelayanan imunisasi di berbagai titik. Orang tua diminta memeriksa status imunisasi anak dan segera melengkapinya. Perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan dan penggunaan masker dianjurkan.
Jika gejala campak muncul, segera ke pelayanan kesehatan dan hindari kontak dengan orang lain. Gejala awal campak mirip flu, namun diikuti oleh ruam merah.
Wabah campak di Sumenep mengakibatkan 17 anak meninggal, dengan cakupan imunisasi rendah karena hoaks ‘vaksin haram’. Setelah KLB polio, muncul KLB campak yang berpotensi menyebabkan wabah ‘tumpang-tindih’ pada anak Indonesia.
Di Papua, puluhan anak terkena campak dan 13 meninggal dunia, sementara pemerintah belum menerima laporan lengkap.







