Kesiapan Indonesia dalam Misi Stabilisasi Internasional
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah menjelaskan dasar penyiapan sekitar 8.000 prajurit TNI untuk kemungkinan bertugas di Gaza Strip dalam misi International Stabilization Force (ISF). Langkah ini merupakan bagian dari kontribusi Indonesia dalam upaya stabilisasi internasional pasca-konflik, dengan tetap menunggu mandat resmi dan mekanisme global yang berlaku.
Pemerintah menegaskan bahwa keterlibatan pasukan Indonesia harus mengikuti hukum internasional serta keputusan lembaga internasional terkait. Kehadiran TNI dalam misi tersebut diposisikan sebagai bagian dari komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia dan stabilitas kawasan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut jumlah pasukan yang disiapkan masih bersifat estimasi dan menyesuaikan kebutuhan. “The number of personnel we possibly will deploy to Gaza is around 8,000,” kata Prasetyo Hadi, dikutip dari ANTARA, 11 Februari 2026.
Ia menambahkan, pemerintah masih mematangkan seluruh aspek teknis sebelum deployment dilakukan. “We just started the preparation, and once the arrangement is finalized, we need to deploy our peacekeepers to fulfill our commitment,” ujarnya.
Menunggu Mandat dan Mekanisme Internasional
Pemerintah menekankan bahwa pengiriman pasukan hanya dapat dilakukan jika telah ada mandat resmi dari komunitas internasional, termasuk melalui mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa atau kesepakatan multilateral yang sah. Mandat tersebut menjadi dasar hukum utama bagi setiap operasi penjaga perdamaian.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Freddy Ardianzah, menjelaskan bahwa kesiapan pasukan telah dipersiapkan, namun keputusan deployment tetap bergantung pada otorisasi resmi. “The deployment of TNI troops to new conflict zones like Gaza or Ukraine must follow UN mechanisms and receive authorization from the Indonesian government. Once we receive the mandate, we are ready to go,” kata Freddy Ardianzah, dikutip dari ANTARA, 26 September 2025.
Kemlu juga menegaskan bahwa Indonesia secara konsisten berpartisipasi dalam misi perdamaian internasional. Partisipasi tersebut dilakukan sesuai prinsip politik luar negeri bebas aktif serta ketentuan hukum internasional yang berlaku.
Persiapan Pasukan dan Peran Indonesia
TNI telah memulai berbagai persiapan teknis untuk mendukung kemungkinan penugasan tersebut. Persiapan mencakup pelatihan personel, kesiapan unit teknik, serta dukungan medis yang dibutuhkan dalam operasi stabilisasi.
Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak menyatakan bahwa proses pelatihan telah berjalan untuk memastikan kesiapan personel. “We’ve started training people who could potentially become peacemakers. So, we’re preparing engineering and health units like that,” kata Maruli Simanjuntak, dikutip dari laporan media internasional, 11 Februari 2026.
Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam misi penjaga perdamaian dunia melalui berbagai operasi di bawah mandat internasional. Kontribusi tersebut mencakup pengiriman pasukan, tenaga medis, serta dukungan rekonstruksi di wilayah konflik.
Hingga saat ini, pemerintah masih menunggu perkembangan mandat internasional sebelum memutuskan waktu dan skema pengiriman pasukan. Jumlah 8.000 prajurit yang disiapkan menjadi bagian dari kesiapan Indonesia untuk berkontribusi dalam misi stabilisasi global apabila mekanisme resmi telah ditetapkan.
Proses Pelatihan dan Kesiapan Operasional
Persiapan untuk misi ini tidak hanya terbatas pada pelatihan militer, tetapi juga mencakup pelatihan khusus untuk menghadapi situasi kemanusiaan dan diplomasi. TNI melakukan kerja sama dengan organisasi internasional seperti PBB dan badan-badan non-pemerintah untuk memastikan bahwa pasukan yang ditempatkan mampu beroperasi secara efektif di lingkungan yang kompleks.
Beberapa aspek yang diperhatikan dalam pelatihan meliputi:
- Pelatihan tentang protokol operasional penjaga perdamaian
- Pemahaman tentang hukum internasional dan etika perang
- Keterampilan komunikasi lintas budaya dan bahasa
- Latihan simulasi situasi darurat dan tindakan darurat
Selain itu, TNI juga sedang mempersiapkan infrastruktur logistik yang diperlukan untuk mendukung operasi jangka panjang. Hal ini mencakup penyediaan peralatan, transportasi, dan sistem komunikasi yang handal.
Rekam Jejak Indonesia dalam Misi Perdamaian
Sejarah partisipasi Indonesia dalam misi perdamaian internasional telah dimulai sejak tahun 1957, ketika Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Afrika. Sejak saat itu, Indonesia telah aktif dalam berbagai misi di berbagai belahan dunia, termasuk di Sudan, Lebanon, dan Kongo.
Kontribusi Indonesia dalam misi penjaga perdamaian tidak hanya terbatas pada pengiriman pasukan, tetapi juga mencakup bantuan medis, pembangunan infrastruktur, dan pendidikan. Selain itu, Indonesia juga sering menjadi tuan rumah untuk pelatihan dan seminar tentang perdamaian dan keamanan internasional.
Dalam konteks misi di Gaza Strip, Indonesia akan memperkuat posisinya sebagai negara yang proaktif dalam menciptakan perdamaian global. Dengan pengalaman yang telah dimiliki, Indonesia siap untuk memberikan kontribusi nyata dalam upaya stabilisasi kawasan yang sedang menghadapi tantangan besar.







