Pergerakan Harga Komoditas Energi Akibat Ketegangan Geopolitik
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran telah memengaruhi harga komoditas energi. Hal ini berdampak pada kenaikan saham-saham sektor energi dalam perdagangan Senin (2/3/2026). Dalam situasi ini, harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan.
Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak
Menurut data dari Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 7,37% ke level US$ 71,96 per barel pada pukul 17.55 WIB. Sementara itu, harga minyak mentah Brent juga naik 7,49% menjadi US$ 78,33 per barel. Harga gas dunia juga meningkat sebesar 4,35% ke level US$ 2,98 per MMBTU.
Sebaliknya, harga batubara dunia sedikit terkoreksi sebesar 0,55% menjadi US$ 118,50 per ton. Meskipun demikian, beberapa saham di subsektor batubara justru mengalami kenaikan harga.
Efek Kenaikan Harga Komoditas
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menjelaskan bahwa penutupan penuh Selat Hormuz oleh Iran menciptakan efek shock effect pada pasokan minyak dan gas global. Sebanyak 20% aktivitas perdagangan migas global melewati jalur tersebut, sehingga kenaikan harga komoditas menjadi sangat tajam.
Namun, menurut Sukarno, pergerakan harga saat ini lebih merefleksikan risk premium jangka pendek. Pasokan global belum benar-benar terhenti, sehingga reli harga komoditas masih tergolong rapuh dan ditopang oleh peristiwa, bukan supercycle berbasis fundamental.
Kenaikan Saham di Sektor Energi
Lonjakan harga komoditas minyak dan gas mendorong kenaikan harga saham di sektor energi. Contohnya, saham PT Medco Energi International Tbk (MEDC) meroket 15,56% ke Rp 1.995 per saham. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga naik tajam 25% ke Rp 2.200 per saham.
Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) mengalami lonjakan 17,65% ke Rp 1.000 per saham. Sama halnya dengan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang naik 25% ke Rp 310 per saham. Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) juga meroket 24,04% ke Rp 258 per saham.
Di subsektor batubara, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 5,77% ke Rp 2.750 per saham. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 7,03% ke Rp 9.900 per saham. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat kenaikan harga saham 3,18% ke Rp 23.500 per saham. Adapula saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang mengalami lonjakan harga 15,53% ke Rp 4.240 per saham.
Analisis Pasar dan Strategi Investasi
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa penguatan tajam harga saham energi tidak lepas dari ekspektasi lonjakan harga minyak, gas, dan batubara. Lonjakan ini mendorong prospek earnings per share (EPS) emiten energi menjadi lebih baik dalam waktu dekat.
Valuasi saham energi relatif wajar dan masih memiliki potensi upside. Namun, kenaikan cepat dapat menambah risiko volatilitas dan tekanan risk premium yang perlu diwaspadai.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa ketika harga komoditas energi membara, emiten di sektor tersebut berpeluang menikmati penguatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) produknya serta mencetak kenaikan laba bersih. Hal ini terjadi jika emiten tersebut bisa memaksimalkan produksi dan penjualan selama momen harga tinggi.
Namun, tantangannya ada pada cost production yang jika tinggi akan mempengaruhi laba. Secara teknikal, Nafan memperkirakan harga minyak dunia berpotensi breakout dari downtrend channel. Target teoritis harga komoditas ini bisa mencapai US$ 92 per barel. Namun, biasanya pelaku pasar sudah mengekspektasikan risiko konflik di Timur Tengah.
Prediksi dan Strategi Investasi
Abida menyarankan strategi entry on weakness atau trading range dengan target harga dan stop loss untuk mengelola risiko volatilitas tinggi. Beberapa saham yang dapat dipertimbangkan antara lain MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham, AADI dengan target harga Rp 10.000 per saham, dan ADRO Rp 2.500 per saham.
Nafan menyarankan maintain buy sejumlah saham energi seperti AKRA, RATU, ADMR, ADRO, INDY, dan PTBA. Investor tetap bisa masuk ke sektor energi meski harga tinggi, namun perlu disiplin dalam manajemen risiko dan waspada terhadap koreksi jangka pendek yang sering mengikuti rally cepat.







