Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Wisata Malang 2026 Paling Menarik untuk Semua Generasi

    11 Februari 2026

    Rekomendasi HP Snapdragon Rp3 Jutaan 2026, Gaming 60 FPS dan Baterai Tahan Lama

    11 Februari 2026

    Harga emas hari ini Senin 9 Februari 2026: Update terkini Pegadaian, Galeri 24, dan UBS

    11 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 11 Februari 2026
    Trending
    • Wisata Malang 2026 Paling Menarik untuk Semua Generasi
    • Rekomendasi HP Snapdragon Rp3 Jutaan 2026, Gaming 60 FPS dan Baterai Tahan Lama
    • Harga emas hari ini Senin 9 Februari 2026: Update terkini Pegadaian, Galeri 24, dan UBS
    • 7 Tips Penting Sebelum Pergi dari Hotel
    • Prabowo Umumkan Program Ganti Atap Seng dengan Genting – Mengapa Pakar Kritik?
    • Yamaha MT-07 2026 Tampil Total dengan Desain Tajam, TFT Terhubung, dan Transmisi Y-AMT
    • Drama Akhir Pertandingan: Persija Terima Hasil Buruk di Depan The Jakmania, Arema Menang 0-2
    • Menjelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Palembang Mulai Naik
    • Apa Itu Terapi CAR-T yang Bisa Sembuhkan Kanker Darah?
    • Renungan Katolik Harian: Iman dan Harapan Pada Senin 9 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Wisata»Mengungkap Jejak Majapahit di Jalan Hayam Wuruk

    Mengungkap Jejak Majapahit di Jalan Hayam Wuruk

    adm_imradm_imr11 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



    Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit, ia sering melakukan perjalanan keliling kerajaan. Intisari pernah mencoba menelusuri rute perjalanan raja tersebut, tetapi yang ditemukan hanyalah sisa-sisa peninggalan sejarah yang kini berubah menjadi tempat tinggal penduduk.

    Pada pertengahan tahun 1999, tim arkeologi dari Intisari melakukan napak tilas rute perjalanan Hayam Wuruk ke desa-desa di sebelah timur istana kerajaan. Namun, yang mereka temui adalah kondisi situs-situs yang memprihatinkan.

    Setiap bulan setelah musim hujan, raja Hayam Wuruk biasanya melakukan perjalanan keliling. Desa Sima, di sebelah selatan Jalagiri dan sebelah timur pura, sering dikunjungi. Di sana, ada pertemuan dan upacara prasetyan yang ramai. Raja juga sering mengunjungi Wewe dan Pikatan setempat dengan candi-candi yang indah.

    Berdasarkan kitab Nagarakretagama pupuh 17, yang dibaca oleh Drs. Budi Santoso Wibowo, arkeolog SPSP Jawa Timur, raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 meninggalkan ibu kota Majapahit untuk mengunjungi beberapa desa dan kota di ujung timur Pulau Jawa. Meskipun terlambat 640 tahun, rombongan yang menggunakan mobil Hiace tua ini berusaha menerobos waktu untuk menyusul perjalanan raja tersebut.

    Kitab karya Mpu Prapanca yang ditulis sekitar tahun 1365 menjadi panduan bagi rombongan. Mereka juga menggunakan peta topografi terbitan tahun 1943. Akhirnya, rombongan tiba di Candilima, yang kini hanya menjadi dusun kecil di wilayah Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto. Dengan bantuan GPS, posisi Candilima tercatat sebagai 7° 35′ 37,1″ Lintang Selatan 112° 25′ 55,3″ Bujur Timur. Jaraknya sekitar 7 km di sebelah tenggara Trowulan.

    Hayam Wuruk tidak akan pernah menyangka bahwa tempat yang ia sukai kini telah menjadi lokasi makam penduduk. Tidak ada lagi bangunan candi yang tegak, hanya tersisa batu-batu andesit, kepala kala, pecahan keramik Cina dari Dinasti Yuan (abad XIII – XIV), dan kepingan wadah tembikar halus tipe Majapahit.

    Setelah menikmati pemandangan alam, rombongan melanjutkan perjalanan ke arah tenggara mencari lokasi Pikatan dan Wewe. Di luar dugaan, Wewe ditemukan di tepi Sungai Pikatan. Lokasinya berada di Desa Karangbening, Kecamatan Gondang, berjarak 2,4 km dari Candilima. Berdasarkan peta, tampak jelas bahwa Candilima, Pikatan, dan Wewe terletak di lahan berbentuk kipas fluvio vulkanik.

    Prof. Dr. Sutikno dari Fakultas Geografi UGM menjelaskan bahwa bentuk lahan kipas fluvio vulkanik memiliki ciri-ciri topografi menyerupai bentuk kipas yang terbentuk oleh proses fluvial dengan material bahan vulkanik. Pembentukan kipas itu disebabkan oleh aliran sungai yang berasal dari gunung api Anjasmoro dan Welirang yang mengalir ke arah barat melalui daerah dengan perubahan topografi yang tegas.

    Batanya dijadikan bahan semen

    Di Dusun Wewe, para penumpang Hiace keluar dari mobil dan menyebar mencari pecahan keramik. Di belakang rumah salah seorang penduduk, mereka melihat sisa-sisa bangunan tempat tinggal kuno yang berkesan mewah, mirip permukiman elite Majapahit di Trowulan. Hanya saja, ukurannya lebih kecil. Bangunan megah masa Majapahit dilengkapi sumur-sumur berdinding tanah liat dan perlengkapan rumah-tangga berupa keramik-keramik dari Cina dan Vietnam yang terserak di permukaan tanah. Sayangnya, hanya tersisa pecahan-pecahannya saja.

    “Inilah keraton cilik Majapahit!” ujar seorang tua menjelaskan. Akan tetapi, yang membuat kepala pening adalah melihat kenyataan bahwa bata-bata kuno yang ada ternyata siap diangkut truk untuk dijadikan bahan semen growol (semen merah) setelah disusun tinggi. Padahal, penggalian bata itu justru melenyapkan lapisan tanah budaya masa Majapahit. Tragisnya, pemusnahan peninggalan budaya ini terus berlangsung sampai sekarang.

    Profesor dari Belanda juga “menyusul”

    Rombongan tim Hiace bukanlah yang pertama kali mencoba menapak tilas perjalanan Hayam Wuruk. Kisah perjalanan raja agung itu ke desa-desa di timur Jawa yang termuat dalam Nagarakretagama telah memikat sarjana-sarjana terkenal seperti N.J. Krom dan J.F. Niermeyer dari Utrecht Belanda puluhan tahun lalu. Bahkan, mereka telah menyusun dan menerbitkan peta napak tilas tersebut pada 1913.

    Asal tahu saja, ada 22 pupuh dari 98 pupuh dalam Nagarakretagama yang mengisahkan kunjungan wisata Hayam Wuruk ke daerah timur Jawa dan kembali ke Singhasari. Dari jumlah pupuh itu tercatat 175 tempat, sebagian besar desa dan sisanya kota atau tempat-tempat suci. Meski demikian, tidak mudah merekonstruksi rute perjalanan bagian raja ini. J.F. Niermeyer mendapat kesulitan mencocokkan nama tempat dalam Nagarakretagama dengan tempat-tempat yang ada sekarang. Maklum saja, nama-nama Jawa kuno itu telah banyak yang tidak tercatat lagi di peta. Dengan mengandalkan toponimi dan peta topografi, profesor Belanda tersebut hanya mampu membuat rute yang bersifat hipotesis belaka.

    Namun hipotesis bukan berarti khayalan. Banyak nama tempat yang disebut 640 tahun lalu masih bisa diidentifikasi lewat toponimi dan bukti arkeologis. Boleh dikata usaha J.E Niermeyer ternyata meluruskan kembali maksud Mpu Prapanca yang sebenarnya ketika menulis Nagarakretagama. Prapanca menyebut karya itu Desawarna yang intinya memuat uraian tentang desa-desa yang dikunjungi Hayam Wuruk.

    Cuma, judul itu dilupakan umum dan lebih populer dengan sebutan Nagarakretagama berkat kolofon Dr. JLA Brandes: Iti Nagarakretagama-samapta, pada 1806. Nama populer itu ternyata tambahan penyalin sesudah Prapanca, yaitu Arthapamasah yang disiplin dengan huruf Bali di Kancana pada tanggal 20 Oktober 1740.

    Nagarakretagama ditemukan di Puri Cakranegara, Pulau Lombok, pada 1894.

    Pungging = Pongging

    “Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci. Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.”

    Nama-nama tempat yang disebutkan dalam Nagarakretagama pupuh 17 itu memang harus dicari di daerah Mojokerto. Niermeyer mengidentifikasikan Tebu adalah Tepus, letaknya di sebelah timur Majapahit (Trowulan). Nama Japan, menurut profesor itu sudah tidak dapat ditemukan di peta. Namun, nama itu masih disebut penduduk walaupun pada tanggal 12 September 1838 daerah itu menjadi bagian dari daerah Mojokerto. Kuti Haji tidak lain Kutorejo yang letaknya di bagian barat daya Mojosari. Kutorejo sekarang, telah menjadi desa dan kota kecamatan. Panjrak Mandala boleh jadi adalah Desa Panjer yang juga terletak di Mojosari. Niermeyer yakin, Pongging sudah jelas itu Pungging, sebuah desa besar yang kini menjadi Kecamatan Pungging.

    Tim Hiace mencoba menelusuri beberapa nama yang diidentifikasikan oleh Niermeyer lebih dari 85 tahun yang lalu. Dengan panduan peta topografi, tim meluncur ke Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal. Penduduk sudah tidak mengenal nama Tebu yang tercantum dalam peta terbitan tahun 1943. Untunglah kepala desa masih ingat lokasi kuno itu. Ternyata sekarang telah berganti nama menjadi Gampang, salah satu dusun di wilayah Desa Sumbertebu, letaknya di pinggir jalan raya Mojokerto-Pasuruan.

    Seorang petani mengantar tim Hiace ke sebuah lahan yang letaknya dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk. Kagenengan, itulah situs masa Majapahit, berjarak 15 km di sebelah timur ibu kota Majapahit. GPS mencatat posisi Kagenengan 7° 30′ 01″ Lintang Selatan 112° 30′ 01,6″ Bujur Timur. Tempat itu hanya sebidang tanah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, yang kini menjadi tegalan milik penduduk. Di permukaan tanah, dijumpai pecahan-pecahan keramik Cina dan tembikar tipe Majapahit.

    Bukti-bukti arkeologis di wilayah Pungging terdapat di Dusun Patung dan Desa Tunggalpager, jaraknya 8,2 km di sebelah tenggara situs Tebu. Sebuah lumpang batu kuno yang lubangnya dipenuhi kembang sesajen terdapat di pekarangan rumah penduduk Dusun Patung. Di Desa Tunggalpager, bata-bata kuno berukuran besar terdapat di kompleks makam desa. Bangunan-bangunan cungkup makam hingga batu nisan, menggunakan bata-bata peninggalan Majapahit. Kisah di Wewe terulang di situs ini, puluhan truk telah berhasil menjarah bata-bata warisan Majapahit.

    Tim kembali ke ibu kota Majapahit. Harapan untuk menyusul Hayam Wuruk semakin menipis. Jejaknya satu per satu telah terhapus oleh ulah manusia sekarang yang menggusur situs-situs peninggalan desa yang pernah dikunjungi raja besar itu.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Itinerary Imlek 3 Hari 2 Malam di Singapura dengan Budget Rp 3,9 Juta

    By adm_imr10 Februari 20260 Views

    Wisata Simeulue Digemari Wisatawan Asing, Rute Medan Jadi Pilihan, Pemda Aceh Perlu Kembangkan

    By adm_imr10 Februari 20261 Views

    10 Tujuan Wisata Terbaik Dunia untuk Rayakan Hari Valentine

    By adm_imr10 Februari 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Wisata Malang 2026 Paling Menarik untuk Semua Generasi

    11 Februari 2026

    Rekomendasi HP Snapdragon Rp3 Jutaan 2026, Gaming 60 FPS dan Baterai Tahan Lama

    11 Februari 2026

    Harga emas hari ini Senin 9 Februari 2026: Update terkini Pegadaian, Galeri 24, dan UBS

    11 Februari 2026

    7 Tips Penting Sebelum Pergi dari Hotel

    11 Februari 2026
    Berita Populer

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    Kabupaten Malang 6 Februari 2026

    Kabupaten Malang– Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menggeledah Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten…

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026

    Kabar Transfer: AC Milan Beralih dari Vlahovic ke Striker Nomor 9

    9 Februari 2026

    Unduh Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026, Lengkap Muhammadiyah dan Kemenag

    8 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?