Upacara Naik Dango: Tradisi Syukur dan Pelestarian Budaya Masyarakat Dayak Kanayatn
Naik Dango adalah upacara adat tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah. Dalam upacara ini, padi yang telah dipanen ditempatkan ke dalam dango, yaitu lumbung padi tradisional, sebagai simbol berakhirnya masa panen dan ungkapan terima kasih kepada Jubata (Tuhan).
Tradisi ini memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Dayak akan kekuatan spiritual alam dan Tuhan. Kata “Naik” dalam Naik Dango berarti menaikkan atau membawa, sedangkan “Dango” merujuk pada lumbung padi tradisional. Jadi, Naik Dango berarti menaikkan padi ke lumbung sebagai simbol selesainya masa panen.
Tujuan dan Makna Tradisi Naik Dango
Naik Dango bukan hanya sekadar ritual syukur, tetapi juga memiliki beberapa tujuan penting:
- Ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
- Permohonan berkah untuk musim tanam berikutnya.
- Melestarikan budaya dan adat istiadat Dayak.
- Mempererat kebersamaan masyarakat melalui perayaan bersama.
Selain itu, Naik Dango juga menjadi sarana untuk menghormati alam dan memohon perlindungan dari Tuhan serta leluhur.
Pelaksanaan Naik Dango
Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tahun, khususnya pada bulan April hingga Mei. Puncak Naik Dango ke-41 direncanakan berlangsung pada April 2026 di Rumah Adat Dayak Kanayatn Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Perayaan ini biasanya dimeriahkan dengan berbagai aktivitas, antara lain:
- Ritual adat dan doa.
- Tarian tradisional Dayak.
- Musik tradisional.
- Pameran budaya.
- Lomba-lomba tradisional.
Sebelum acara utama dimulai, biasanya dilakukan ritual pembuka seperti Nabok Panyugu. Ritual ini bertujuan untuk meminta restu dan izin dari Jubata, leluhur, serta penguasa alam semesta agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan aman.
Asal Usul Naik Dango
Naik Dango berasal dari kepercayaan masyarakat Dayak Kanayatn terhadap Jubata, Tuhan yang memberi kehidupan termasuk hasil panen. Sejak zaman nenek moyang, masyarakat Dayak sangat bergantung pada pertanian, khususnya padi. Mereka percaya bahwa padi memiliki roh atau kekuatan spiritual, dan hasil panen yang baik adalah berkat dari Jubata.
Dari sinilah muncul tradisi Naik Dango sebagai bentuk rasa terima kasih, penghormatan terhadap alam, dan permohonan perlindungan untuk masa depan. Tradisi ini tidak hanya sekadar pesta panen, tetapi juga identitas budaya masyarakat Dayak yang sarat nilai spiritual, sosial, dan tradisi.
Rangkaian Kegiatan Naik Dango Ke-41
Rangkaian kegiatan Naik Dango ke-41 telah dimulai dengan seminar budaya pada 25 April. Pembukaan resmi dijadwalkan pada 27 April 2026. Selain itu, sebelum puncak gawai, dilakukan tahapan adat Bahaupm, yakni musyawarah adat bersama para pemangku adat dari tiga kabupaten: Kubu Raya, Landak, dan Mempawah.
Ketua Panitia Naik Dango ke-41, Lorensius, menjelaskan bahwa pusat kegiatan Naik Dango ke-41 akan dipusatkan di Rumah Adat Dayak Kanayatn Lingga. Beragam kegiatan akan mewarnai perhelatan tersebut, mulai dari seminar budaya, pembukaan seremonial, pertandingan rakyat, hingga berbagai perlombaan tradisional.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional, Yakobus Kumis, menjelaskan bahwa ritual Nabok Panyugu merupakan permohonan doa restu kepada Jubata, leluhur, panampa Pajaji, dan Pangingo sebagai penguasa alam semesta. Ia menambahkan bahwa Naik Dango ke-41 akan digelar pada 25–28 April 2026 di Rumah Adat Dayak Kanayatn Lingga dan diikuti oleh tiga kabupaten, yakni Kubu Raya, Landak, dan Mempawah.
Yakobus berharap kegiatan ini berjalan lancar, sukses, dan meriah, sekaligus menjadi wadah pemersatu masyarakat, sarana pelestarian adat budaya Dayak, serta media penyampaian pesan-pesan pembangunan oleh pemerintah.
Peran Masyarakat dalam Naik Dango
Yakobus juga mengimbau seluruh masyarakat di tiga kabupaten tersebut untuk turut berpartisipasi dan menyukseskan pelaksanaan Naik Dango ke-41 tahun 2026. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen syukur, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat ikatan antar komunitas dan melestarikan warisan budaya.







