Situasi Kritis Warga Negara Indonesia di Wilayah Timur Tengah
Banyak warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di kawasan Timur Tengah kini menghadapi situasi yang sangat memprihatinkan akibat konflik perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ribuan WNI tersebut berada di berbagai negara di kawasan ini dengan berbagai kepentingan seperti menempuh pendidikan, bekerja, beribadah, atau sekadar berlibur.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mencatat bahwa hingga 28 Februari 2026, terdapat sebanyak 519.042 WNI yang berada di kawasan Timur Tengah. Plt Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menjelaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi keamanan pasca-serangan terhadap Iran. Perlindungan WNI menjadi prioritas utama dalam situasi ini.
Direktorat Pelindungan WNI juga telah melakukan komunikasi intensif dengan seluruh Perwakilan RI di kawasan untuk mendapatkan pembaruan data jumlah WNI, update kondisi riil di lapangan, serta langkah penanganan yang sedang dan akan dilakukan. Seluruh Perwakilan RI juga telah menyampaikan imbauan kewaspadaan kepada WNI dan pekerja migran Indonesia (PMI), memperkuat komunikasi dengan komunitas serta simpul WNI/PMI setempat. Termasuk, menyiapkan sejumlah opsi untuk menghadapi risiko kedaruratan.
Dampak pada Pemulangan Jemaah
Kondisi darurat di Arab Saudi akibat perang Iran melawan AS dan Israel berdampak pada pemulangan jemaah Indonesia. Situasi perang juga berdampak pada negara transit di sekitar Timur Tengah. Jadwal pemulangan jemaah terganggu. Perang di Timur Tengah menimbulkan risiko penutupan ruang udara dan terhentinya aktivitas maskapai penerbangan.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Ichsan Marsha mengungkapkan proses kepulangan jemaah terus berjalan secara bertahap. Sejak 28 Februari hingga 1 Maret 2026, sebanyak 6.047 jemaah telah kembali ke Tanah Air dengan aman. Pemerintah terus mengawal proses ini agar seluruh jemaah dapat pulang secara bertahap dan tertib.
Adapun calon jemaah umrah yang direncanakan berangkat hingga sebelum musim haji pada 18 April 2026 berjumlah 43.363 orang yang berasal dari 439 PPIU. Pemerintah memastikan setiap PPIU menjalankan kewajibannya secara penuh, mulai dari pemberangkatan, pelayanan selama di Arab Saudi, hingga kepulangan jemaah. Tanggung jawab itu tidak boleh diabaikan.
Permintaan Komnas Haji untuk Menjamin Keselamatan Jemaah
Perang panas Amerika Serikat – Israel vs Iran berdampak pada nasib 58.873 jemaah umrah Indonesia. Para jemaah umrah Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi, belum bisa pulang akibat situasi perang. Komisi Nasional (Komnas) Haji mendesak Pemerintah RI segera menjamin keselamatan 58.873 jemaah umrah Indonesia yang kini terjepit di tengah berkecamuknya perang terbuka di Timur Tengah.
Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menegaskan bahwa eskalasi konflik yang terus meluas ini menuntut kehadiran nyata dari Pemerintah RI melalui langkah-langkah mitigasi yang terukur. Dalam kondisi perang yang serba tidak menentu, pemerintah harus mengambil kebijakan terukur terutama dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan jemaah dari dampak perang yang tidak bisa diprediksi kapan berakhir.
Komnas Haji mendesak pemerintah segera menyiapkan contingency plan atau rencana darurat. “Kemenhaj perlu menyiapkan pusat informasi sebagai crisis center. Bahkan jika diperlukan, menyediakan tempat penampungan sementara bagi jemaah umrah hingga mempersiapkan penjemputan untuk memulangkan jemaah ke tanah air,” tegas Mustolih.
Masalah Finansial dan Keberangkatan Jemaah
Isu finansial menjadi perhatian serius, mengingat kemampuan setiap jemaah berbeda-beda. Banyak jemaah memiliki dana terbatas karena kondisi di lapangan tidak sesuai dengan rencana perjalanan awal. Kerentanan paling tinggi menghantui jemaah yang berangkat secara mandiri (backpacker) tanpa melalui biro perjalanan resmi. Kelompok ini diprediksi akan kesulitan mendapatkan akses perlindungan logistik dan informasi evakuasi dibandingkan jemaah yang berada di bawah naungan PPIU.
Mengingat situasi yang kian mendidih, Komnas Haji mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat yang sudah menjadwalkan keberangkatan. Calon jemaah sangat disarankan untuk menunda perjalanan hingga situasi benar-benar kondusif. “Keselamatan nyawa harus ditempatkan di atas segala rencana ibadah di tengah ketidakpastian keamanan internasional saat ini,” tutupnya.
Penutupan Penerbangan dan Penyesuaian Jadwal
Lion dan Etihad Airways menghentikan penerbangan ke wilayah Timur Tengah dari Bandara Kualanamu sementara ini tanpa batas waktu yang belum diketahui. Hal ini dampak dari adanya kondisi yang belum kondusif akibat perang antara Amerika-Israel dengan Iran.
Dari informasi yang dikumpulkan selama ini hanya ada dua maskapai yang melayani penerbangan ke Timur Tengah. Manager Corsec Corcom PT Angkasa Pura Aviasi Bandara Kualanamu, Mohamad Hikmat, menjelaskan bahwa Lion Air Grup dan Etihad Airways merupakan dua maskapai yang melayani rute tersebut. Untuk jadwal penerbangan, terdapat beberapa penyesuaian yang dilakukan akibat situasi keamanan.







