Kabar Positif dari Selat Hormuz untuk Malaysia
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, pemerintah Malaysia berhasil mendapatkan izin bagi kapal-kapal berbendera negara tersebut untuk kembali melintasi Selat Hormuz. Hal ini merupakan hasil dari upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia dengan sejumlah negara penting seperti Iran, Mesir, dan Turki.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan bahwa akses ke jalur pelayaran strategis ini diperoleh setelah komunikasi intensif dengan beberapa pemimpin negara. Upaya diplomasi ini bertujuan untuk menjaga hubungan baik sekaligus memastikan keselamatan jalur perdagangan dan energi.
Proses Pembebasan Kapal Tanker dan Awak
Dalam pernyataan resminya pada Kamis (26/3/2026), Anwar menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas keputusan yang memungkinkan kapal Malaysia kembali melintas di jalur tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa saat ini sedang dalam proses pembebasan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang.
“Kami sekarang sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” ujar Anwar.
Anwar menegaskan bahwa komunikasi yang dilakukan Malaysia dengan Iran dan beberapa negara lain merupakan bagian dari upaya diplomasi untuk membantu mendorong stabilitas di kawasan. Ia juga mengakui bahwa proses negosiasi tidak berjalan mudah karena situasi politik dan keamanan yang sensitif membuat Iran bersikap sangat berhati-hati terhadap berbagai inisiatif yang berkaitan dengan perdamaian dan keamanan jalur laut.
Dampak Selat Hormuz terhadap Energi Global
Selain membahas pembebasan kapal, Anwar juga menyoroti dampak gangguan di Selat Hormuz terhadap pasokan energi dunia. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak dan gas paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan akan berdampak pada banyak negara, termasuk Malaysia.
Meski demikian, Malaysia dinilai masih berada dalam kondisi yang relatif aman dalam hal pasokan energi nasional. Hal ini tidak terlepas dari peran perusahaan energi nasional Petronas yang dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.

“Untuk saat ini, kami harus mengelola situasi karena dampak blokade di Selat Hormuz, perang, serta terhentinya pasokan minyak dan gas semuanya memengaruhi kami,” kata Anwar.
Pemerintah Malaysia menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi geopolitik di kawasan tersebut serta mengutamakan keselamatan warga negara dan kepentingan nasional, terutama yang berkaitan dengan jalur perdagangan dan energi.
7 Negara yang Boleh Lewat Selat Hormuz
Sebelumnya, sebuah kapal tanker minyak asal Thailand berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman setelah adanya koordinasi diplomatik antara pemerintah Thailand dan Iran. Keberhasilan pelayaran ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang berdampak pada lalu lintas kapal tanker minyak dunia, termasuk kapal milik Indonesia yang hingga kini masih tertahan.
Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengungkapkan bahwa kapal tanker milik Bangchak Corporation berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/3/2026). Keberhasilan tersebut terjadi setelah pembicaraan diplomatik antara Thailand dan Iran terkait jaminan keamanan pelayaran.
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tidak Ditutup Total
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, namun akses pelayaran diberikan secara selektif kepada negara-negara tertentu yang dianggap bersahabat atau telah melakukan koordinasi dengan otoritas Iran.
“Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat,” ujar Araghchi.
“Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman,” tambahnya.
Lalu Lintas Kapal Turun Drastis
Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz menurun tajam sejak konflik meningkat. Dalam satu bulan terakhir, hanya sekitar 99 kapal yang melintas atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari. Sebelum konflik, jumlah kapal yang melintasi selat ini mencapai sekitar 138 kapal per hari.
Selat Hormuz merupakan jalur vital karena menjadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Analisis sejumlah lembaga menunjukkan sebagian pelayaran yang masih berlangsung memiliki keterkaitan dengan Iran, termasuk kapal berbendera Iran maupun kapal yang terhubung dengan perdagangan minyak negara tersebut.
Kapal Pertamina Masih Tertahan
Sementara itu, hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker milik Indonesia masih belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. Berdasarkan data pelacakan kapal, Pertamina Pride berada di perairan utara Dammam, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro berada di dekat wilayah Kuwait dan Irak.
Menurut pernyataan Pertamina International Shipping, Pertamina Pride membawa kargo untuk kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro mengangkut muatan milik pihak ketiga.
Daftar Negara yang Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Berdasarkan pernyataan otoritas Iran, kapal dari negara-negara berikut masih diperbolehkan melintas Selat Hormuz dengan syarat melakukan koordinasi:
- China
- Rusia
- Pakistan
- Irak
- India
- Bangladesh
- Thailand (setelah koordinasi diplomatik).







