Kasus Bunuh Diri YBR: Ironi di Balik Kekurangan Sosial dan Ekonomi
Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh YBR (10), seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan duka mendalam. Tindakan tragis ini terjadi karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar YBR akan buku dan pena. Fakta ini mengungkapkan masalah kemiskinan ekstrem yang melanda keluarga korban. Ibunya adalah orang tua tunggal dengan lima anak tanpa sosok ayah.
Secara global, kasus bunuh diri menjadi isu serius yang dihadapi berbagai negara, baik berkembang maupun maju. Data terbaru dari Pusiknas Bareskrim Polri mencatat sebanyak 1270 kasus bunuh diri yang ditangani pihak kepolisian sejak Januari hingga November 2025. Namun, data ini belum termasuk kasus terbaru seperti yang terjadi di Kabupaten Ngada.
Bunuh diri bukan sekadar tindakan individu, tetapi juga fenomena sosial yang menunjukkan adanya gangguan dalam masyarakat. Emile Durkheim, sosiolog Prancis, menyebutnya sebagai indikator patologi masyarakat yang dapat mengganggu stabilitas negara. Menurutnya, bunuh diri mengindikasikan lemahnya integrasi sosial dan krisis regulasi dalam sebuah negara, yang pada akhirnya menyebabkan situasi chaos.
Jenis-Jenis Bunuh Diridalam Perspektif Durkheim
Durkheim menjelaskan empat jenis bunuh diri:
1. Bunuh Diri Egoistis
Bunuh diri egoistis terjadi ketika ikatan sosial antara individu dan masyarakat melemah. Individu merasa tidak memiliki makna bagi negara dan kehilangan rasa kepedulian terhadap sesama. Hal ini bisa memicu kehilangan landasan moral dan emosional dalam masyarakat.
2. Bunuh Diri Altruistis
Bunuh diri altruistis terjadi ketika integrasi sosial sangat kuat. Contohnya adalah aksi bom bunuh diri yang dilakukan untuk keyakinan tertentu. Tindakan ini mengorbankan nyawa orang lain dan membahayakan stabilitas negara.
3. Bunuh Diri Anomik
Anomi merujuk pada kekaburan norma dalam hidup seseorang. Kondisi ini diperparah oleh sistem politik absolut, pengangguran, atau depresi ekonomi. Bunuh diri anomik mengancam kepercayaan publik terhadap pemerintah dan bisa membuat masyarakat memilih bunuh diri daripada hidup dalam kesulitan.
4. Bunuh Diri Fatalistis
Bunuh diri fatalistis terjadi ketika individu merasa masa depannya tertutup akibat penindasan atau kontrol berlebihan dari sistem sosial. Contoh klasiknya adalah budak yang mengakhiri hidupnya karena putus asa.
Ironi di Balik Bunuh Diri YBR
Kasus bunuh diri YBR merupakan contoh bunuh diri anomik, yang dipicu oleh kemiskinan ekstrem. Keluarganya mengalami keterbatasan akses pendidikan, pekerjaan, dan layanan sosial. Banyak rakyat NTT hidup dalam kondisi ekonomi yang kurang sejahtera, sehingga kebutuhan dasar seperti buku tulis dan alat tulis sulit terpenuhi.
Kemiskinan di NTT bukan hanya soal kekurangan finansial, tetapi juga kurangnya bantuan publik yang tepat sasaran. Program beasiswa dan perlindungan untuk anak sering kali tidak menjangkau keluarga rentan. Justru, bantuan sering diberikan kepada keluarga yang cukup mampu.
Selain itu, kebijakan pendidikan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya tidak sesuai dengan realitas kebutuhan masyarakat NTT. Kebutuhan utama dalam dunia pendidikan di wilayah tersebut lebih berkaitan dengan biaya dan pemenuhan penunjang pembelajaran, bukan semata-mata soal makanan.
Harapan untuk Perubahan
Menanggapi kasus YBR, beberapa poin penting perlu diperhatikan:
- Empati kemanusiaan harus menjadi dasar tindakan. Rasa iba tidak cukup; diperlukan kesadaran kolektif untuk membantu keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi.
- Kebijakan publik harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Misalnya, bantuan pendidikan lebih prioritas daripada program makanan.
- Perbaikan ekonomi rakyat menjadi tugas pemerintah. Pembukaan lapangan kerja, pelatihan usaha kecil menengah, serta bantuan modal usaha harus ditingkatkan.
Dengan langkah-langkah tersebut, potensi masalah sosial seperti yang dialami keluarga YBR bisa diminimalisir.







